Guru Besar UB: Empati Masyarakat Ditingkatkan agar Covid-19 Berkurang

Kompas.com - 17/07/2020, 15:12 WIB
Dua petugas medis mencatat data remaja pesepeda yang terjaring razia kepatuhan penggunaan masker di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (06/07). JESSICA HELENA WUYSANG/ANTARA FOTODua petugas medis mencatat data remaja pesepeda yang terjaring razia kepatuhan penggunaan masker di Jalan Ahmad Yani, Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (06/07).
|

KOMPAS.com - Penyebaran virus corona atau Covid-19 saat ini bisa di mana saja. Bahkan kini Orang Tanpa Gejala ( OTG) juga bisa turut menyebarkan Covid-19.

Karenanya, untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19, maka harus ditumbuhkan rasa empati kepada orang lain. Salah satu empati itu ialah memakai masker.

"Salah satu empati masyarakat bisa diwujudkan dengan memakai masker," ujar Guru Besar Universitas Brawijaya ( UB) Prof. Sutiman seperti dikutip dari laman resmi UB, Jumat (17/7/2020).

Baca juga: Guru Besar UB: Sinar UV Mampu Bersihkan Udara dari Covid-19

Pentingnya pakai masker

Menurut dia, memakai masker bukan untuk diri sendiri saja tetapi juga untuk orang lain yang lemah dan rentan terkena Covid-19 atau yang biasa disebut Cormobid.

Seandainya hal ini bisa ditumbuhkan, maka, kata Prof. Sutiman, bukan mustahil suatu saat nanti Indonesia menjadi sebuah negara maju.

Sebab, ciri negara maju adalah masyarakat yang mempunyai kepekaan sosial terhadap orang lain.

"Di negara maju sebuah masyarakat dengan anggota masyarakatnya berstatus tangan diatas atau asking people what can i do for you," kata profesor bidang Biologi Sel dan Molekuler tersebut.

Empati ditingkatkan

Lebih lanjut, dia mengatakan dengan kepekaan yang dimiliki masyarakat maka akan tumbuh rasa untuk tidak menimbulkan masalah dengan orang lain.

Dijelaskan, di Indonesia sudah menerapkan proses pendidikan yang sebenarnya sudah sering diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Diantaranya Posyandu, sepuluh program Pokok PKK, dan 3 M (Menguras, Menutup, dan Mengubur) untuk mencegah Demam Berdarah.

Menurutnya, ini adalah model hidup baru. Tetapi sebenarnya dari dulu sudah ada di tengah masyarakat Indonesia.

Baca juga: UB Buka Pendaftaran Program Akselerasi, Semester 7 Lanjut S2

"Kebiasaan-kebiasaan baru di masyarakat untuk hidup yang lebih baik dan sehat sudah sering dilakukan. Sekarang tergantung dari niat kita harusnya untuk bersatu memerangi musuh bersama yakni Covid-19," tandasnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X