Dirjen Kebudayaan: Kemitraan Kemendikbud dan Netflix Bukan Bisnis

Kompas.com - 10/01/2020, 21:40 WIB
Dirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyampaikan kemitraan antara Kemendikbud dalam konferensi pers kemitraan Kemendikbud dan Netflix di Jakarta (9/1/2020). DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGARDirjen Kebudayaan Kemendikbud Hilmar Farid menyampaikan kemitraan antara Kemendikbud dalam konferensi pers kemitraan Kemendikbud dan Netflix di Jakarta (9/1/2020).

KOMPAS.com - Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) Hilmar Farid mengatakan kemitraan antara Kemendikbud dengan Netflix pada tahun 2020 fokus kepada pengembangan sumber daya manusia ( SDM) perfilman Indonesia.

Salah satu fokus pengembangan SDM tersebut ada pada proses produksi film, dari tahap kreasi, produksi, hingga pascaproduksi jelas Hilmar dalam konferensi pers kemitraan Kemendikbud dan Netflix di Jakarta (9/1/2020).

Hilmar menjelaskan, secara struktur organisasi, Kemendikbud memiliki Direktorat Perfilman, Musik, dan Media Baru, yang membuat perencanaan jangka panjang lima tahun untuk memperkuat SDM perfilman dan lembaganya di semua lini.

Ia berharap, ke depan akan semakin terlihat peningkatan kualitas SDM perfilman Indonesia.

Skema kemitraan

Licensing (perizinan) menjadi isu yang sangat penting. Bikin film sudah bagus-bagus, kalau enggak tahu cara jualnya bagaimana? Dan cara jual (film) sekarang sudah banyak, baik melalui pemutaran bisokop, pemutaran film keliling, dan seterusnya. Jadi semua akan kita isi kebutuhan SDM perfilman,” ujar Hilmar dalam siaran pers yang diterima Kompas.com.

Baca juga: Kemendikbud Gandeng Netflix, Nadiem: Unlock Film Indonesia ke Panggung Dunia

Melalui skema kemitraan, Netflix berkomitmen mendukung pertumbuhan perfilman Indonesia dengan berinvestasi sebesar 1 juta Dollar Amerika Serikat melalui beberapa inisiatif, seperti mengundang insan film Indonesia untuk mengikuti program “Script to Screen” di Hollywood.

Dalam program tersebut para peserta akan berinteraksi dengan tim kreatif Netflix serta anggota komunitas kreatif global lainnya.

Hilmar mengatakan akan ada sekitar empat atau lima cerita untuk film Indonesia yang akan diproduksi setelah melalui pelatihan bersama Netflix.

Bukan wilayah bisnis

“Hasil kerja sama kita formatnya belum final. Tapi kita bayangkan ada 4-5 cerita yang akan diproduksi. Apakah dalam satu serial atau individual film, kita belum putuskan. Kemudian nanti akan dilisensikan di Netflix. Jadi akan menjadi Netflix original. Keuntungannya apa buat kita? Ya tentu ini bentuk pengakuan dari hasil produk teman-teman film maker Indonesia bisa hadir di Netflix,” tuturnya.

Ia menegaskan, bentuk kemitraan Kemendikbud dengan Netflix tidak masuk dalam wilayah bisnis.

“Jadi kita di sini kan memproduksi konten yang akan diputar di Netflix. Apakah nanti Netflix bisa ditonton atau enggak di Indonesia karena peraturan, itu urusan bisnis. Kita enggak menyeberang masuk ke dalam ranah kewenangan kementerian/lembaga lain,” kata Hilmar.

Menurutnya, setelah melalui penjajakan dengan Netflix sejak tahun 2019, Kemendikbud menemukan adanya kecocokan misi dalam mengembangkan SDM perfilman di Indonesia.

“Selama ini tidak banyak produser apalagi distributor network seperti Netflix ini yang mau berinvestasi di cerita. Mereka biasanya mau tahunya barang jadi. Jadi kita senang ketika ada kemitraan ini, berarti unsurnya pendidikan, tentang peningkatan SDM. Jadi buat kita ini jadi momen yang pas,” ujarnya.

Baca tentang


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X