Menyiapkan "Normal Baru" Pembelajaran yang Berpihak pada Siswa Kita

Kompas.com - 31/05/2020, 17:23 WIB
Ilustrasi siswa DOK. PIXABAYIlustrasi siswa

Oleh: Anwar Holil | Manajer Komunikasi Tanoto Foundation

Kompas.com – Tahun ajaran baru ini menjadi momentum pengelola sekolah dan orangtua untuk membantu siswa beradaptasi memasuki era " kenormalan baru" belajar di masa pandemi.

" Kenormalan baru" atau "new normal" ini bukan berarti siswa dipersiapkan kembali bersekolah, namun membantu menyiapkan siswa agar mampu beradaptasi dengan situasi belajar di tengah wabah Covid-19.

Lalu apa yang perlu kita bantu agar siswa lebih siap menghadapi tantangan yang mungkin ditimbulkan oleh kenormalan baru belajar ini?

Evaluasi belajar dari rumah

Sebelum dimulainya tahun ajaran baru, guru, kepala sekolah, orangtua, dan siswa perlu berdiskusi bersama untuk mengevaluasi pelaksanaan belajar dari rumah. Terutama untuk menentukan, hal-hal apa yang harus dilanjutkan, dan apa yang harus diubah.

Baca juga: Hal Ini Perlu Diperhatikan Saat Tahun Ajaran Baru Dimulai Online atau Tatap Muka

Esensi belajar sesungguhnya memberi tantangan dan pengalaman pada anak. Hanya bila beban tantangan tugasnya hanya mencatat ulang buku paket atau menyelesaikan soal-soal, maka siswa hanya belajar pada level rendah.

Mereka hanya belajar untuk menghafal atau mengulang gagasan yang ada di buku.

Sekarang banyak guru yang mulai terbiasa memanfaatkan berbagai aplikasi untuk pembelajaran, seperti Google Classroom, Edmodo, Quizzes, Zoom, Webex, atau sejenisnya.

Yang terpenting dari belajar jarak jauh ini bukan hanya pada penggunaan teknologi. Jangan sampai penggunaan teknologi hanya menggantikan tempat ceramah guru dari ruang kelas berpindah tempat melalui teknologi virtual.

Banyak unsur yang lebih penting dalam menyiapkan proses belajar sekalipun dalam jarak jauh.

Yang terutama adalah upaya menyediakan pengalaman belajar yang mendorong siswa lebih banyak mengalami (berbuat atau mengamati), melakukan interaksi, komunikasi, dan ada umpan balik dalam mengkonstruksi pengetahuan sehingga siswa dapat belajar secara bermakna.

Belajar bermakna mengutip teori Ausubel (1963), berarti materi pembelajaran dikaitkan dengan struktur kognitif yang telah dimiliki siswa. Di dalam pembelajaran, siswa mendapatkan materi-materi yang bermanfaat untuk kehidupan sehari-harinya.

Membuka diskusi dengan anak

Walaupun sedang belajar dari rumah, siswa MI Muhammadiyah 1 Pekanbaru Riau, tetap dibiasakan membaca buku setiap hari. Paguyuban kelas dilibatkan untuk membantu menyediakan bahan bacaan untuk anak di rumah.DOK. TANOTO FOUNDATION Walaupun sedang belajar dari rumah, siswa MI Muhammadiyah 1 Pekanbaru Riau, tetap dibiasakan membaca buku setiap hari. Paguyuban kelas dilibatkan untuk membantu menyediakan bahan bacaan untuk anak di rumah.

Penting untuk berkomunikasi tentang situasi yang berubah ini dengan anak. Guru dan orangtua perlu mendengar suara anak.

Tanyakan kepada mereka, apa yang membuatnya bersemangat belajar? Apa yang bermanfaat dan dapat dikembangkan dalam proses belajar mereka yang berubah?

Suara anak bisa menjadi bagian desain pembaruan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran yang dirancang oleh guru.

Baca juga: Strategi Belajar dari Rumah Dengan dan Tanpa Internet di Tahun Ajaran Baru

Siswalah yang menjadi muara dari keberhasilan pembelajaran. Karenanya, penting bagi guru melibatkan siswa dalam menyiapkan pembelajaran berikutnya.

Guru dan orangtua juga perlu menciptakan kesadaran dan pemahaman tentang arti dan implikasi belajar di masa pandemi bagi anak. Perkenalkan realitas baru yang terjadi dalam percakapan sehari-hari dengan anak.

Mereka harus menyadari bahaya dan resiko penularan virus sehingga membuat siswa lebih waspada.

Protokol pencegahan juga harus menjadi bagian dari pembiasaan sehari-hari yang dilakukan siswa. Mulai rutin mencuci tangan dengan sabun minimal 20 detik, menggunakan masker, sampai menjaga jarak.

Bagaimana bila harus masuk ke sekolah?

 

Ilustrasi Normal Baru PendidikanDOK. PIXABAY Ilustrasi Normal Baru Pendidikan

Kemendikbud telah menegaskan pembukaan kembali sekolah akan diputuskan berdasarkan pertimbangan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Prinsipnya, keselamatan dan kesehatan anak harus menjadi prioritas utama (Kompas, 27 Mei 2020).

Bila diputuskan siswa kembali bersekolah, sebaiknya tidak diberlakukan untuk semua sekolah. Hanya daerah zona hijau atau tanpa kasus baru Covid-19 yang diperkenankan membuka sekolah.

Kitapun harus belajar dari beberapa negara yang sudah membuka sekolah. Perancis dan Korea Selatan kembali menutup sekolah, setelah ditemukan kembali kasus baru Covid-19.

Pembukaan sekolah di Indonesia harus betul-betul mempertimbangkan keamanan siswa. Tatap muka di sekolah ini, misalnya diprioritaskan untuk siswa yang memerlukan.

Mungkin untuk memfasilitasi mereka yang tidak memiliki akses internet atau memerlukan pendampingan belajar khusus dari guru. Hanya perlu dipastikan guru, orangtua, dan siswa harus melaksanakan protokol pencegahan penularan virus.

Selain itu jumlah siswa perkelas juga dibatasi, maksimal 10 siswa dalam satu kelas. Jam tatap muka juga lebih menerapkan pertemuan berkualitas yang tidak lebih dari 2-3 jam perhari, dan tidak harus setiap hari. Sekolah membuat shift belajar di kelas yang diatur penjadwalannya.

Siswa yang menggunakan kendaraan umum tetap harus belajar dari rumah. Prinsipnya, semua aktivitas yang berpotensi terjadinya penularan virus harus dibatasi.

Terapkan pembelajaran bauran

Guru juga perlu dilatih merancang pembelajaran bauran (blended learning) yang mengkombinasikan tatap muka di kelas dan pembelajaran daring. Model pembelajaran bauran ini bisa menjadi bagian dari kenormalan baru belajar.

Baca juga: Ini 4 Alasan Kemendikbud Tidak Mundurkan Tahun Ajaran Baru 2020/2021

Siswa yang tidak bisa mengakses pembelajaran daring perlu dibantu. Apakah sekolah dapat meminjami fasilitas seperti gawai pintar atau tablet, dan menyediakan akses internet untuk siswa.

Anggaran sekolah perlu diatur ulang agar dapat membantu semua siswa bisa mengakses pembelajaran dengan segala keterbatasannya.

Guru yang belum terbiasa menggunakan teknologi, harus difasilitasi agar mereka bisa memanfaatkannya untuk pembelajaran.

Yang juga lebih penting, membantu guru untuk mampu menyediakan pembelajaran berkualitas yang bermakna untuk siswanya dalam kenormalan baru belajar.

Aspek penting "new normal" pembelajaran

 

Nanang Nuryanto saat mendampingi siswanya belajar di rumah Desan Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, Selasa (5/5/2020).    HO/Nanang Nuryanto Nanang Nuryanto saat mendampingi siswanya belajar di rumah Desan Santan Ulu, Kecamatan Marang Kayu, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kaltim, Selasa (5/5/2020).

Beberapa ahli pendidikan juga telah menyampaikan beberapa aspek penting yang perlu diperhatikan dalam mendefinisikan kenormalan baru dalam pembelajaran di masa pandemi. Apa saja?

1. Partisipasi aktif keluarga

Ketika pembelajaran berlangsung di rumah, maka anggota keluarga harus dilibatkan menjadi fasilitator pembelajaran.

Mereka dapat dilibatkan dalam memberikan bimbingan dan bantuan untuk membuat proses belajar menyenangkan bagi siswa. Tentunya hal ini perlu dukungan sekolah yang melatih peran keluarga dalam mendampingi anak belajar di rumah.

2. Pergeseran ruang belajar

Satu hal yang substansial dalam proses pembelajaran bukan terletak pada gedung sekolah atau ruang kelas.

Belajar sekarang terjadi di rumah, di dalam ruang pribadi anak. Pemanfaatan internet membuat ruang belajar dapat dilakukan melalui perangkat pribadi tanpa harus pergi ke suatu tempat secara fisik.

3. Pembelajaran individual dan berbeda

Individual dan berbeda berarti mengajar setiap siswa harus dilakukan secara unik. Tujuan pembelajaran mungkin tetap sama untuk sekelompok siswa tetapi siswa secara individu dapat berbeda.

Beberapa siswa mungkin belajar lebih baik melalui menonton video sementara beberapa perlu membaca buku bacaan. Aksesibilitas materi pembelajaran dan mendistribusikan sumber belajar dari rumah ke rumah dapat menjadi tantangan bagi guru.

4. Dari ujian ke penilaian formatif

Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri SurabayaDOK. TANOTO FOUNDATION Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya
Evaluasi pembelajaran harus digunakan untuk memantau perkembangan siswa, bukan untuk ‘menetapkan’ seorang siswa itu mampu atau tidak mampu. Penilaian formatif seperti demonstrasi proyek sains, penyelesaian masalah matematika, atau membuat laporan proyek sosial lebih tepat untuk mengukur kemajuan belajar siswa.

Keempat aspek ini, bisa menjadi pertimbangan untuk membantu siswa memasuki era kenormalan baru belajar.

Baca juga: Tahun Ajaran Baru Dibuka 13 Juli, Kemendikbud: Tidak Harus Tatap Muka

Perubahan ini pulalah yang semakin meneguhkan kita bahwa dalam belajar yang paling penting adalah pemberian pengalaman "PROSES" daripada penjejalan "KONTEN".

Siswa dibiasakan berproses mengambil keputusan sendiri. Mencoba cara sendiri dalam memecahkan masalah tanpa rasa takut salah.

Terbiasa mencari cara lain bila suatu cara yang dipilih dianggap kurang efektif, dan sebagainya. Sehingga mereka akan terbiasa dalam menghadapi perubahan dalam hidupnya.

Penulis: Anwar Holil, Manajer Komunikasi Tanoto Foundation untuk Program Pintar dan sedang menempuh S3 Teknologi Pendidikan di Universitas Negeri Surabaya



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X