Kompas.com - 12/07/2021, 15:56 WIB
Ilutsrasi anak bermain mainan. todaysparent.comIlutsrasi anak bermain mainan.
|

KOMPAS.com - Umumnya, anak kecil suka bermain. Ini karena bermain merupakan aktivitas yang tak bisa dilepaskan dari dunia anak.

Melalui bermain, anak bisa berpikir, berinteraksi, dan terlibat secara aktif dengan lingkungannya. Bermain juga dapat membantu berbagai aspek perkembangan anak tumbuh secara optimal, termasuk aspek perkembangan sosialnya.

Untuk itu, Ayah dan Bunda perlu memberikan ruang bagi anak untuk bermain. Sebab, saat bermain anak dapat menunjukkan perkembangan sosial melalui berbagai interaksi yang dilakukannya.

Baca juga: Orangtua, Begini 5 Cara Disiplinkan Anak yang Benar

Tentu, interaksi ini menunjukkan adanya berbagai tahap bermain berdasarkan tingkat perkembangan sosial anak.

Tahapan tersebut oleh Milded Patren dikategorikan menjadi 6 jenis yang dibedakan berdasarkan bentuk interaksi anak usia dini.

Melansir laman Ruang Guru PAUD Kemendikbud Ristek, Jumat (9/7/2021) berikut 6 tahapan bermain yang menggambarkan tingkat perkembangan sosial anak:

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

1. Bermain Unoccupied

Pada tahap ini anak belum terlibat langsung dalam kegiatan bermain, ia lebih banyak mengamati segala sesuatu yang menarik perhatian.

Baik berupa kegiatan anak lain maupun kejadian-kejadian di sekitarnya. Jika anak tak menemukan hal menarik perhatiannya, ia akan bermain dan menyibukkan dirinya sendiri.

Misalnya dengan menyentuh-nyentuh bagian tubuhnya, bergerak tak beraturan, dan sebagainya.

2. Bermain Solitary

Di tahap ini anak mulai bisa bermain secara aktif, namun hanya asyik sendiri. Ia cenderung tidak memperhatikan kehadiran anak-anak lain di sekitarnya.

Pada tahap ini sifat egosentris masih dominan, di mana anak memusatkan perhatiannya pada diri sendiri dan belum ingin berinteraksi dengan anak di sekitarnya.

Anak baru akan menerima dan menyadari kehadiran orang lain apabila merasa diganggu. Misalnya anak sedang bermain sebuah benda, lalu seseorang mengambil benda tersebut.

Baca juga: Orangtua, Seperti Ini 4 Prinsip Gizi Seimbang bagi Anak

3. Bermain Onlooker

Pada tahap ini anak mulai senang memerhatikan lingkungan sekitarnya dan melihat anak-anak lain bermain. Hal yang membedakan tahap ini dengan tahap unoccupied adalah adanya minat anak yang besar terhadap kegiatan yang diamatinya.

Anak mulai menyadari bahwa ia adalah bagian dari lingkungannya. Walaupun anak sudah tertarik, namun ia belum bergabung ke dalam kegiatan tersebut.

Sehingga pada tahap ini, ia biasanya berada di pusat aktivitas hanya untuk melihat, mengamati, dan mendengarkan anak lain asyik bermain.

Ketiga tahap bermain di atas yaitu unoccupied, solitary, dan onlooker merupakan tahap awal yang belum menunjukkan kemampuan anak untuk berinteraksi secara aktif. Sehingga ketiganya sering disebut bermain non-social.

4. Bermain Paralel

Pada tahap ini anak sudah bisa bermain secara berdampingan atau berdekatan dengan anak-anak yang lain. Namun tidak mempedulikan satu dengan yang lain, mereka fokus pada permainan dan peralatan bermain mereka sendiri.

Atau memainkan permainan yang sama namun tidak terjadi kontak nyata diantara mereka. Mereka bermain di waktu dan tempat yang sama namun belum menunjukkan interaksi sosial.
Misalnya tiga orang anak bermain mobil-mobilan di tempat yang sama namun tidak bermain bersama.

Baca juga: Anak Stres Selama Pandemi, Ini 5 Cara Hadapinya

5. Bermain Asosiatif

Untuk tahap ini ditunjukkan dengan adanya kegiatan bermain yang dilakukan di tempat, waktu, dan jenis permainan yang sama namun tidak terjadi bentuk kerja sama.

Interaksi yang dilakukan anak sebatas percakapan sederhana atau saling meminjam alat bermain. Tahap bermain ini belum menunjukkan adanya pembagian peran atau kegiatan yang mengarah ke tujuan yang sama.

Misalnya anak sedang mewarnai bersama, interaksi yang dilakukan sebatas meminjam pensil warna dari teman bermainnya.

6. Bermain Kooperatif

Sedangkan pada tahap ini anak mulai menunjukkan adanya kerja sama hingga berbagai tugas dan peran yang terorganisir dalam melakukan suatu kegiatan bermain.

Permainan yang dilakukan memiliki tujuan yang diinginkan dan dituntaskan secara bersama-sama. Misalnya anak mulai bermain sepak bola secara sederhana dengan memilih dua tim yang saling berlawanan dan dipimpin oleh dua kapten tim.

Dalam permainan tersebut anak sudah menampakkan kemampuan bekerja sama dan pembagian peran.

Baca juga: Orangtua, Ini Manfaat Aktif Bergerak bagi Anak dan Cara Melatihnya

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.