Mereparasi Mutu Pendidikan Dasar Kita

Kompas.com - 08/03/2020, 14:11 WIB
Pelatihan guru dilakukan Gernas Tasaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) kepada guru SD sekitar Sumba Timur dikoordinasi MPS (Masyarakat Pendidikan Sejati) pimpinan Gde Raka, dosen di ITB (28-29/2/2020) DOK. GERNAS TASAKAPelatihan guru dilakukan Gernas Tasaka (Gerakan Nasional Pemberantasan Buta Matematika) kepada guru SD sekitar Sumba Timur dikoordinasi MPS (Masyarakat Pendidikan Sejati) pimpinan Gde Raka, dosen di ITB (28-29/2/2020)

Hal ini cocok dengan hasil survai IFLS Tahun 2016 yang menyatakan hanya 1 dari 10 murid usia 18 tahun menjawab benar soal 1/3 - 1/6.

Mereka tak faham bahwa 3/4 itu adalah 3 potong dari potongan 1 dibagi 4 dan 1/3 itu adalah dua "keping" 1/6. Sehingga alangkah horornya jika pecahan dioperasikan dalam kurang, kali dan bagi.

Mapel matematika jenjang SD/MI sejak kelas 1 hingga kelas 6 hanya diajarkan berlatih menjawab soal-soal yang sudah diketahui jawabannya dan tak ada penyelesaian masalah, koneksi matematika, komunikasi gagasan matematika.

Tidak terjadi penanaman konsep bilangan dan operasi, pengukuran, geometri dan statistik/probabilitas.

Baca juga: Skor PISA 2018: Daftar Peringkat Kemampuan Matematika, Berapa Rapor Indonesia?

 

Jadi, tak mengherankan jika matematika menjadi sesuatu yang wajib dihapalkan dan guru kelas yang pada dasarnya tak menyukai matematika hanya akan mengajar selintas dari kelas 1 hingga kelas 4 dan menyerahkan ke koleganya untuk menuntaskan di kelas 5 dan 6.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jika kita masih membiarkan kondisi nyata di jenjang SD/MI masih seperti saat ini, maka saya yakin target RPJM 2019-2024 meskipun masih sangat rendah, tetap akan sulit dijangkau, apalagi target mendekati rerata negara OECD.

Pemerintah dan semua pemangku kepentingan wajib "mereparasi" pembelajaran matematika di semua kelas di jenjang SD/MI, tidak hanya membiarkan warga SD/MI menyerahkan tugas penuntasan konsep bermatematika hanya kepada guru kelas 5 dan 6, itupun jika ada guru yang kompeten.

Pembelajaran matematika, dan tentu membaca dan sains wajib diajarkan konsep dasarnya di semua tingkatan kelas sesuai dengan perkembangan kognitifnya.

Jangan teruskan mendidik murid agar menjadi cepat pandai dengan cara abstraksi manusia dewasa, apalagi dengan ukuran sukses murid terpandai, karena hasilnya akan sebaliknya, menambah manusia tak bernalar sehat.

Padahal, Tuhan memberi anugerah otak dengan potensi bernalar normal.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X