Kompas.com - 28/01/2021, 20:25 WIB
 Ilustrasi belajar di rumah bersama anak (Dok. Shutterstock) Ilustrasi belajar di rumah bersama anak

Masalahnya, untuk siswa SMA, agak sulit juga kalau orang tua harus membantu putra putrinya untuk belajar. Maklum saja, materi yang dipelajari juga jauh lebih sulit ketimbang untuk siswa SD maupun SMP.

“Jadi, home visit ini, bagi kami sangat bermanfaat," tuturnya.

Baca juga: 100 Kampus Negeri dan Swasta Terbaik Indonesia Versi Webometrics 2021

Memahami PJJ tak sama dengan tatap muka

Head of Academic dari Kelas Pintar Maryam Mursadi mengatakan dampak negatif dari pembelajaran jarak jauh atau e-learning ini tidak bisa dihindari.

“Kondisi sarana dan prasarana yang tidak merata di setiap daerah, juga menjadi penyebab munculnya dampak negatif tersebut,” ungkap Maryam.

Menurutnya, guru dan orang tua harus re-orientasi tentang pembelajaran jarak jauh ini. Guru dan orang tua harus paham bahwa, PJJ ini tidak sama dengan pembelajaran tatap muka, bahkan sangat berbeda. Ini yang perlu dipahami.

Untuk mengatasi permasalahan yang muncul karena PJJ, ia mengatakan, guru dan orangtua bisa menambahkan pembelajaran interaktif seperti ebook, animasi atau video yang berisikan materi pelajaran, seperti yang disajikan Kelas Pintar.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Ini yang kami sebut dengan Scaffolding. Di mana anak belajar bukan hanya dari 1 sumber saja, dari guru saja, tetapi bisa juga dari teman, orang tua dan sumber lain-lain,” ujar Maryam.

Untuk mengatasi anak malas, atau tidak termotivasi. Biasanya anak itu akan termotivasi itu jika ada reward dan punishment.

“Lalu kalau guru, kita nih lagi jaman susah nih, internet susah, kita maklumin saja. Nah, itu tidak boleh. Ini merupakan bagian dari pembangunan karakter. Ini pun dapat menjadi motivasi bagi siswa dan membiasakan siswa untuk belajar secara mandiri,” ujar Maryam menegaskan.

Sedangkan untuk pembangunan karakter siswa, menurut Maryam, dengan adanya “reward and punishment” bisa membantu masalah tersebut.

“Guru harus cukup tegas memberlakukannya. Cara tersebut juga dapat memotivasi siswa untuk bisa belajar mandiri. Walaupun, pembangunan karakter ini tidak dapat serta merta terbentuk, tetapi dapat membentuk karakter siswa di kemudian hari,” ujar Maryam.

Di Kelas Pintar sendiri, kata dia, untuk pembangunan karakter ini ada dalam latihan soal atau test. Terutama dalam soal-soal yang masuk dalam kategori HOTS atau High Order Thinking Skill.

Jadi bukan sekedar soal esai atau pilihan ganda saja. Tetapi juga studi kasus yang bisa disampaikan guru dalam tugas pada siswa dan dikerjakan secara berkelompok.

“Jadi proses pembelajaran jarak jauh ini tidak hanya satu arah saja, bisa lebih interaktif dan tentunya akan membantu guru karena penyerahan hasil tugas juga jumlahnya berkurang, tetapi siswa semuanya bisa mendapatkan nilai. Yang lebih penting, siswa dapat ”, ujar Maryam menambahkan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X