Kisah Ibu Guru Ranti, Tak Surut Langkah Dampingi Siswa ABK Riau

Kompas.com - 10/10/2020, 09:30 WIB
Perjalanan guru SMPN 2 Mempura untuk memberikan layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus di Siak, Riau. DOK. SMPN 2 MEMPURAPerjalanan guru SMPN 2 Mempura untuk memberikan layanan pendidikan bagi siswa berkebutuhan khusus di Siak, Riau.

KOMPAS.com – Demi meminimalisir penularan virus Covid-19, pelaksanaan Pembelajaran Jarak Jauh ( PJJ) sudah menjadi keputusan pemerintah untuk mengatasinya.

Namun, pelaksanaan PJJ membawa tantangan baru bagi guru di SMPN 2 Mempura, Siak, Riau, terutama dalam memberikan layanan pendidikan untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK).

Awalnya Ranti Elvira selaku guru SMPN 2 Mempura sudah mencoba untuk membagikan materi yang ada di grup kelas lewat aplikasi Whatsapp (WA), tetapi hal tersebut tidak efektif.

Baca juga: Cara Atasi Tantrum Anak Berkebutuhan Khusus Saat Belajar dari Rumah

“Jangankan mengikuti materi yang kami bagikan di WA group kelas, absen saja tidak dibaca. Saya pernah menelpon dan malah di-reject. Materi tidak dibaca dan tidak ditanggapi,” ceritanya lewat rilis pers yang diterima Kompas.com pada Jumat (9/10/2020).

Ia pun sadar bahwa guru harus memiliki kesabaran dan ketelatenan di masa PJJ untuk mengajarkan siswa berkebutuhan khusus.

Kedua guru di SMPN 2 Mempura, Ranti bersama dengan Irwan pun mencoba untuk mengatasi masalah tersebut dengan mendatangi siswa ke rumahnya.

“Agar siswa terpenuhi hak belajarnya, saya dan Pak Irwan door to door mendatangi rumah siswa. Saya sebagai wali kelas juga menanyakan kendala dan memberikan opsi untuk solusinya, sementara guru mata pelajaran ada yang door to door untuk memberikan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD),” ujar Ranti.

Akan tetapi, Ranti juga menyampaikan kesulitannya saat menuju rumah pelajar yang ada di sekitar hutan dan kebun sawit.

“Kalau musim hujan saya harus menyiapkan sepatu boots karena di daerah sana sering banjir. Hal ini dikarenakan mayoritas wilayahnya lahan gambut. Jadi kalau hujan air menggenang sampai setinggi lutut orang dewasa,” katanya.

Pasalnya, salah satu sekolah inklusi yang bermitra dengan Tonoto Foundation ini dikelilingi oleh hutan dan kebun sawit.

Tantangan dari kondisi keluarga

Selain kondisi lingkungan, Ranti menjelaskan bahwa tatangan terbesar untuk menghadapi peserta didik ABK adalah kepedulian orangtuanya.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X