Jangan Pegang Tongkat Tunanetra saat Berinteraksi Bersama, Ini Alasannya

Kompas.com - 04/12/2019, 21:33 WIB
Penyandang disabilitas yang tergabung dalam Jakarta Barier Free Tourism atau JBFT mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019). Penyandang disabilitas yang mengikuti uji coba MRT terdiri dari berbagai ragam disabilitas. Mulai dari pengguna kursi roda, tunanetra, insan tuli dan ragam disabilitas lainnya. KOMPAS.COM/GARRY LOTULUNGPenyandang disabilitas yang tergabung dalam Jakarta Barier Free Tourism atau JBFT mengikuti uji coba publik pengoperasian MRT di Stasiun Bundaran HI, Jakarta Pusat, Sabtu (16/3/2019). Penyandang disabilitas yang mengikuti uji coba MRT terdiri dari berbagai ragam disabilitas. Mulai dari pengguna kursi roda, tunanetra, insan tuli dan ragam disabilitas lainnya.

KOMPAS.com - Seringkali kita berpapasan atau bahkan berinteraksi dengan penyandang disabilitas tunanetra baik di luar bangunan maupun dalam bangunan. Biasanya penyandang tunanetra membawa tongkat sebagai alat bantu berjalan.

Pemerhati disabilitas dari General Election Network For Disability Access, Tolhas Damanik mengatakan ada beberapa hal mesti diperhatikan saat berinteraksi dengan penyandang tunanetra seperti sentuhan dan tutur sapa.

Namun, ada perilaku lain yang mesti dihindari seperti memegang tongkatnya.

"Untuk tunanetra, jangan pegang tongkatnya karena boleh dibilang dalam tanda petiknya, tongkat itu adalah matanya dia," kata Tolhas kepada Kompas.com saat ditemui beberapa waktu lalu di Jakarta.

Baca juga: Daniel Mananta Belajar Semangat Pantang Menyerah dari Para Penyandang Disabilitas

Ia menyarankan untuk menggandeng lengan penyandang tuna netra bila ingin membantu menuntun jalan. Tolhas menghimbau untuk tidak merangkul tuna netra saat membantu menuntun. "Sehingga dia bisa satu step berada di belakang," katanya.

Komunikasi dan sentuhan

Tolhas mengatakan, jika kali pertama bertemu tunanetra, sebaiknya menepuk bahu atau punggung tangan tunanetra yang ingin diajak berbincang. Menurut dia, sentuhan di bahu atau punggung tangan perlu dilakukan sebelum memulai perbincangan.

"Karena mereka tak tahu siapa yang ada di sekitar mereka. Kalau kita ngomong tanpa sentuhan, kan dia (tunanetra) tak tahu apakah sedang diajak berbincang," kata Tolhas yang juga penyandang tunanetra.

Komunikasi verbal kali pertema yang bisa dilakukan saat bertemu dan ingin membantu tuna netra adalah memperkenalkan diri. Setelah memperkenalkan diri, lanjut Tolhas, bisa langsung menanyakan perihal bantuan atau kebutuhan yang bisa dibantu.

"Jangan merasa kita tahu apa yang bisa kita lakukan ke mereka. Lebih baik tanyakan dulu. Ketika kita bertanya, kita tahu apa yang bisa kita lakukan," lanjut Tolhas. Tolhas kembali menekankan untuk pentingnya membangun komunikasi aktif dua arah dengan tunanetra. Tanyakan bantuan seperti apa yang bisa diberikan.

"Itu dua kunci penting. Mau diterapkan di mana pun. Entah itu bertemu konteks profesional. Itu yang paling mudah. Apa yang bisa dibantu, bagaimana cara membantu," kata Tolhas. Bila sudah melewati komunikasi tersebut, Tolhas menyebutkan, interaksi akan berjalan dengan mulus dan tak ada salah paham.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X