Kompas.com - 24/06/2020, 18:49 WIB
Ilustrasi belajar di rumah bersama anak. ShutterstockIlustrasi belajar di rumah bersama anak.

KOMPAS.com - Dalam rangka menilai efektivitas pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama masa pandemi Covid-19, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melakukan survei daring yang melibatkan 38.109 siswa dan 46.547 orang tua pada seluruh jenjang pendidikan di seluruh provinsi di Indonesia.

Selain survei yang dilakukan dalam rentang waktu 13-22 Mei 2020 tersebut, Kemendikbud juga bekerja sama dengan UNICEF melakukan survei melalui layanan SMS gratis terhadap 1.098 siswa dan 602 orang tua, terutama yang berdomisili di daerah 3T (terdepan, terluar, dan tertinggal).

Hasil survei mendapati, baik di wilayah 3T maupun non-3T, sebanyak 96,6 persen siswa belajar sepenuhnya dari rumah.

Baca juga: BREAKING NEWS: Pelaksanaan UTBK-SBMPTN 2020 Dibagi Jadi Dua Gelombang

Meski, masih terdapat 3,3 persen siswa yang belajar bergantian di rumah dan di sekolah.

Sebanyak 0,1 persen siswa yang masih belajar penuh di sekolah beralasan karena tidak ada yang mendampingi belajar dari rumah. Siswa-siswa tersebut berdomisili di wilayah 3T yang tidak terdampak Covid-19.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jaringan internet yang tidak memadai, tulis Kemendikbud di laman resminya, juga menjadi salah satu alasan mengapa siswa melakukan pembelajaran dari rumah dan di sekolah secara bergantian.

Selain itu, survei menunjukkan bahwa siswa tersebut juga mengalami kesulitan dalam memahami materi.

Baca juga: Belajar di Rumah Diperpanjang, Kemendikbud: Berikan Materi Life Skill dan Karakter

Sementara itu, survei juga mendapati hampir 90 persen orang tua mendampingi anaknya belajar dari rumah di semua jenjang pendidikan, meski terdapat kendala tak mengerti tentang materi.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan dan Perbukuan (Kabalitbang dan Perbukuan) Totok Suprayitno mengatakan, orang tua memiliki peran yang cukup sentral dalam pelaksanaan belajar dari rumah.

“Saya kira ini hal yang positif ketika orang tua tergerak untuk mendampingi anaknya. Meskipun ada keluhan yang menonjol, di antaranya orang tua tidak paham materi ajar,” papar Totok pada rapat kerja bersama anggota Komisi X Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), melalui telekonferensi di Jakarta, Senin (22/06/2020), seperti dirangkum dari laman Kemendikbud.

Baca juga: Ini Jumlah Siswa Per Kelas Bila Sekolah Memenuhi Syarat Tatap Muka

Sementara itu, lanjut Totok, masih banyak guru yang hanya memberikan penugasan mengerjakan soal-soal saja.

Jika dilihat dari cara-cara siswa belajar dari rumah, kata dia, baik di wilayah 3T maupun non-3T, sebagian besar siswa belajar dengan mengerjakan soal dari guru, sedangkan pembelajaran interaktif dilakukan kurang dari 40 persen siswa.

Hal ini, lanjut Totok, dikhawatirkan akan membuat anak kehilangan konsep inti dari kurikulum yang seharusnya dikuasai lebih dulu.

Namun, kata dia, cukup banyak siswa yang juga memanfaatkan belajar melalui televisi, buku, maupun sumber belajar lainnya.

Solusi Kemendikbud

Sebagai salah satu cara membuat belajar dari rumah lebih bermakna, Kemendikbud akan segera menyediakan modul-modul yang memudahkan anak yang terpaksa belajar sendiri atau minim panduan dari guru.

Baca juga: Nadiem: 94 Persen Siswa Masih Harus Belajar dari Rumah di Tahun Ajaran Baru

Modul-modul akan dibuat menarik sehingga bisa mengurangi kebosanan anak.

"Ini tentunya bukan satu-satunya solusi, tetapi bagian dari upaya untuk membantu anak bisa belajar,” kata Totok.

“Pendekatannya project-based learning atau activity-based learning. Harapannya pendekatan tersebut lebih memandu anak agar tidak memahami konsep sebatas yang tertuang di buku teks saja, tetapi dapat memandu anak bagaimana cara belajar dan memahaminya lebih mendalam. Modul akan dibuat baik untuk belajar daring maupun luring," tambah Totok.

Sementara itu, khusus untuk daerah 3T atau yang tidak terjangkau internet, Kemendikbud akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk pendistribusian modul-modul cetak yang dapat membantu siswa yang harus belajar dari rumah.

Baca juga: Beasiswa Sawit Indonesia, Kuliah Gratis dan Magang di Perkebunan Besar

Agar kemungkinan melebarnya kesenjangan hasil belajar antar siswa tak semakin besar, di mana anak-anak dari keluarga miskin rentan kehilangan pengalaman belajar, Kemendikbud mendorong setiap guru agar melakukan asesmen awal bagi siswa di masa tahun ajaran baru nanti.

Tujuannya agar membantu guru mengetahui kondisi dan kemampuan belajar setiap siswa usai masa belajar dari rumah.

Guru perlu mengajar pada level kemampuan anaknya, bukan sesuai dengan tuntutan kurikulum. Perhatian khusus perlu diberikan kepada anak-anak yang paling tertinggal,” ujar Totok.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.