Benarkah Tanpa UN Buat Siswa Kurang Gigih dan Termotivasi Belajar?

Kompas.com - 15/01/2020, 19:19 WIB
Sejumlah siswa-siswi kelas XII di SMA Negeri 3 Surabaya melaksanakan tryout untuk persiapan menjelang ujian nasional, Selasa (26/2/2019). KOMPAS.com/GHINAN SALMANSejumlah siswa-siswi kelas XII di SMA Negeri 3 Surabaya melaksanakan tryout untuk persiapan menjelang ujian nasional, Selasa (26/2/2019).

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim memastikan tahun 2020 menjadi tahun terakhir pelaksanaan ujian nasional ( UN).

Tahun 2021, UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

"Dua hal ini yang akan menyederhanakan asesmen kompetensi minimum yang akan dimulai tahun 2021. Jadi bukan berdasarkan mata pelajaran dan penguasaan materi," tutur Mendikbud Nadiem Makarim dalam Rapat Koordinasi Mendikbud dengan Kepala Dinas Pendidikan se-Indonesia di Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Sempat muncul polemik terkait isu penghapusan atau penggantian UN akan membuat siswa menjadi "lembek" dan kurang daya saing. Benarkah demikian?

Dilansir dari laman resmi Kemendikbud, berikut tanggapan Kemendikbud menjawab komentar tersebut:

Mengapa UN 2020 akan menjadi UN terakhir?

Pertama, Kemendikbud memandang UN lebih banyak berisi butir-butir yang mengukur kompetensi berpikir tingkat rendah.

Baca juga: 8 Fakta Terkait UN Terakhir 2020 dan Asesmen Pengganti

 

Hal ini tidak sejalan dengan tujuan pendidikan yang ingin mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi serta kompetensi lain yang lebih relevan dengan Abad 21, sebagaimana tercermin pada Kurikulum 2013.

Alasan kedua Kemendikbud, UN kurang mendorong guru menggunakan metode pengajaran yang efektif untuk mengembangkan kemampuan berpikir tingkat tinggi.

Asesmen kompetensi pengganti UN akan dirancang memberi dorongan lebih kuat ke arah pengajaran yang inovatif dan berorientasi pada pengembangan penalaran, bukan hafalan.

Ketiga, UN kurang optimal sebagai alat untuk memperbaiki mutu pendidikan secara nasional. Karena dilangsungkan di akhir jenjang, hasil UN tidak bisa digunakan untuk mengidentifikasi kebutuhan belajar siswa dan memberi bantuan yang sesuai dengan kebutuhan tersebut.

 

Tanpa UN, siswa kurang termotivasi belajar?

Menurut Kemendikbud, menggunakan ancaman ujian untuk mendorong belajar akan berdampak negatif pada karakter siswa.

Jika dilakukan terus menerus, siswa justru akan menjadi malas belajar jika tidak ada ujian. Dengan kata lain, siswa menjadi terbiasa belajar sekedar untuk mendapat nilai baik dan menghidari nilai jelek.

Hal ini membuat siswa lupa akan kenikmatan intrinsik yang bisa diperoleh dari proses belajar itu sendiri. Padahal, motivasi belajar intrinsik inilah yang justru sangat perlu dikembangkan agar siswa agar menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Tanpa UN, siswa menjadi kurang gigih?

Dalam pandangan Kemendikbud, UN adalah alat untuk melakukan monitoring dan evaluasi mutu sistem pendidikan. Fungsi UN bukan untuk melatih keuletan atau kegigihan.

Sifat-sifat ini tidak dapat dibentuk secara instan di akhir jenjang pendidikan melalui ancaman ketidaklulusan atau nilai buruk.

Sifat seperti kegigihan hanya dapat ditumbuhkan melalui proses belajar yang memberi berbagai tantangan bermakna secara berkelanjutan. Butuh waktu bertahun-tahun untuk bisa membuat sifat seperti kegigihan menjadi bagian dari karakter siswa.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X