BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Avian

Mempersiapkan Diri Menuju Era Ekonomi Berbasis Inovasi

Kompas.com - 27/11/2019, 14:02 WIB
ilustrasi membuat ide proyek berbasis inovasi teknologi pexels.comilustrasi membuat ide proyek berbasis inovasi teknologi

BOGOR, KOMPAS.com – Pada Juli lalu, media sosial sempat gaduh akibat unggahan Instagram Story milik seseorang yang mengaku lulusan Universitas Indonesia (UI), menolak gaji Rp 8 juta.

"Jadi tadi gue diundang interview kerja perusahaan lokal. Dan nawarin gaji kisaran 8 juta doang. Hellooo meskipun gue fresh graduate gue lulusan UI Pak!! Universitas Indonesia," demikian bunyi unggahan tersebut.

Warganet dari berbagai kalangan yang melihat postingan tersebut sontak bereaksi. Ada yang pro, ada pula yang kontra.

Namun terlepas dari semua itu, lulusan universitas memang seyogianya tidak lagi hanya menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai pegawai.

Sebaliknya, generasi muda apalagi lulusan universitas seharusnya mampu menciptakan lapangan kerja alias berwirausaha ( entrepreneur), seperti yang dicanangkan Pemerintah selama ini.

Founder sekaligus CEO Jurusanku.com, Ina Liem saat memberikan materi entrepreneurship di hadapan 88 pemenang Beasiswa Juara Avian Brands, Bogor, Sabtu (2/11/2019).LeoNug Founder sekaligus CEO Jurusanku.com, Ina Liem saat memberikan materi entrepreneurship di hadapan 88 pemenang Beasiswa Juara Avian Brands, Bogor, Sabtu (2/11/2019).

Menjadi pebisnis bukan perkara mudah

Kendati demikian, menjadi entrepreneur ternyata bukan perkara mudah. Sebab praktiknya tak sekadar mengambil barang dari produsen kemudian menjualnya.

Lebih dari itu. Seorang entrepreneur harus mampu menciptakan sebuah inovasi. Ini disampaikan Ina Liem, Founder sekaligus CEO Jurusanku.com saat memberikan materi entrepreneurship di hadapan 88 pemenang Beasiswa Juara Avian Brands.

Ina menekankan, kemampuan berinovasi kian penting karena ini yang akan menentukan keberlangsungan jalannya sebuah bisnis. Apalagi, ekonomi di masa depan bukan lagi berbasis pada sumber daya alam, melainkan inovasi teknologi.

Untuk menghasilkan bisnis berbasis inovasi dan mampu menarik minat investor, Ina membagikan beberapa caranya. Pertama, berangkat dari masalah.

Ina mengatakan, esensi menjadi entrepreneurship adalah kemampuan menemukan masalah dan menyelesaikannya (problem solving) dengan solusi yang bernilai (create value).

Sederhananya, bisnis yang baik bukan dimulai dari ide atau model bisnisnya, melainkan berangkat dari masalah yang kerap terjadi dalam kehidupan sehari-hari.

Meski terdengar sepele, jangan sampai kecele. Sebab pada praktiknya tak sedikit yang masih kesulitan menemukan masalah.

Makanya, Ina menekankan, seorang pebisnis juga perlu mengasah sisi kepekaan sosialnya (social awareness). Caranya, sering-sering melihat apa yang orang lain butuhkan.

Formula kedua, Ina mengatakan, inovasi terbaik lahir karena terjalinnya radical collaboration (kolaborasi radikal).

Adapun kolaborasi radikal yang dimaksud adalah bergaul dengan orang lain dari berbagai latar belangkang. Baik itu ilmu, ras, agama, gender, hingga kelas ekonomi.

Untuk hal tersebut, Ina menjadikan Shinta VR, startup berbasis teknologi Virtual Reality (VR) asal Jakarta sebagai contohnya.

Shinta VR didirakan oleh dari tiga orang dengan latar belakang berbeda, mulai dari disiplin ilmu, kampus, bahkan kelas ekonominya.

Ada Akira Sou lulusan Ilmu Komputer Universitas Waseda di Jepang, kemudian Andes Rizky lulusan Ilmu Fisika Universitas Indonesia, dan Andrew Steven lulusan Ilmu Virtual Reality (VR) Universitas RWTH Aachen di Jerman.

“Jadi jangan takut bergaul dengan orang dari berbagai ras, gender, suku, agama, bahkan kelompok ekonomi sekalipun,” tekan Ina kepada seluruh pemenang Beasiswa Juara Avian Brands.

Selama materi berlangsung, para peserta workshop tampak begitu fokus mendengarkan. Malah, beberapa anak terlihat mencatat poin-poin penting yang Ina sampaikan.

Salah satu peserta sekaligus pemenang Beasiswa Juara, Maariful Arifa (20) mengaku tercerahkan dengan adanya pembekalan tersebut.

“Ya aku pribadi sangat terkesima ya, apalagi ketika tahu kalau semangat dan kemauan aja enggak cukup dalam menjalankan sebuah bisnis. Kita harus bisa menawarkan problem solving dan solusi itu juga harus punya value,” tutur mahasiswa jurusan teknologi industri Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut.

Hal senadaturut diungkapkan Jassinca Chrissma Audina (20), mahasiswi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan, Universitas Tadulako, Palu.

“Awalnya kurang tertarik, tapi setelah dengar sampai akhir itu perlu sekali. Saya juga sadar bahwa pemikiranku selama ini salah. Saya pikir kemauan saja sudah cukup, tapi ternyata banyak yang dituntut. (Bisnis yang) kita (bangun) benar-benar harus mampu menyelesaikan masalah,” katanya.

Sebagai informasi, Beasiswa Juara adalah program kerja sama Harian Kompas dengan Avian Brands dalam mewujudkan komitmennya untuk memajukan pendidikan di Indonesia.

Adapun beasiswa tersebut diperuntukkan bagi para mahasiswa Strata Satu (S1) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Indonesia.

Selain bantuan dana pendidikan, para pemenang Beasiswa Juara juga diberikan bekal pengembangan potensi diri lewat workshop yang diisi pembicara profesional di bidangnya.

Sebanyak 88 orang dari total 400 pemenang beasiswa berkumpul di Camp Site Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat untuk mengikuti rangkaian acara Inaugurasi Beasiswa Juara yang digelar selama tiga hari, mulai dari Jumat (1/11/2019) hingga Minggu (3/11/2019).Kompas.com/Hotria Mariana Sebanyak 88 orang dari total 400 pemenang beasiswa berkumpul di Camp Site Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat untuk mengikuti rangkaian acara Inaugurasi Beasiswa Juara yang digelar selama tiga hari, mulai dari Jumat (1/11/2019) hingga Minggu (3/11/2019).

Tahun ini, sebanyak 88 orang dari total 400 pemenang beasiswa berkumpul di Camp Site Gunung Geulis, Bogor, Jawa Barat. Di sana mereka mengikuti rangkaian acara Inaugurasi Beasiswa Juara yang digelar selama tiga hari, mulai dari Jumat (1/11/2019) hingga Minggu (3/11/2019).

Adapun rangkaian acara tersebut terdiri dari pembekalan soft skill tentang entrepreneurship, pembuatan proyek, outbound, dan nobar (nonton bareng) film 3 Idiots. Pada hari terakhir, seluruh pemenang diajak mengecat Sekolah PAUD Nurul Fikri yang terletak di Kampung Babakan Sirna, Megamendung, Bogor.

Soal pembuatan proyek, seluruh pemenang Beasiswa Juara diminta untuk membuat satu ide bisnis yang merujuk dari materi workshop Ina Liem.

Agar bisnis dilirik oleh para venture capitalist, Ina kembali mengingatkan bahwa inovasi saja belum cukup. Para calon pebisnis juga perlu memperhatikan kualitas diri mereka. Sebab kebanyakan investor akan mengukur kapabilitas, integritas, dan keterbukaan wawasan si pemilik bisnis ketika menghadapi berbagai perubahan.

Tak hanya itu, masalah yang diangkat sekaligus solusinya juga harus memiliki sisi unik. Bila semua faktor terpenuhi, barulah venture capitalist akan mempertimbangkan apakah mereka ingin berinvestasi atau tidak.

Dengan digelarnya acara Inaugurasi Beasiswa Juara ini, diharapkan para pemenang beasiswa memiliki kemampuan membangun bisnis berbasis inovasi yang baik demi menghadapi era ekonomi mendatang.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.