Kompas.com - 19/05/2021, 12:27 WIB

KOMPAS.com - Lebaran di tengah pandemi memiliki banyak cerita. Salah satunya larangan mudik yang menyebabkan banyak orang tak bisa pulang ke kampung halaman. Sejumlah pemudik ada yang "tertangkap" kamera sedang marah-marah diminta diputar balik Polisi, menjadi viral di berbagai platform media sosial.

Menanggapi fenomena ini, pakar psikologi Universitas Padjadjaran Ahmad Gimmy Pratama mengatakan, kondisi tersebut bisa diakibatkan oleh sejumlah faktor.

“Dalam psikologi, marah itu adalah perilaku. Jadi, semua yang berkaitan dengan perilaku bisa dilihat latar belakangnya,” ungkap Gimmy seperti dirangkum dari laman Unpad, Selasa (19/5/2021).

Perilaku marah seseorang, kata dia, dapat dilatarbelakangi aspek personal dan lingkungan.

Baca juga: Astra Honda Motor Buka Lowongan Kerja 2021 untuk Lulusan D3-S1

Kepala Departemen Psikologi Klinis Fakultas Psikologi Unpad itu menerangkan, dari aspek personal, marah dipengaruhi sistem psikofisiologis. Mulai dari tingkat ketahanan fisik hingga kemampuan berpikir, mengelola emosi, serta kemampuan individu dalam membaca nilai-nilai yang ada di sekitar.

Sementara aspek lingkungan, perilaku marah dipengaruhi kondisi lingkungan sekitar, cuaca, hingga reaksi lingkungan sosial maupun lingkungan fisiknya.

Dipicu frustasi

Jika dikaitkan dengan peristiwa pemudik yang marah-marah saat ditegur Polisi, Gimmy menjelaskan hal tersebut bisa diakibatkan oleh luapan emosi yang mengendap saat pemudik melakukan perjalanan.

Kondisi lalu lintas yang macet ditambah fisik yang lelah dan cuaca panas akan membuat emosi seseorang mengendap. Sehingga ketika menghadapi hambatan selanjutnya, emosi yang mengendap tersebut akan bisa meledak.

Baca juga: Peneliti IPB Temukan Minuman Penurun Gula Darah Berbasis Rempah

“(Pemudik) mengalami frustasi. Adanya kebijakan penghambat akhirnya frustasi menimbulkan agresi dan menimbulkan kondisi yang tidak menyenangkan,” papar Gimmy.

Meski demikian, marah juga dipengaruhi oleh kemampuan individu dalam mengendalikan dirinya. Karena itu, tidak semua orang akan langsung marah saat menemui kondisi serupa. Selama aspek rasionalnya masih ada, kemampuan orang dalam mengendalikan emosinya akan lebih baik.

Tak cukup dengan minta maaf

Gimmy menyayangkan bila tindakan pemudik yang marah tersebut hanya berakhir dengan permintaan maaf. Hal ini, kata dia, tidak membuat seseorang menjadi lebih matang dan jera.

Ia mengatakan efek jera harus diberikan kepada pelaku. Pasalnya, reaksi marah berlebihan akan berdampak buruk. Salah satunya jika reaksi tersebut dilihat langsung oleh anak kecil.

“Kalau anak kecil melihat reaksi-reaksi tersebut, maka nanti dia akan berpikir bahwa kalau kesal boleh demikian. Itu yang mengkhawatirkan,” tuturnya.

Sehingga, ia menyarankan perlu dikendalikan dan diberi punishment (hukuman). Hukuman yang diberikan tidak perlu dilakukan hukuman kurungan penjara, melainkan sanksi sosial.

Baca juga: Pakar IPB: Ini Cara Alami Obati Tekanan Darah Tinggi

Polisi sebaiknya melakukan pendekatan restorative justice atau pendekatan yang menitikberatkan pada kondisi terciptanya keadilan atau keseimbangan bagi pelakunya.

“Jangan hanya minta maaf lalu selesai. Harusnya ada hukuman sosial, seperti bersih-bersih kantor polisi atau kerja sosial lainnya. Biar orang melihat bahwa pelaku tersebut dihukum,” ujarnya.

Cara kelola amarah

Gimmy mengatakan, perilaku marah bisa dikelola dengan baik. Hal pertama yang perlu dilakukan adalah mengenali situasi dan menyiapkan tindakan antisipasi.

Pandemi Covid-19 mendorong seseorang harus bisa menyiapkan sejumlah tindakan antisipatif. Salah satunya menerima adanya kebijakan pembatasan mobilitas.

Dengan mengenali situasi dan menyiapkan tindakan antisipasi, diharapkan emosi yang keluar akan jauh lebih layak.

Jika emosi berlebihan telanjur keluar, seseorang perlu menyampaikan permintaan maaf. Namun, permintaan maaf tersebut perlu dibarengi dengan konsekuensi yang harus ditanggung.

Baca juga: Cara Ampuh Usir Tikus di Rumah ala Ahli Tikus IPB

“Harus diperlihatkan bahwa tingkah laku tersebut adalah salah dan perlu menerima konsekuensinya,” kata Gimmy.

Terakhir, kata Gimmy, seseorang perlu membiasakan diri untuk mampu mengungkap emosi dengan cara yang pantas. Namun, hal ini tidak bisa secara instan, butuh proses yang panjang dan komitmen tinggi untuk bisa mengelola emosi dengan baik.

Bahkan, Gimmy menganjurkan agar proses kelola emosi ini sudah dilatih sejak dini.

“Biasakan untuk berpikir apakah marah ini benar atau tidak. Itu yang harus dilatih dan tidak bisa serta merta langsung pintar,” pungkasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.