Kompas.com - 10/07/2021, 15:01 WIB
Ilustrasi menggunakan pinjaman online Dok. KredivoIlustrasi menggunakan pinjaman online
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Dalam kondisi kesulitan keuangan, masyarakat kadang gegabah dalam memanfaatkan jasa pinjaman online atau biasa disebut pinjol.

Jasa pinjol saat ini bahkan kian marak di masa pandemi Covid-19. Syaratnya yang mudah untuk mendapatkan pinjaman menjadi salah satu alasan masyarakat menggunakan jasa ini.

Namun siapa sangka bahwa tak semua pinjol terdaftar pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Dalam acara Kuliah Tamu Literasi Perbankan Program Vokasi niversitas Katolik Parahyangan (Unpar) bertema 'Hindari Pinjaman Ilegal' memberikan informasi kepada mahasiswa terkait seluk belum pinjol ilegal.

Baca juga: Beragam Manfaat Alpukat untuk Kesehatan, Begini Penjelasan Pakar IPB

Jasa pinjaman online meningkat saat pandemi

Program vokasi menghadirkan narasumber Kepala Sub Bagian Edukasi dan Perlindungan Konsumen OJK, Kantor Regional 2 Jawa Barat, Teguh Dinurahayu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ada sisi baik dan sisi buruk dari pinjaman online. Banyak kabar miring yang didengar dari pinjol. OJK berfungsi untuk mengatur dan mengawasi perbankan, pasar modal, dan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB). Salah satunya yaitu financial techonolgy termasuk pinjaman online," tutur Teguh seperti dikutip dari laman Unpar, Sabtu (10/7/2021).

Baca juga: Hamil Saat Pandemi Covid-19, Pakar UGM Sarankan Hal Ini

Teguh mengungkapkan, tren peningkatakan fintech lending sangat tinggi terutama pada era digital dan makin marak penawaran saat kondisi pandemi Covid-19.

OJK temukan ribuan pinjaman online ilegal

Layanan jasa keuangan yang mempertemukan lender dengan borrower melalui aplikasi pun kian marak.

Teguh mengatakan, Peer to Peer Lending (P2P Lending) dimana pemberi modal (lender) akan mendapatkan keuntungan berdasarkan bunga yang dibayarkan pengguna pinjaman dalam jangka waktu tertentu kepada pengguna modal (borrower) melalui penyelenggara PSP Lending.

"Usia mayoritas borrower 70,07 persen berkisar 19-34 tahun dengan akumulasi pinjaman per Maret 2020 yaitu Rp 14,79 triliun," katanya.

Teguh menerangkan, Satgas Waspada Investasu (SWI) menemukan fintech lending illegal hingga April 2020 sebanyak 2.486. Selain itu SWI juga menghentikan 18 kegiatan usaha yang diduga tidak memiliki izin resmi dari otoritas berwenang dan berpotensi merugikan masyarakat.

Baca juga: Pengurus OSIS Bisa Kuliah Gratis di ITTP dengan Beasiswa Ini

Ciri-ciri pinjaman online ilegal

Teguh menekankan agar masyarakat dan mahasiswa mengenali 7 ciri pinjol ilegal, yakni:

1. Modus pinjol kerap melakukan penawaran spam SMS.

2. Fee sangat tinggi bisa sampai 40 persen dari total pinjaman.

3. Suku bunga dan denda sangat tinggi, 1-4 persen per hari.

4. Jangka waktu pelunasan sangat singkat dan tidak sesuai dengan kesepakatan.

5. Selalu meminta kontak, foto, video yang akan digunakan untuk meneror pemimjam jika gagal bayar.

Baca juga: Hari Satelit Palapa, Tingkatkan Teknologi di Bidang Pendidikan

6. Melakukan penagihan tidak beretika berupa terror, intimidasi, dan pelecehan.

7. Tidak memiliki layanan pengaduan dan identitas kantor yang jelas.

"Intinya pelaku fintech ilegal tidak memiliki izin resmi dari OJK. Peminjaman sangat sangat mudah, enggak ada pengurus, bunga tidak jelas atau transparan," urai Teguh.

Hasil polling, 13 persen  mahasiswa pernah ajukan ke pinjol

Selain itu, total biaya pinjaman tidak terbatas. Sedangkan fintech legal dibatasi 0,05-0,8 persen per hari. Akses hanya sebatas lokasi, kamera, dan mikrofon. Serta maksimum pengembalian (termasuk denda) 100 persen dari pokok pinjaman.

Dalam acara tersebut, dosen pengampu mata kuliah Literasi Perbankan Unpar Lilian Danil melakukan polling atau survei mengenai pengetahuan, pengalaman, dan tindakan mahasiswa tentang pinjol.

Baca juga: Tips Sukses Raih Beasiswa Luar Negeri ala Alumni Universitas Pertamina

Hasil pollingnya menunjukkan bahwa 83 persen mengetahui pinjol, 13 persen mahasiswa sudah pernah mengajukan pinjol, dan 21 persen mahasiswa ingin mengajukan pinjol di masa yang akan datang.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.