Kompas.com - 29/06/2021, 11:30 WIB
Ilustrasi peternakan sapi di Belanda. SHUTTERSTOCK/MISIGNIlustrasi peternakan sapi di Belanda.

Meningkatnya kebutuhan protein

Dian mengatakan, konsumsi susu masyarakat Indonesia per-kapita tahun 2020 sebesar 16,27 kg/kapita/tahun. Angka tersebut sebetulnya mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2019, yaitu naik sebesar 0,25 persen. Namun demikian, angka tersebut memang masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya.

Konsumsi susu per-kapita pada tahun 2021 ini diprediksikan juga mengalami kenaikan. Beberapa faktor yang menyebabkan kenaikan jumlah konsumsi tersebut di antaranya adalah jumlah penduduk yang meningkat, kesadaran masyarakat akan gizi seimbang juga meningkat serta pandemi COVID-19 yang mengharuskan kita untuk meningkatkan imunitas tubuh melalui asupan protein.

Baca juga: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia

Susu merupakan pangan yang memiliki nilai gizi yang mendekati sempurna. Kandungan gizi susu sangat penting untuk perkembangan otak, pertumbuhan, perbaikan sel, mendukung metabolism tubuh termasuk regulasi sistem imunitas.

“Produksi susu segar dalam negeri masih belum mampu memenuhi kebutuhan susu nasional termasuk kebutuhan industri. Pada tahun 2020, kebutuhan susu nasional adalah sebesar 4.386 ribu ton, sedangkan produksi susu segar dalam negeri sebesar 998 ribu ton. Artinya, hanya 22,8 % kebutuhan susu nasional yang bisa dipenuhi dari produksi susu lokal dan sisanya dipenuhi melalui impor dari luar negeri. Untuk mengurangi jumlah import, Pemerintah Bersama dengan praktisi di Perguruan Tinggi telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan efisiensi usaha peternakan sapi perah, termasuk peningkatan produksi susu sesuai potensi genetik ternak,” ungkapnya.

Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa jumlah populasi sapi perah dari tahun ke tahun memang cenderung stagnan. Namun, jumlah populasi sebetulnya bukan merupakan penyebab tunggal rendahnya produksi susu nasional.

Sebagian besar peternakan sapi perah di Indonesia merupakan peternakan rakyat. Jika populasi ternak ingin ditambah, misalnya melalui program bantuan ternak, maka pemerintah juga perlu mengkaji tentang kecukupan lahan untuk menanam tanaman hijau berkualitas yang merupakan pakan utama sapi perah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: UGM Buka Beasiswa S2 untuk 14 Program Studi, Ini Syarat dan Linknya

Feeding management merupakan kunci sukses dari budidaya sapi perah. Jika populasi sapi perah ditambah, namun lahan hijau dan bahan pakan konsentrat terbatas maka tujuan peningkatan produksi susu sulit untuk terwujud.

“Selain feeding management, kualitas genetik dan kesehatan sapi perah juga sangat mempengaruhi produktivitas sapi perah. Permasalahan kesehatan utama pada industri sapi perah adalah peradangan kelenjar mammary yang dikenal dengan penyakit mastitis. Prevalensi mastitis pada sapi perah di Indonesia yang cukup tinggi, yaitu mencapai 80% dan merupakan salah satu penyebab rendahnya produksi dan kualitas susu. Upaya mengatasi mastitis, yaitu pencegahan serta pengobatan merupakan topik penelitian yang kami lakukan di Laboratorium Produksi Ternak Potong dan Perah, Fakultas Peternakan dan Pertanian UNDIP,” tuturnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.