Kompas.com - 19/05/2021, 15:12 WIB
Kunjungan Industri Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina ke PT. Danone, April 2019 Dok. Universitas PertaminaKunjungan Industri Program Studi Teknik Logistik Universitas Pertamina ke PT. Danone, April 2019

KOMPAS.com - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 1.252 kejadian bencana pada kuartal pertama tahun 2021. Bencana tersebut mengakibatkan 493 orang meninggal, 68 orang hilang, dan 12.816 orang mengalami luka.

Setidaknya lebih dari lima juta korban bencana harus mengungsi karena tempat tinggal, tempat usaha, dan fasilitas publik mereka rusak dihantam bencana.

Peduli dengan keselamatan korban bencana, sekelompok mahasiswa dari program studi Teknik Logistik Universitas Pertamina, menggagas inovasi daring pengelolaan logistik bencana.

"Melalui website bertajuk Pusat Bantuan Bencana disingkat PBB, menyediakan informasi real time kondisi lapangan yang kami integrasikan dengan sistem informasi geografis. Misalnya, rute mana yang dapat dilalui dengan lebih efektif, disertai dengan informasi moda transportasi yang dapat digunakan, dan ketersediaannya,” ujar Hanif Asyhuri, ketua tim mahasiswa dalam keterangan tertulis UP yang diterima Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Baca juga: BCA Buka Beasiswa 2022 Lulusan SMA/SMK, Kuliah Gratis dan Uang Saku

Ia menjelaskan, website PBB juga terintegrasi dengan database kependudukan. Sehingga, dapat meminimalisasi ketimpangan maupun ketidaktepatan dalam distribusi bantuan.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Setiap penyintas bencana yang mendapat bantuan, kata dia, akan direkam sidik jarinya menggunakan teknologi biometrik yang juga sudah tersedia di website tersebut.

Sementara itu, kedua mahasiswa lainnya yakni Muhammad Fajril Atthoriq dan M. Welano Kharisma, juga menciptakan solusi optimalisasi jaringan rantai pasokan bantuan kepada penyintas bencana.

"Kami merancang platform digital bernama INACUATE yang mengombinasikan dua model jaringan distribusi. Pertama, Distributor Storage with Customer Pickup, yakni kondisi ketika penyintas bencana mengambil bantuan secara langsung di posko kebencanaan. Kedua, model Distributor Storage with Last-Mile Delivery, yakni kondisi ketika bantuan dikirimkan langsung ke lokasi penyintas,” ungkap Fajril.

Baca juga: Beasiswa S1 Jepang 2022, Kuliah Gratis dan Tunjangan Rp 15 Juta Per Bulan

Solusi tersebut membuat keduanya menyabet juara ke-2 di ajang LCC.

Adapun mahasiswa Martin Marcelino A, Ananda Putra D, dan M. Ibnu Ath Thaariq menawarkan alternatif solusi penerapan layout gudang logistik agar proses pengambilan dan pengiriman bantuan dapat lebih terkoordinasi.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads X