Wahai Siswa dan Orangtua, Pahami Revolusi Industri dan Pekerjaan Masa Depan

Kompas.com - 17/05/2020, 17:02 WIB
Siswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA) 70 Bulungan, Jakarta, Senin (1/4/2019). Sebanyak 2.019.680 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) di seluruh Indonesia mengikuti UNBK yang diselenggarakan pada 1, 2, 4, dan 8 April 2019. ANTARA FOTO/RIVAN AWAL LINGGASiswa mengikuti Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) di Sekolah Menengah Atas (SMA) 70 Bulungan, Jakarta, Senin (1/4/2019). Sebanyak 2.019.680 siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) di seluruh Indonesia mengikuti UNBK yang diselenggarakan pada 1, 2, 4, dan 8 April 2019.

Oleh: Suhartono Chandra, Ignatius Roni Setyawan, P Tommy YS Suyasa

SAAT ini kita sudah berada pada era Revolusi Industri Keempat, era yang dicirikan oleh pemanfaatan serangkaian teknologi canggih.

Klaus Schwab, pendiri World Economic Forum, melalui bukunya The Fourth Industrial Revolution yang terbit pada tahun 2016 menyebutkan ada tiga klaster pendorong Revolusi Industri Keempat.

Pertama adalah physical (kecerdasan buatan/AI), dengan empat manifestasi physical utama, yaitu kendaraan swatantra (autonomous vehicles), pencetakan tiga dimensi/3D printing, robot canggih atau advanced robotics, dan penemuan material baru yang lebih ringan, lebih kuat, dapat didaur ulang serta adaptif.

Kedua adalah digital (internet of things atau IoT, blockchain, on-demand economy). Biological merupakan klaster pendorong ketiga yang meliputi pengeditan gen, biologi sintetis/kustomisasi organisme dengan menulis ulang DNA.

Revolusi Industri Keempat dengan turunannya, yaitu Industri 4.0, berdampak sangat luas, termasuk aspek lapangan kerja.

Banyak jenis pekerjaan yang hilang, terutama yang mekanisitis repetitif. Tetapi pekerjaan-pekerjaan baru juga akan muncul.

Hasil riset Carl Benedikt Frey dan Michael Osborne (2013) dari Oxford Martin School, Programme on the Impacts of Future Technology, University of Oxford, mengungkapkan bahwa 47 persen total tenaga kerja di Amerika Serikat berisiko.

Analisis McKinsey Global Institute (2019) memperkirakan, ada 23 juta pekerjaan yang akan hilang digantikan proses otomasi pada tahun 2030.

Akan tetapi, 27 juta hingga 46 juta pekerjaan baru tercipta di mana 10 juta di antaranya merupakan pekerjaan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Lalu, pekerjaan-pekerjaan apa yang kebutuhannya akan berkembang di masa depan?

Pada Oktober 2015, Glassdoor.com merilis rangking 25 pekerjaan di masa depan berdasarkan work-life balance hasil survei persepsi terhadap lebih dari 60.000 responden.

Empat belas jenis pekerjaan membutuhkan penguasaan ilmu komputer, sedangkan sisanya membutuhkan penguasaan ilmu-ilmu sosial.

Rangking pertama sampai kelima berturut-turut adalah data scientist, SEO manager, talent acquisition specialist, social media manager, dan subtitute teacher.

Pertanyaannya adalah, apakah siswa sekolah menengah atas (SMA) memiliki bekal pemahaman yang cukup mengenai pekerjaan-pekerjaan yang dibutuhkan di masa depan.

Hal tersebut menjadi isu yang perlu mendapatkan perhatian sejak siswa masih duduk di bangku SMA dari pemangku kepentingan, dalam hal ini adalah pihak sekolah, siswa yang bersangkutan, dan orangtua siswa yang diharapkan menjadi pendukung anaknya saat nanti melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Hasil survei yang penulis lakukan terhadap 176 siswa SMA menunjukkan bahwa 60,3 persen siswa kelas 10 dan 11 belum pernah mendengar kata Industri 4.0. Adapun yang mengatakan pernah mendengar pemahamannya pun masih belum tepat.

Survei tersebut dilakukan selama minggu keempat April hingga pekan pertama Mei 2020 dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat secara daring di sebuah sekolah yang berlokasi di Lippo Karawaci, Kabupaten Tangerang, Banten.

Belum lagi berdasarkan kuesioner Tarumanagara College Interest Inventory (TCII), siswa tampak masih belum memiliki minat yang tegas (firm/decisive).

Sekitar 50 persen siswa masih belum benar-benar mengetahui pilihan minatnya terkait jurusan/program studi yang akan dipilih untuk mempersiapkan pekerjaan di masa depan.

Jika demikian kondisinya, ada risiko saat mereka nanti memilih program studi di perguruan tinggi dan kemudian lulus menjadi sarjana pekerjaan yang sesuai dengannya sudah tidak ada atau permintaannya sudah turun. Dengan kata, lain mereka telah salah memilih jurusan.

Sesungguhnya tanpa variabel faktor pemahaman dampak Industri 4.0 terhadap pekerjaan di masa depan, masalah mahasiswa salah jurusan atau salah memilih program studi sudah tinggi.

Hasil penelitian Indonesia Career Center Network (ICCN), sebuah jejaring pusat karier di perguruan tinggi negeri dan swasta pada 2017 menemukan bahwa 87 persen mahasiswa Indonesia merasa salah jurusan.

Di Amerika Serikat pun ternyata masalah mahasiswa salah jurusan juga terjadi. Pada Desember 2017, US Department of Education merilis studi yang dilakukan oleh National Center of Education Statistics (NCES) yang menemukan bahwa sekitar 30 persen mahasiswa mengubah pilihan utama mereka pada tahun ketiga mereka kuliah.

Kepuasan terhadap pilihan jurusan/program studi yang diambil oleh siswa dapat diprediksi oleh setidaknya oleh dua faktor.

Menurut studi yang dilakukan oleh Schenkenfelder, Frickey, dan Larson (2020) dalam artikel berjudul College Environment and Basic Psychological Needs: Predicting Academic Major Satisfaction, setidaknya ada dua faktor yang memprediksi kepuasan mahasiswa dalam perkuliahan.

Kedua faktor itu adalah basic psychological needs sebagai faktor individu dan college environment sebagai faktor lingkungan.

Faktor individu

Faktor ini lebih memprediksi kepuasan siswa terhadap jurusan/program studi (adecemic major) adalah faktor pemenuhan kebutuhan dasar psikologis (basic psychological needs) dibandingkan dengan faktor lingkungan (environment).

Faktor kebutuhan dasar psikologis ini terdiri dari volitional autonomy, competence, dan relatedness.

Volitional autonomy in major berkaitan dengan kebutuhan terhadap kebebasan dalam melakukan hal-hal yang dianggapnya penting di jurusan atau program studi.

Siswa menilai apakah program studi yang diambilnya memberikan peluang untuk mengembangkan minat atau hal-hal yang dianggapnya penting.

Perceived competence in major berkaitan dengan seberapa jauh siswa merasa memiliki kompetensi, kemampuan, ataupun keterampilan yang dibutuhkan untuk sukses dalam program studi.

Siswa menilai apakah jurusan yang diambilnya memberikan peluang dan tantangan sesuai dengan bakat atau kemampuan yang telah dimilikinya.

Dalam hal ini dapat diinterpretasikan bahwa siswa akan lebih merasa puas bila menilai jurusan yang diambilnya memberikan peluang untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Mereka juga merasa lebih puas bila mempersepsi bahwa bakat dan kemampuannya relevan dengan tugas-tugas yang diberikan pada program studi yang diambilnya.

Relatedness in major berkaitan dengan seberapa jauh siswa merasakan bertemu dengan orang-orang yang memiliki kesamaan dengan dirinya di jurusan yang diambilnya.

Siswa menilai apakah ia menjumpai orang-orang (dosen dan rekan-rekan mahasiswa) yang sesuai dengan dirinya.

Jika ketiga hal tersebut terpenuhi, siswa/mahasiswa akan memiliki semangat yang tinggi (internal motivation), yang pada akhirnya memprediksi kesuksesan akademik di program studi.

Faktor lingkungan

Walaupun perannya dalam memprediksi kepuasan dan keberhasilan akademik siswa di perguruan tinggi tidak sebesar faktor pemenuhan kebutuhan dasar psikologis, namun faktor ini juga tetap signifikan dalam membuat siswa puas terhadap jurusan pilihannya.

Yang termasuk dalam faktor lingkungan ini antara lain dukungan pihak kampus, yakni dosen dan staf akademik (faculty support) serta teman-teman sebaya (peer support).

Di luar penelitian Schenkenfelder dkk, penulis berpendapat bahwa faktor dukungan lingkungan yang tidak boleh diabaikan dalam keberhasilan siswa adalah dukungan orangtua (parental support).

Dukungan ini dapat dioperasionalisasikan dalam bentuk komunikasi antara orangtua dan siswa.

Berdasarkan penelitian Hill dan Roberts (2019), yang berjudul Parent–Adolescent Communication and Social Impacts on Black American Adolescents' Academic Well-Being, komunikasi antara orangtua dan remaja (mahasiswa) menjadi faktor awal mahasiswa memiliki perasaan mampu (self-effcacy) terhadap tugas-tugas akademik dan menjadi faktor yang meningkatkan keterampilan sosial.

Komunikasi yang terjalin dengan remaja (mahasiswa) dapat membuat remaja merasa didukung dalam penyelesaian studi.

Lebih lanjut, proses hubungan baik yang terjalin antara orangtua dan anak dapat meningkatkan bagaimana remaja (mahasiswa) berkomunikasi dengan lingkungan sosialnya.

Self-efficacy dan social skills dibutuhkan lebih lanjut agar mahasiswa mampu memiliki kinerja akademik.

Hal yang sama juga pernah dikemukakan oleh Mason-Dorman (2014) dalam disertasinya bahwa bahwa dukungan orangtua tidak dapat diabaikan dalam keberhasilan akademik siswa.

Orangtua adalah partner guru dalam dalam proses pembelajaran mencapai prestasi akademik.

Jika dampak Industri 4.0 terhadap berbagai pekerjaan yang diperlukan di masa depan dapat dipahami oleh siswa, siswa diharapkan akan lebih memiliki pandangan dalam mengarahkan minat dan bakatnya.

Tidak kalah penting adalah faktor dukungan lingkungan (orangtua). Dukungan orangtua menciptakan komunikasi memahami siswa sehingga akan membuat siswa akan merasa yakin dalam memilih program studi yang tepat.

Siswa akan lebih berhati-hati dalam memilih jurusan studi untuk mempersiapkan masa depannya.

Siswa akan memilih program studi yang memberikan peluang untuk mengembangkan minatnya serta mengembangkan bakat dan kemampuannya.

Siswa juga akan berhati-hati dalam memilih program studi di mana ia dapat berjumpa dengan orang-orang yang memiliki kesamaan minat dan bakat dengan dirinya.

Orangtua, siswa, dan perguruan tinggi mengalokasikan sumber daya yang tidak sedikit dalam menyelenggarakan proses pendidikan.

Bayangkan jika setiap tahun 7 dari 10 lulusan perguruan tinggi merasa bahwa program studi yang telah ditempuhnya dirasa kurang pas dengan minat dan bakatnya, tentu hal ini secara implisit telah menimbulkan kerugian ekonomi.

Belum lagi kerugian ekonomi jika lulusan tidak mendapatkan/menciptakan lapangan pekerjaan, yang mana akan hilang sebagai dampak dari Industri 4.0.

Dari uraian di atas, informasi mengenai dampak Industri 4.0 terhadap berbagai pekerjaan yang diperlukan di masa depan merupakan isu penting yang berdampingan dengan pentingnya isu mengenai ketepatan pemilihan jurusan/program studi di perguruan tinggi bagi siswa SMA.

Siswa tidak hanya perlu mengenali minat dan bakatnya, tetapi juga memahami pekerjaan apa saja yang dibutuhkan di era Industri 4.0.

Isu ini bukanlah apa-apa jika tidak ada keterlibatan dan dukungan pihak sekolah melalui komunikasi dengan orang tua, guru bimbingan karier, dan siswa yang bersangkutan.

Orangtua siswa yang mengenali dan mendukung minat dan bakat anaknya akan sangat berperan menciptakan komunikasi dengan siswa dalam menumbuhkan perasaan yakinnya terhadap jurusan yang dapat mempersiapkannya menuju masa depan.

Ir Suhartono Chandra, MM
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara

Dr Ignatius Roni Setyawan, SE, MSi
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Tarumanagara

Dr P Tommy YS Suyasa, Psikolog
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X