Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

Tingkatkan Capaian Guru Besar, Rektor UPI: Setiap Dosen Punya Kesempatan

Kompas.com - 10/06/2021, 11:11 WIB
Dwi NH,
A P Sari

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Rektor Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) M Solehuddin menyampaikan, setiap dosen di perguruan tinggi UPI berhak dan terbuka untuk menjadi guru besar.

“Semoga para dosen UPI dapat bekerja keras dan punya kesempatan menjadi guru besar. Hal ini sebagai upaya kami dalam mengembangkan berbagai kebijakan dan program dalam rangka memfasilitasi, mendorong serta meningkatkan capaian guru besar," ujarnya dalam keterangan tertulis yang Kompas.com terima, Kamis (10/6/2021).

Solehuddin menjelaskan, guru besar merupakan jabatan akademik tertinggi di perguruan tinggi.

Oleh karena itu, karakteristik guru besar harus berbicara di berbagai forum terkait bidang keilmuan dalam rangka pembangunan masyarakat, bangsa, dan negara.

Baca juga: Menpan-RB Anggap TWK seperti Litsus, Guru Besar FH UGM Khawatirkan Pembunuhan Karakter

Pernyataan tersebut disampaikan saat menyelenggarakan forum pengukuhan delapan guru besar UPI tahun 2021 di Gedung Achmad Sanusi selama dua hari, yakni Selasa (8/6/2021) hingga Rabu (9/6/2021).

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Guru Besar UPI Karim Suryadi mengatakan, pengukuhan guru besar berupaya merayakan kejujuran, kepedulian, serta kesederhanaan dari buah pemikiran para guru besar UPI.

“Forum pengukuhan guru besar dilakukan dalam rangka memberikan pandangan ke publik dalam bidang ilmunya sebagai guru besar harus besar secara jiwa, tinggi secara ilmu dan memiliki karakter rendah hati,” imbuhnya.

Tak hanya itu, lanjut Karim, kearifan pandangan guru besar seharusnya tidak mengenal bias, tidak menghakimi realitas berdasarkan pandangan yang tidak etnosentrik, serta bertindak secara akurat dan tepat.

Baca juga: Guru Besar UGM: TWK Rentan Jadi Alat Singkirkan Pegawai yang Tak Sejalan dengan Penguasa

Pengukuhan guru besar UPI ini sebagai kesimpulan para guru besar dengan berbagai pemikiran mewakili guru besar tentang kecepatan, akurasi dan kekuatan,” ujarnya.

Menurut Karim, untuk merealisasikan pemikiran dan tindakan guru besar, maka diperlukan vitalitas moral.

Empat pemikiran guru besar dalam forum sesi pertama

Dalam sesi pertama penyelenggaraan pengukuhan guru besar UPI, terdapat empat pemikiran gurubesar yang disampaikan pada Selasa.

Pertama, pemikiran dari Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Nugraha tentang kajian keperilakuan dalam manajemen keuangan serta sumbangannya untuk pendidikan literasi keuangan.

Baca juga: Tingkatkan Kualitas SDM Usaha Mikro, Kemenkop Gelar Pelatihan Literasi Keuangan

Pemikiran kedua berasal dari Guru Besar Bidang Pendidikan Kewirausahaan Hari Mulyadi yang membahas tentang pendidikan kewirausahaan dan digitalpreneur.

Ketiga merupakan pemikiran dari Guru Besar Bidang Ilmu Kebijakan dan Pengembangan Olahraga Amung Ma’Mun tentang kebijakan dalam pembangunan olahraga nasional

Adapun pemikiran keempat tentang jurus linguistik forensik dalam mengawal demokratisasi di ruang virtual yang disampaikan oleh Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Forensik Aceng Ruhendi Syaifullah.

Baca juga: Kajian Linguistik Forensik Bantu Kawal Demokratisasi di Ruang Digital

Empat pemikiran guru besar dalam forum sesi kedua

Sementara itu, penyelenggaraan pengukuhan guru besar UPI sesi kedua pada Selasa, juga mengangkat empat pemikiran dari guru besar.

Pertama, pemikiran dari Guru Besar Bidang Ilmu Teknologi Telekomunikasi Enjang Akhmad Juanda tentang pemanfaatan teknologi telekomunikasi di masyarakat: status, permasalahan, dan prospeknya.

Pemikiran kedua dari Guru Besar Bidang Ilmu Komunikasi Pendidikan Edi Suryadi tentang model komunikasi dalam praktek pendidikan.

Ketiga, pemikiran dari Guru Besar Bidang Ilmu Pendidikan Ekonomi Lena Nuryanti Sastradinata tentang strategi merubah mindset dari job seekers menjadi job creators untuk membangun ekonomi kreatif berbasis teknologi digital

Baca juga: Sandiaga Uno Paparkan Tiga Kunci Kebangkitan UMKM dan Ekonomi Kreatif

Terakhir, yaitu pemikiran dari Guru Besar Bidang Bimbingan dan Konseling (BK) Agus Taufiq tentang profesi bimbingan konseling dan supervisi klinis.

Sebagai informasi, sebelum mengikuti kegiatan, para peserta pengukuhan mengikuti tes antigen dan tes polymerase chain reaction (PCR).

Hal ini sesuai dengan peraturan standar protokol kesehatan (prokes) Pemerintah Republik Indonesia (RI) melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19. Tujuannya untuk melindungi, menjaga kesehatan dan keselamatan para pihak, serta mencegah penyebaran Covid-19.

Turut hadir pula secara dalam jaringan (daring) melalui aplikasi Zoom, yakni para dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, keluarga, kolega serta masyarakat di Indonesia.

Baca juga: Konsumen Marahi Kurir, Dosen Unair: Ada Kesenjangan di Era Online

Adapun penyelenggaraan kegiatan juga disiarkan secara langsung melalui media informasi dan media sosial (medsos) UPI pada laman TVUPI Digital https://www.youtube.com/c/TVUPIDIGITAL.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com