Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/02/2020, 08:52 WIB

KOMPAS.com - Meski pemerintah melalui PP Nomor 19 tahun 2012 dan Permendikbud Nomor Nomor 64 tahun 2015 telah menetapkan sekolah sebagai bagian dari Kawasan Tanpa Rokok (KTR) namun nampaknya upaya ini belum optimal melindungi siswa dari bahaya konsumsi rokok.

Hal ini disampaikan dr. Grace Wangge, peneliti senior Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia atau SEAMEO–RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition) dalam acara peluncuran dua usulan kebijakan “Percepatan Penanganan Stunting dengan Pemanfaaatan Pajak dan Cukai Rokok” dan “Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Melalui Pengendalian Tembakau dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah" di Jakarta (18/2/2020).

Dari analisis ulang atas data Global Youth Tobacco Survey (GYTS) yang dilakukan SEAMEO RECFON diketahui anak-anak yang merokok sebenarnya menyadari, rokok berbahaya untuk dirinya, namun rokok tetap dianggap hal yang menyenangkan untuk mereka.

Baca juga: Pemerintah Diminta Manfaatkan Cukai dan Pajak Rokok untuk Atasi Stunting

"Sekolah memang menerapkan KTR (Kawasan Tanpa Rokok) namun di luar siswa dengan mudah menemukan beragam iklan rokok dan perilaku merokok yang tidak sehat, bahkan di dalam keluarga," ujar Grace.

Berikut beberapa data menyedihkan terkait siswa dan konsumsi rokok berdasarkan olahan data PKGR UI:

1. 32,1 persen siswa mengaku pernah mencoba rokok

Laporan menyebutkan anak usia di bawah 10 tahun sudah pernah mencoba rokok dalam berbagai bentuk. Sebanyak 32,1 persen siswa Indonesia di rentang usia 10-18 tahun pernah mencoba mengonsumsi produk tembakau ini.

2. 43,4 persen sudah mulai merokok sejak SMP

Para perokok memulai konsumsi tembakau di usia dini. Sebanyak 43,4 persen di antaranya mulai merokok pada usia 12-13 tahun atau pada saat mengikuti pendidikan SMP (sekolah menengah pertama).

3. Uang saku memiliki andil dalam mendorong keinginan merokok

Laporan UI ini juga menyebutkan, uang saku memiliki peran dalam mendorong keinginan anak untuk mencoba rokok. Anak yang memiliki uang saku di atas Rp 50.000 per hari memiliki 4,74 kali kecenderungan mencoba rokok lebih tinggi dibandingkan yang tidak memiliki uang saku.

4. 64,5 persen anak perokok mengaku tidak pernah dihalangi membeli rokok

Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia atau SEAMEO?RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition) menggelar acara peluncuran dua usulan kebijakan ?Percepatan Penanganan Stunting dengan Pemanfaaatan Pajak dan Cukai Rokok? dan ?Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Melalui Pengendalian Tembakau dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah di Jakarta (18/2/2020).DOK. KOMPAS.com/YOHANES ENGGAR Pusat Kajian Gizi Regional (PKGR) Universitas Indonesia atau SEAMEO?RECFON (Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Food and Nutrition) menggelar acara peluncuran dua usulan kebijakan ?Percepatan Penanganan Stunting dengan Pemanfaaatan Pajak dan Cukai Rokok? dan ?Pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) Unggul Melalui Pengendalian Tembakau dan Penerapan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Lingkungan Sekolah di Jakarta (18/2/2020).

Di antara siswa yang merokok antara usia 13-15 tahun, lebih dari separuhnya (58,2 persen) membeli rokok sendiri dari warung atau toko. Bahkan, 64,5 persen anak perokok mengaku tidak pernah dihalangi membeli rokok.

Anak siswa perokok membeli rokok secara eceran batangan (74,3 persen) dan seperempat lainnya membeli rokok per bungkus (24,6 persen).

5. Terpapar dari berbagai iklan rokok

Hasil penelitian yang dilakukan 14 universitas dan organisasi masyarakat lokal menunjukan, meski sekolah menerapkan KTR, siswa masih banyak terpapar iklan rokok dalam berbagai bentuk.

Baca juga: Bagaimana Asap Rokok Bisa Picu Kanker Paru-Paru?

Sebanyak 74,2 persen remaja terpapar iklan rokok melalui banner dan papan reklame berbayar, 46,6 persen terpapar iklan dalam acara olah raga dan 39 terpapar dari acara musik. Sekitar 14.7 persen bahkan pernah diberikan sampel gratis rokok.

6. Lingkungan memberi dampak besar dalam perilaku

Penelitian juga menunjukan 2 dari 3 anak sekolah mengaku menemukan orang yang merokok di lingkungan sekolah. Hasil studi menunjukan ajakan teman 4,8 kali memicu siswa untuk mencoba rokok.

Hasil data Riskedas 2013 menyebutkan Ibu yang merokok setiap hari dapat mendorong anak 1,98 kali merokok setiap hari. Sedangkan Ayah yang merokok setiap hari di rumah akan memicu 2,5 kali anak merokok setiap hari.

7. 43 persen anak jadi korban perokok pasif

Sekitar 96 juta orang Indonesia merupakan perokok pasif dan 43 persen di antaranya adalah anak-anak di bawah 15 tahun. 

Kementerian Kesehatan pada 2018 menyebutkan Indonesia menduduki peringkat ketiga tertinggi konsumsi rokok setelah China dan India dengan jumlah perokok mencapai 85 juta orang.

Data Riskesdas 2018 menunjukkan jumlah perokok muda, di bawah 18 tahun, mencapai 9,1 persen atau meningkat dibandingkan data 2013 sebanyak 7,2 persen.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+