“Konstruksi pertama, pengabaian terhadap asas kepatuhan dan relevansi, konstruksi kedua, media telah menempatkan diri bukan hanya semata sebagai pelapor, melainkan telah bertindak jauh sebagai interogator bahkan inkuisitor,” jelasnya.
Hal itu, tambah Aceng, menjadi wujud nyata dari trial by the press yang bahkan telah digolongkan sebagai teror dalam bentuk lain.
Baca juga: Turnamen E-sports Liga Mahasiswa, Tim UPI-1 Terbaik di Jabar
Adapun konstruksi ketiga masih berkaitan dengan konstruksi nomor dua. Media cenderung gegabah dan sepihak dalam hal akurasi serta kualitas informasi.
“Kebanyakan media hanya mengandalkan informasi dari lembaga-lembaga resmi, seperti kalangan pemerintahan, lingkaran istana, pihak kepolisian yang merupakan representasi pihak yang paling berkuasa,” tuturnya.
Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!
Syarat & KetentuanSegera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.