Tristian Stobie: Belajar Harus Bermakna Bukan Sekadar Ranking

Kompas.com - 09/12/2019, 15:20 WIB
Tristian Stobie, Director Education Cambridge International dalam konferensi internasional yang digelar Cambdrige International di Bali (9/12/2019) DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARTristian Stobie, Director Education Cambridge International dalam konferensi internasional yang digelar Cambdrige International di Bali (9/12/2019)

KOMPAS.com - Pendidikan meski bersifat universal namun tidak begitu saja dapat diterapkan secara seragam di setiap unit pendidikan di setiap negara. Pendidikan harus berakar pada kearifan lokal setiap daerah, setiap negara.

Penguatan pendidikan berbasis kondisi sosial dan budaya masyarakat ini mengemuka dalam pemaparan disampaikan Tristian Stobie, Director Education Cambridge International dalam konferensi internasional yang digelar Cambridge International di Bali (9/12/2019)

Tristian menegaskan proses belajar bukan hanya transisi informasi dari guru ke siswa yang kemudian dinilai namun juga merupakan proses konstruksi di mana proses belajar itu memiliki makna atas kondisi nyata yang terjadi di masyarakat.

"Budaya dan konteks menjadi penting dalam pembelajaran sehingga pembelajaran harus merefleksikan nilai-nilai yang ada di masyarakat dalam konteks lokal maupun nasional," jelasnya.

Bukan soal kompetisi dan ranking

Banyak terjadi di sekolah adalah siswa dan orangtua berorientasi pada ranking maupun kompetisi antar siswa. Guru pun tidak jarang menekankan pada nilai siswa saat memberikan penjelasan pada siswa.

Baca juga: Skor PISA Melorot, Disparitas dan Mutu Guru Penyebab Utama

Padahal, menurut Tristian bukan hal itu yang penting dalam pendidikan. Semestinya, siswa didorong untuk mencapai potensi optimal mereka bukan dibandingkan dengan siswa lain melainkan dengan diri siswa sendiri.

"Melalui pembelajaran dan pelatihan, siswa ditantang untuk menjadi lebih baik dari diri mereka sendiri sebelumnya," jelas Tristian.

Tristian mengambil contoh bagaimana kemudian Singapura tidak lagi memfokuskan diri pada kompetisi akademik. Menteri Pendidikan Singapura Ong Ye Kung yang tidak lagi menggunakan indikator ranking siwa dalam rapor pendidikan dasar.

Rapor siswa Singapura juga akan menghilangkan beberapa hal; level capaian, nilai maksimum dan minimum, memberi warna atau garis bawah pada nilai yang masih di bawah capaian, keberhasilan dan kegagalan siswa di akhir tahun ajaran serta total nilai.

"Ini adalah revolusi melawan pemikiran orangtua di Singapura yang sangat kompetitif dan berbasis pada nilai," ujar Tristian.

Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X