Kompas.com - 31/12/2020, 19:01 WIB
Ilustrasi virus corona, penularan Covid-19 di transportasi umum ShutterstockIlustrasi virus corona, penularan Covid-19 di transportasi umum

KOMPAS.com - Dosen Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Yulia Sofiatin mengatakan, vaksin Covid-19 menjadi harapan untuk mendorong tubuh menciptakan antibodi sehingga mampu melawan serangan virus Corona.

Meski begitu, Yulia mengungkapkan, hadirnya vaksin Covid-19 siap suntik dari Tiongkok ke Indonesia sebenarnya belum selesai pada uji tahap tiga atau tahap akhir sebelum diproduksi massal.

Sejarah vaksinasi, jelasnya, menunjukkan ada jenis vaksin yang hanya butuh diberikan sekali untuk seumur hidup, ada yang perlu setiap 10 tahun, dan ada juga yang setiap tahun.

Penggunaan vaksin Covid-19 dalam waktu dekat pun, lanjut dia, baru pada tahap pemakaian dengan izin darurat untuk kelompok berisiko tinggi, seperti petugas kesehatan.

Baca juga: 30 Kampus Terbaik Indonesia Versi “QS Asia University Rankings 2021”

"Dua studi terakhir menunjukkan antibodi terhadap Covid-19 hanya bertahan 3-4 bulan pada orang yang sudah sembuh. Karena itu terjadi beberapa reinfeksi (orang yang sudah sembuh kemudian sakit lagi)," kata Yulia seperti dikutip dari laman Unpad, Kamis (31/12/2020).

Jalan vaksin untuk hapus Corona masih panjang

Yulia menjelaskan, semua calon vaksin menunggu pembuktian keamanan dan efikasinya.

"Kita perlu waktu yang lebih panjang untuk mendapatkan vaksin yang terbukti aman, nyaman, dan efektif. Jadi, jalan menuju penghapusan Covid-19 masih panjang,” kata Yulia.

Ia menjelaskan, vaksin dinyatakan aman jika tidak ada efek samping, atau efek sampingnya ringan, tidak ada kejadian ikutan pasca-imunisasi (KIPI), atau KIPI yang ringan seperti demam dan nyeri.

Namun, jelasnya, sebenarnya tidak ada zat yang sama sekali aman. Bahkan air dan oksigen saja bisa menimbulkan bahaya pada keadaan tertentu.

Baca juga: Kampus Swasta Ini Raih Predikat 4 Star di Pemeringkatan Dunia

“Keamanan vaksin dapat kita lihat pada laporan uji klinik fase 1 dan 2. Tanpa bukti hasil uji klinis fase 1 dan 2 yang baik, maka uji klinis fase 3 tidak dapat dilaksanakan,” ujar Yulia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X