Talk Show "Ekologi Pangan Dalam Budaya Kita", Belajar dari TVRI

Kompas.com - 16/05/2020, 21:14 WIB
Tangkapan layar Belajar dari TVRI DOK/TVRITangkapan layar Belajar dari TVRI

KOMPAS.com - Program Belajar dari Rumah di TVRI hadir kembali dengan tayangan Talk Show "Ekologi Pangan" dengan "Episode: Ani-ani Untuk Dewi Sri", Belajar dari TVRI pada Sabtu 16 Mei 2020 yang membahas tentang Pangan dalam kebudayaan kita.

Belajar dari Rumah adalah program Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan ( Kemendikbud) memberikan alternatif pendidikan bagi semua kalangan di masa darurat Covid-19.

Baca juga: Rangkuman Rumah Luasku Wasur Irian Jaya “Cerita Sabtu Pagi” TVRI

Dalam Talk Show tersebut dibawakan oleh Hilman Farid, Dirjen Kebudayaan dengan narasumber yaitu Gustaf Iskandar (Pegiat Budaya dengan Komunitas Masyarakat Adat), Laksmi Adriani Safitri (Akademisi Universitas Gajah Mada) Keadilan Lingkungan Hidup, Helianti Hilman Pendiri Kabara (Inisiatif Bisnis Kekayaan Pangan Lokal), Nana Saleh (Direktur Riset Sains 45, Pendiri Akadmi ilmuan Muda Indonesia) dan Eva Bande (Pejuang Masyarakat Adat dan Lingkungan Hidup).

Budaya adalah suatu cara hidup yang berkembang, dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang, dan diwariskan dari generasi ke generasi sedangkan pangan adalah segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati dan air, baik yang diolah maupun tidak diolah bagaimana budaya dan pangan berjalan di Indonesia berikut rangkuman talkshownya.

Menurut Gustaf Iskandar, “yang menarik adalah kebudayaan berjalan dan berkembang terutama berhubungan dengan pangan. Budaya dan tradisi dimasyarakat kita, bukan hanya melulu soal produksi pangan tapi juga berkait erat dengan sistem nilai akar spiritualitas masyarakat adat."

Perkembangan zaman menuntut perubahan terhadap sistem pertanian modern sehingga pertanian tradisional sedikit bergeser.

Muncul pertanian modern seperti adanya pupuk dan pestisida serta benih unggul dan sebagainya bekal pengetahuan tradisi yang sangat kaya di sisi lain modernis.

“Ketika Belanda mulai membentuk pemerintah kolonial bercocok tanam itu di modernisasi, bagaimana masyarakat mulai mengenal menanam secara masal satu jenis tanaman tentu itu menjadi tradisi baru," kata Laksmi.

Menurut Nana Saleh, “perubahan ekologi terjadi konversi lahan besar besaran menurutnya sains dan pengetahuan lokal itu tidak bertentangan tetapi saling melengkapi.”

Dalam talkshow disebutkan kearifan lokal Indonesia dapat bertahan di berbagai kondisi meskipun di terpa krisis.

“Hari ini membuktikan ketika di dalam krisis yang bertahan adalah komunitas ini, bukan industri raksasa tetapi mereka yang hidup dengan kearifan lokal,” seperti kata Eva Bande.

Helianti Hilman menambahkan, “kita melihat bahan-bahan yang belum dilihat, rempah-rempah yang belum pernah dirasakan sebelumnya rupanya mereka menggunakan sendiri karena tidak memikirkan pasar."

"Kami mengangkat produk pangan terlupakan dimana didalamnya terdapat kearifan lokal sehingga kami menjual produk budaya," jelasnya.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X