Kebudayaan Jadi Kunci Masa Depan Hadapi Industri 4.0

Kompas.com - 20/12/2019, 15:26 WIB
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dan Gubernur Bali I Wayan Koster membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan di Bali (18/12/2019). DOK. DIRJEN KEBUDAYAAN KEMENDIKBUD Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid dan Gubernur Bali I Wayan Koster membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan di Bali (18/12/2019).

KOMPAS.com - Kebudayaan dipandang menjadi kunci masa yang berdampak luas bagi masa depan Indonesia dalam menghadapi tantangan revolusi industri 4.0.

"Kebudayaan menjadi kunci masa depan yang memiliki dampak luas, termasuk dampak ekonomi. Dan budaya bisa menjadi nilai sumber kehidupan, membangun integritas moral yang berbasis nilai budaya," ujar Gubernur Bali I Wayan Koster saat membuka Rapat Koordinasi (Rakor) Kebudayaan di Bali (18/12/2019).

I Wayan Koster meyakini jika kebudayaan akan menjadi penentu masa depan Indonesia dalam menghadapi arus global revolusi industri 4.0.

Kebudayaan juga dinilai sebagai salah satu elemen dasar dimiliki Indonesia, bilamana dikelola dengan tata yang baik menjadi penentu masa depan. Namun sayangnya, ia melihat kekayaan kebudayaan Indonesia masih belum dikelola secara serius. 

Pemajuan kebudayaan pusat dan daerah

Rakor yang berlangsung 18-20 Desember 2019 ini bertujuan menjalankan kesepahaman antara pemerintah pusat dan daerah mengenai arah pemajuan kebudayaan 5 tahun ke depan.

Baca juga: Menko PMK: Sudah Disetujui, Dana Abadi Kebudayaan Rp 5 Triliun

 

Selain itu diharapkan melalui rakor ini akan mampu menciptakan pembagian peran yang jelas dan adil antara pemerintah pusat dan daerah di bidang kebudayaan.

 

"Kegiatan ini untuk memperkuat upaya pemajuan kebudayaan dari desa-pusat. Karena itu kita undang perwakilan-perwakilan kementerian atau lembaga terkait, gubernur, walikota, bupati serta dinas-dinas kebudayaan tingkat provinsi maupun Kabupaten Kota yang telah menyusun dan melengkapi Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD)," Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid melalui rilis resmi.

Ia berharap dalam 5 tahun ke depan dapat menciptakan pembagian peran yang jelas dan adil antara pemerintah pusat dan daerah di bidang kebudayaan. "Disamping itu memperkuat upaya pemajuan kebudayaan dari desa-pusat," lanjutnya.

Harapannya akan terwujud sinkronisasi perencanaan dan aksi pemajuan kebudayaan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah.

Dari Indonesia hingga Seniman Masuk Sekolah

"Indonesiana, Pekan Kebudayaan Nasional (PKN) dan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) menjadi sosialisasi agenda-agenda pemajuan kebudayaan 5 tahun ke depan serta mewujudkan komitmen bersama antara pemerintah pusat dan daerah," jelasnya.

Hilmar menegaskan, “Semua pihak memandang Indonesia sebagai negara multi-etnik dengan keragaman budayanya. Sudah saatnya mendapat perhatian dan komitmen kita bersama guna terwujudnya Indonesia yang berkepribadian dalam kebudayaan." 

Rakor dibuka Gubernur Bali I Wayan Koster dihadiri pula beberapa Gubernur, Walikota dan Bupati. Rakor ini sekaligus menjadi upaya mengidentifikasi solusi atas kendala, pembagian peran serta kerjasama antara pemerintah pusat dan daerah.

Tidak hanya itu, diharapkan akan terwujud kesepakatan rencana aksi yang akan dikerjakan secara bersama antara pemerintah pusat dan daerah.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X