Cegah Tawuran Pelajar, SMA Yogya Ini Punya Cara Ampuh Bikin Jera

Kompas.com - 07/02/2020, 13:13 WIB
Komandan Kodim 0604 Karawang Letkol Inf Medi Haryo Wibowo, Senin (20/1/2020) saat melakukan pembinaan terhadap siswa yang terlibat tawuran dua pekan lalu, Senin (20/1/2020). Dokumentasi Kodim 0604 KarawangKomandan Kodim 0604 Karawang Letkol Inf Medi Haryo Wibowo, Senin (20/1/2020) saat melakukan pembinaan terhadap siswa yang terlibat tawuran dua pekan lalu, Senin (20/1/2020).


KOMPAS.com - Kasus tindak kekerasan yang berujung kriminalitas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bernama klitih akhir-akhir ini merebak di Yogyakarta. Bahkan kebanyakan para pelaku masih berstatus pelajar atau siswa sekolah.

Ternyata, tindak kekerasan itu juga tak lepas dari asal muasal geng pelajar. Kebanyakan, geng pelajar juga sering melakukan aksi tawuran sesama pelajar.

Namun ternyata, ada cara jitu agar siswa yang terlibat melakukan pelanggaran khususnya tawuran bisa bertobat atau "kapok". Lantas bagaimana caranya?

Baca juga: Klitih Marak di DIY, Ini yang Bikin Kadisdik Jengkel

Ada pembinaan khusus

Saat dihubungi Kompas.com, Jumat (7/2/2020), Kepala SMAN 1 Pakem Sleman DIY, Kristya Mintarja MEd menceritakan pengalamannya dalam mendidik siswa yang terlibat aksi tawuran pelajar.

"Siswa yang melakukan pelanggaran atau penyimpangan ini kami beri pembinaan. Ini bukan suatu hukuman, tetapi mereka (pelaku tawuran) kami beri pembinaan khusus," ujar Kristya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Pembinaan khusus itu ternyata dilakukan di luar sekolah. Yakni, pihak SMAN 1 Pakem melakukan kerjasama dengan Batalyon Infanteri 403 Yogyakarta.

Diberi materi bela negara dan kedisiplinan

Tujuannya, siswa yang terlibat tawuran diberi pembinaan oleh anggota TNI AD di batalyon tersebut selama 6 hari. Di tempat itu, sebanyak 33 siswa yang melakukan pelanggaran menginap dan diberi berbagai materi khususnya bela negara.

"Kami sebagai pendidik di sekolah tidak punya kapasitas untuk memberi pembinaan khusus, sehingga kami bekerjasama dengan Batalyon Infanteri 403," katanya.

"Disana, siswa diberi konten materi kebangsaan, bela negara, dan kedisiplinan. Jadi, siswa tidak sepenuhnya dilatih fisik. Tetapi mereka diperlihatkan bagaimana prajurit TNI mengorbankan dirinya demi bangsa dan negara. Di sana, siswa bisa dikasih tahu susahnya jadi prajurit, tapi kenapa kamu malah tawuran," terang Kristya.

Ketika di Batalyon 403 itu, siswa diajak untuk berlari lapangan namun hanya seberapa kuat saja. Kalau capek maka siswa boleh berhenti. Ini hanya untuk memperlihatkan susahnya menjadi prajurit TNI AD.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.