4 Alasan Penting Mahasiswa Perlu Asah "Soft Skill" Sejak Kuliah

Kompas.com - 03/11/2020, 16:55 WIB
Ilustrasi mahasiswa sedang mengasah soft skill. DOK. PEXELSIlustrasi mahasiswa sedang mengasah soft skill.

KOMPAS.com – Selain mahasiswa harus terampil secara teknis ( hard skill), dunia kerja juga membutuhkan keterampilan nonteknis atau soft skill seseorang.

Apalagi pada era revoluasi industri 4.0, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Ditjen Dikti Kemendikbud) mengatakan bahwa keterampilan nonteknis menjadi modal dasar bagi lulusan perguruan tinggi untuk masuk kerja.

Dalam unggahan Instagramnya pada Senin (2/11/2020), Ditjen Dikti Kemendikbud telah memaparkan 5 keterampilan yang harus mahasiswa miliki saat ini untuk dapat bersaing secara global.

Baca juga: 5 Keterampilan Ini Penting Dimiliki Pelajar dan Mahasiswa untuk Masa Depan

Kelima keterampilan tersebut disingkat menjadi 5C dan terdiri dari penjabaran di bawah ini.

  1. Pemecahan masalah (complex problem solving).
  2. Berpikir kritis (critical thinking).
  3. Kreativitas (creativity).
  4. Berkoordinasi dengan orang lain (coordinating with others).
  5. Fleksibilitas kognitif (cognitive flexibility).

Kelima keterampilan ini dianjurkan oleh Ditjen Dikti dalam rangka menghadapi masa bonus demografi di Indonesia.

Pada Selasa (3/11/2020), Ditjen Dikti menyarankan mahasiswa untuk menguatkan keterampilan nonteknis dilakukan sejak duduk di bangku kuliah.

“Penguatan soft skill bagi mahasiswa perlu dilakukan sejak di bangku kuliah melalui berbagai metode pembelajaran,” tulis Ditjen Dikti di akun Instagram resminya.

Sebagai pemahaman, Ditjen Dikti memberikan 4 alasan pentingnya mahasiswa untuk mengasah kemampuan nonteknis sejak kuliah.

1. Hidup di era kompetitif tinggi

Zaman terus berkembang dan seiring berjalannya waktu akan terjadi pergeseran segala hal yang konvensional ke arah digital. Sebagai contoh sederhana, belanja lewat aplikasi.

Dengan adanya pergeseran tenaga manusia ini, teknologi akan berpengaruh besar terhadap peluang kerja dan standar.

“Pengaruh teknologi yang besar sehingga membuat peluang kerja dan standar pun tidak selamanya berlaku sama serta menjadikan pengangguran,” jelas Ditjen Dikti.

Baca juga: Mahasiswa, Ini 8 Kegiatan Pembelajaran pada Kampus Merdeka

Maka dari itu, keterampilan nonteknis pada mahasiswa menjadi penting agar terhindar dari pengangguran.

2. Alasan kuat memilih pekerjaan

Alumnus dari Ritsumeikan Asia Pacific University Dharma Mahdi Ramadhan pernah menuturkan bahwa kemampuan teknis sangat bisa dilatih, tetapi kemampuan nonteknis atau karakter membutuhkan waktu yang lebih lama.

Maka dari itu, masa perkuliahan merupakan saat yang tepat untuk mencoba berbagai kemampuan nonteknis.

“Semakin banyak Insan Dikti mencoba berbagai soft skill semasa kuliah, maka akan merasakan keterampilan mana yang cocok untuk dikembangkan,” imbuh Ditjen Dikti.

Alhasil, mahasiswa menjadi tidak bingung nanti mau menentukan pekerjaan setelah lulus kuliah.

3. Memperkuat mental

Dengan mengasah kemampuan nonteknis, mental mahasiswa akan semakin terasah dan memiliki sikap rajin serta pantang menyerah untuk menjaga konsistensi.

“Jika Insan Dikti mempelajari berbagai keterampilan dalam jeda waktu yang lama, konsistensi itu akan terlihat di masa mendatang,” papar Ditjen Dikti.

4. Memiliki relasi luas

Dalam proses mengasah kemampuan nonteknis, mahasiswa pasti akan bertemu dengan orang baru yang mungkin memiliki minat yang serupa.

Dengan begitu, mahasiswa bisa memiliki relasi atau networking yang luas. Relasi yang dijalin akan membantu mahasiswa memiliki peluang karier.

“Insan Dikti perlu memiliki relasi luas karena mereka dapat membantu mencarikan pekerjaan yang cocok dan sesuai dengan skill yang Insan Dikti miliki,” pungkas Ditjen Dikti.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X