Cetak Biru Pendidikan Nasional, Nadiem Minta Guru Mandiri Nilai Siswa

Kompas.com - 24/12/2019, 08:32 WIB
Lusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya DOK. TANOTO FOUNDATIONLusi Ambarani, guru kelas VI MI Nahdlatul Ulama Balikpapan, Kalimantan Timur yang mengajak siswanya mencari luas lingkaran dengan mengaitkan penyelidikan masalah di dalamnya

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meminta semua guru di Indonesia harus bisa melakukan penilaian dan evaluasi siswa secara mandiri dalam proses belajar mengajar.

Hal itu ia sampaikan terkait penerapan Ujian Sekolah dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) di Program Merdeka Belajar sebagai bagian cetak biru pendidikan Indonesia.

"Semua guru harus melakukan penilaian dan evaluasi sendiri. Dia (guru) harus bisa memahami esensi daripada kurikulum itu. Harus melakukan proses intepretasi," kata Nadiem dalam temu media di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Jakarta, Senin (23/12/2019).

Proses pembelajaran oleh guru adalah jawaban dari ketidakpercayaan atas kompetensi guru oleh elemen masyarakat. Menurut Nadiem, guru-guru saat ini mesti melakukan pembelajaran untuk menyesuaikan diri dengan perubahan.

RPP cukup satu halaman

"Mulailah kita sekarang. Karena baru mulai sekarang itulah maka kita akan tentunya mengalami berbagai macam ketidaknyamanan. Karena harus mulai proses pembelajaran," tambahnya.

Baca juga: Nadiem Makarim Minta Waktu 6 Bulan Siapkan Cetak Biru Pendidikan Indonesia

Ia menambahkan saat ini guru tak ada waktu lagi untuk mengurus proses administrasi pendidikan. Nadiem menekankan saat ini yang terpenting adalah terciptanya proses pembelajaran di dalam kelas.

Nadiem juga menegaskan program Merdeka Belajar merupakan sebuah kesempatan inovasi yang diberikan pemerintah untuk para guru. Ia juga mencontohkan RPP yang disederhanakan menjadi satu halaman.

"Kami cuma memudahkan formatnya, 1 halaman cukup, sehingga itu guru bisa menghabiskan waktunya untuk benar-benar (mengajar) preferensi kelasnya. Bukan masalah memgupload RPP kepada sistem kita. Yang lebih penting itu bagaimana dia merencanakan untuk hari besoknya. Itu esensinya RPP," tambah Nadiem.

Nadiem menyebutkan kebijakan Merdeka Belajar yang dilakukan oleh Kemendikbud bukan kebijakan yang bersifat memaksa. Ia menilai Merdeka Belajar merupakan kebijakan untuk melepaskan suatu paksaan yang berstandar.

"Tapi banyak kerancuan terjadi karena dia (guru) belum biasa berpikir sendiri," ujar Nadiem.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X