Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Kompas.com - 07/12/2019, 13:52 WIB
Siswa kelas VIII SMP Cijeruk 1 Terbuka mengikuti pelajaran bahasa Inggris di halaman rumah milik Cucu Sumiati yang digunakan untuk sekolah darurat di Desa Langensari, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Sebanyak 65 siswa kelas VII, VIII, dan IX belajar denga kondisi kelas seadanya sejak seminggu terakhir. Sekolah yang berdiri sejak 2011 dan memiliki 65 siswa ini hingga kini tak punya gedung dan hanya menumpang di SD Langensari (2011-2015), Madrasah Iannah (2015-2019), dan Madrasah Iannatul Khoir (2018- Agustus2019). SMP Terbuka ini menjadi tumpuan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk bersekolah, sebab jarak SMPN terdekat sejauh 10 kilometer dan tak mampu untuk bersekolah di sekolah swasta. KOMPAS/HENDRA A SETYAWANSiswa kelas VIII SMP Cijeruk 1 Terbuka mengikuti pelajaran bahasa Inggris di halaman rumah milik Cucu Sumiati yang digunakan untuk sekolah darurat di Desa Langensari, Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (2/9/2019). Sebanyak 65 siswa kelas VII, VIII, dan IX belajar denga kondisi kelas seadanya sejak seminggu terakhir. Sekolah yang berdiri sejak 2011 dan memiliki 65 siswa ini hingga kini tak punya gedung dan hanya menumpang di SD Langensari (2011-2015), Madrasah Iannah (2015-2019), dan Madrasah Iannatul Khoir (2018- Agustus2019). SMP Terbuka ini menjadi tumpuan anak-anak dari keluarga kurang mampu untuk bersekolah, sebab jarak SMPN terdekat sejauh 10 kilometer dan tak mampu untuk bersekolah di sekolah swasta.

Hasil studi saya dan kolega menemukan bahwa hanya 12 persen guru sekolah dasar yang merasa menguasai materi pengajaran literasi membaca dan 21 persen yang menganggap dirinya menguasai materi pengajaran matematika.

Penggalakkan Gerakan Literasi Sekolah yang diharapkan dapat mewujudkan Nawacita Presiden Joko Widodo tampaknya sulit mencapai target jika tanpa dibarengi dengan mendongkrak kompetensi guru yang tepat dalam memfasilitasi pembelajaran literasi.

Disparitas mutu pendidikan

Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menunjukkan bahwa ada peningkatan akses pendidikan yang signifikan di Indonesia dengan ditandai naiknya persentase penduduk usia 15 tahun yang bersekolah. Namun, peningkatan akses ini belum dibarengi dengan peningkatan kualitas.

Tes PISA yang diselenggarakan tahun lalu merepresentasikan 85 persen penduduk Indonesia usia 15 tahun, sedangkan PISA 2003, misalnya, hanya merepresentasikan 46 persen penduduk Indonesia di kelompok usia tersebut.

Pada 2018, 399 satuan pendidikan dengan 12.098 peserta didik yang mengikuti PISA. Setiap provinsi ada perwakilan sampel.

Peningkatan keterwakilan ini dianggap sebagai salah satu hal yang dianggap dapat menjelaskan penurunan capaian siswa dalam PISA 2018.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengatakan naiknya jumlah keterwakilan dalam PISA 2018 dan ketidakmerataan kualitas pendidikan nasional diduga memengaruhi hasil akhir tes PISA.

Skor siswa di daerah yang kualitas pendidikannya belum baik "berkontribusi terhadap rendahnya" skor rata-rata nasional.

Misalnya, siswa di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan DKI Jakarta memiliki skor rata-rata 411 dan 410 dalam kemampuan membaca.

Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa DIY dan DKI dinilai setara dengan kemampuan membaca siswa di Malaysia dan Brunei Darussalam.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X