Kompas.com - 20/03/2021, 07:36 WIB
Ilustrasi bullying shironosovIlustrasi bullying

KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim kembali menyebut tentang tiga dosa besar dalam pendidikan di Indonesia, yakni intoleransi, perundungan (bully) dan pelecehan seksual.

Tiga dosa besar tersebut, menurut Nadiem sangat memengaruhi perkembangan siswa, khususnya perempuan.

Staf Khusus Presiden Joko Widodo, Angkie Yudistia mengatakan, salah satu isu besar dalam dunia pendidikan adalah perundungan (bullying) yang juga rentan dialami perempuan.

"Sejak kecil, saya menerima stigma karena menyandang disabilitas. Tetapi saya beruntung tumbuh dalam lingkungan keluarga suportif. Saya diajarkan terus meningkatkan kemampuan diri dengan sekolah setinggi mungkin dan tidak membalas bullying dengan emosi,” jelas Angkie dalam Webinar “Perempuan Pemimpin dan Kesetaraan Gender”, seperti dirangkum dari laman Sahabat Keluarga Kemendikbud.

Baca juga: Belajar dari Orangtua Jepang Cara Menanamkan Disiplin pada Anak

Angkie mengakui, dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, peran perempuan masih terkendala stigma yang ada di masyarakat, khususnya bagi perempuan difabel.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia mengungkap kesulitan yang kerap dihadapi karena sebagai perempuan penyandang disabilitas, ia harus memakai alat bantu dengar.

“Tetapi, bagi perempuan, hanya ada dua pilihan. Mau menyerah atau optimis? Alangkah sayangnya kalau kita menyerah,” ujar Angkie seraya mendorong kaum perempuan untuk juga menguasai teknologi dan literasi finansial di era modern ini.

Bangun mental kuat anak sikapi "bully"dengan tepat

Perkembangan teknologi yang kian memudahkan komunikasi membuat perundungan kini tak hanya terjadi secara langsung di sekolah, melainkan di media sosial.

Baca juga: Agar Anak Kompeten, Najelaa: Beri Anak Umpan Balik, Bukan Nilai

Untuk membekali anak agar mampu menyikapi perundungan dengan tepat, Irjen Kemendikbud Chatarina Girsang menyatakan bahwa orangtua perlu mendorong anak agar menjadi berani dengan diberikan afirmasi terhadap karakter positif dan membangun kepercayaan diri.

“Saya sering mengatakan pada anak saya, ‘Halo anak cantik, anak ganteng, anak pintar’. Itu bukan sekadar pujian, tetapi membangun kepercayaan diri bahwa mereka bukanlah seperti yang mereka pikirkan ketika mereka tidak percaya diri. Kita bisa mengajarkan pada anak kita bagaimana menyikapi bullying dengan menunjukkan diri tidak takut, dan kalau sesuatu membuat kita tidak nyaman, kita harus berani menyampaikan,” ujar Chatarina.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.