Ruang Ber-AC Tingkatkan Risiko Penularan Covid-19? Ini Kata Pakar UGM

Kompas.com - 09/04/2020, 13:07 WIB
AC merupakan salah satu perabot elektronik yang memakan daya listrik lumayan besar. ShutterstockAC merupakan salah satu perabot elektronik yang memakan daya listrik lumayan besar.

KOMPAS.com - Ruangan ber-AC disebut-sebut dapat meningkatkan risiko penularan Covid-19. Kerap menimbulkan kecemasan bagi sebagian orang yang berada di transportasi umum hingga ruang kantor yang menggunakan air conditioner (AC).

Menanggapi hal tersebut, pakar Epidemiologi Penyakit Infeksi Universitas Gadjah Mada ( UGM), Prof. Hari Kusnanto Josef menyebut, hingga saat ini belum ada studi terkait AC dapat meningkatkan risiko penyebaran virus Covid-19.

“Secara teoritis kemungkinan bisa, tetapi sampai sekarang belum ada penelitian terkait penularan Covid-19 dari penggunaan AC,” kata Prof. Hari saat dihubungi Kamis (9/4/2020), seperti dirangkum dari laman Unair News.

Lebih lanjut Guru Besar Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM itu menyampaikan, penelitian terkait penggunaan AC dengan penularan virus corona baru dilakukan pada SARS.

Baca juga: Bisakah Jenazah Pasien Covid-19 Tularkan Virus? Ini Kata Pakar UGM

Hasilnya menunjukkan bahwa ada memang ada pengaruh penggunaan AC dengan penularan SARS. “Kalau SARS sudah ada penelitiannya, ada penularan dari AC, namun jarang sekali kejadiannya. Saat itu di Hotel Metro Hongkong,” terang Prof. Hari.

 

Kendati demikian, ia menjelaskan bahwa di Wuhan pernah ada keluarga yang diketahui positif Covid-19 makan di sebuah restoran ber-AC. Namun, setelah dilakukan "contact tracing" terhadap orang-orang yang berada di restoran yang sama, tidak ditemukan adanya penularan Covid-19.

“Jadi, pakai AC di rumah itu tidak masalah. Tidak usah khawatir selama tidak ada keluarga yang positif ataupun melakukan kontak dengan yang terinfeksi Covid-19,” tandasnya.

Baca juga: Pakar UGM Prediksi Optimis Penyebaran Covid-19 Berakhir 29 Mei 2020

Menurutnya, yang terpenting untuk mengurangi penyebaran Covid-19 adalah dengan melakukan physical distancing dan berdiam diri di rumah, rajin mencuci tangan dengan sabun, gunakan masker jika terpaksa keluar rumah, dan pastikan ruangan memiliki sirkulasi udara yang baik.

Ruang tertutup lebih berisiko

Meski belum ada studi terkait AC dapat meningkatkan penyebaran Covid-19, Prof. Hari menyampaikan bahwa ruangan tertutup dengan sirkulasi udara yang terbatas lah yang lebih dapat meningkatkan risiko penyebaran virus.

“Ruang tertutup dengan sirkulasi minim berisiko besar menyebarkan virus, terlebih ruang sempit dan AC hidup terus. Karenanya, diusahakan jendela-jendela dibuka sehingga ada pergantian udara, tidak hanya muter terus udaranya,” terang dia.

Beberapa studi memang mengungkap bahwa Covid-19 cenderung stabil pada lingkungan bersuhu dingin dan kering. Sementara, suhu kelembaban tinggi dapat mengurangi laju penularannya.

Guna meminimalkan hal tersebut, Prof. Hari menyarankan masyarakat untuk sering membuka jendela rumah, ruang kerja maupun lokasi yang sering digunakan agar sirkulasi udara meningkat.

Ia juga menuturkan virus tidak memiliki kemampuan bertahan hidup lama di udara. Rata-rata di udara virus hanya bisa bertahan 30 menit, tidak seperti di permukaan benda yang mampu bertahan selama berhari-hari.



Sumber ugm.ac.id
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X