Olimpiade Ekonomi di Negeri Perestroika: Catatan untuk Manajemen Talenta Indonesia

Kompas.com - 13/01/2020, 06:27 WIB
Siswa Indonesia meraih prestasi bersama peraih Nobel Erick Maskin dalam ajang olimpiade ekonomi tingkat dunia untuk anak-anak SMA, International Economics Olimpiade (IEO) 2019 diselenggarakan di Saint Petersburg, Rusia, pada Agustus 2019. DOK. PRIBADISiswa Indonesia meraih prestasi bersama peraih Nobel Erick Maskin dalam ajang olimpiade ekonomi tingkat dunia untuk anak-anak SMA, International Economics Olimpiade (IEO) 2019 diselenggarakan di Saint Petersburg, Rusia, pada Agustus 2019.

Jika saja Karl Marx, Lenin, atau Gorbachev masih hidup, mungkin saja anak-anak ini akan berkesempatan untuk berjumpa, menguji dan mengkritisi langsung paradigma Marxisme-Leninisme hingga paradigma antithesisnya, Glasnot dan Perestroika, yang mengubah percaturan ekonomi-politik global dan menandai berakhirnya sebuah era Perang Dingin pada awal tahun 1990-an.

Raihan prestasi dan kesempatan istimewa

Dalam suasana kompetisi di negeri Perestroika, anak-anak Indonesia juga berkesempatan untuk menerima kuliah dari peraih nobel ekonomi sekaligus penasehat IEO, Prof. Eric E Maskin dari Harvard University.

Anak-anak diajak untuk masuk ke dalam konstruksi Theory of Mechanism Design, melalui mana Eric Maskin diganjar Nobel Ekonomi tahun 2006.

Anak-anak diajak untuk menengok postulat Maskin tentang bagaimana pilihan keputusan pembagian “kue” ekonomi yang bijak namun tetap rasional harus diambil berdasarkan mekanisme uji petik keluaran dan pandangan aktor sasaran pengambilan keputusan.

Anak-anak diberi semacam short cut pemahaman untuk masuk ke dalam ruang bangunan dasar pemikiran game theory-nya Maskin tentang pilihan kebijakan yang terlihat sangat rumit namun dengan brilian berhasil disederhanakan dalam sebuah teori yang menakjubkan.

Setidaknya itulah yang anak-anak Indonesia bisa alami sebagaimana anak-anak dunia lainnya lalu juga dengan antusias berdiskusi dengan Maskin dan berkesempatan berfoto selfi. Tentu tidak banyak anak anak Indonesia yang memiliki kesempatan emas seperti ini.

Baca juga: Di Denmark, Pelajaran Empati Masuk Dalam Kurikulum Pendidikan Nasional

Dengan inspirasi dan prestasi mereka berhak berharap suatu hari kelak mereka yang akan duduk di meja meja terhormat dunia untuk menjelaskan karya Nobel mereka yang bermanfaat untuk peradaban Indonesia dan dunia.

Dan, satu tahap mengejar mimpi itu sudah ditapaki ketika kelima anak Indonesia menyabet 1 medali emas, 3 perak dan 1 perunggu, yang membuat Indonesia berada di ranking ke-3 dunia setelah China dan Spanyol.

Membangun manajemen talenta Indonesia

Tidaklah diragukan lagi bahwa anak-anak Indonesia itu memang hebat, unggul dan berdaya saing.

Tinggalah bagaimana kewajiban kita sebagai orang tua, orang dewasa, sebagai pemerintah dan masyarakat memberikan perhatian serius untuk menghargai dan melakukan pembinaan berkelanjutan atas prestasi dan mimpi anak anak Indonesia bahkan di bidang apapun itu.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X