Kompas.com - 12/07/2021, 19:59 WIB
Webinar ?Optimalisasi Industri Pertahanan dalam Konteks Kepentingan Nasional RI di Abad 21? yang digelar Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Jumat (9/7/2021). Dok. UnpadWebinar ?Optimalisasi Industri Pertahanan dalam Konteks Kepentingan Nasional RI di Abad 21? yang digelar Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Jumat (9/7/2021).

KOMPAS.com - Menteri Pertahanan (Menhan) RI, Prabowo Subianto mengatakan mempelajari tentang perang tidak hanya menjadi tugas dari militer, tetapi juga masyarakat sipil, termasuk di dalamnya akademisi.

Prabowo menjelaskan, beberapa perguruan tinggi di negara besar seperti Amerika Serikat dan Inggris sudah memiliki bidang studi dengan perang dan strategi perang.

Bahkan, lanjut dia, ahli-ahli di bidang perang dan strategi lebih banyak dari kalangan sipil, bukan militer.

“Bahkan profesor sipil itu mengajar di akademi militer. Karena untuk mendalami dan mempelajari suatu bidang memerlukan konsentrasi dan fokus. Yang saya tahu, di negara lain ada profesor yang spesialisasinya di bidang sejarah perang, teori perang, hingga strategi perang,” imbuhnya saat menjadi pembicara kunci dalam Webinar “Optimalisasi Industri Pertahanan dalam Konteks Kepentingan Nasional RI di Abad 21” yang digelar Magister Manajemen Universitas Padjadjaran, Jumat (9/7/2021).

Baca juga: Universitas Pertahanan Buka Fakultas MIPA Militer, Lulusan jadi Prajurit TNI

Prabowo menilai, isu perang menjadi salah satu kajian penting di perguruan tinggi karena relevan dengan situasi bangsa saat ini. Tujuannya, agar Indonesia menjadi negara yang kuat, maka diperlukan bangsa yang mau belajar dan memeriksa kondisi diri.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sebaliknya, negara yang lemah disebabkan oleh bangsanya yang tidak mau belajar tentang bagaimana upaya merawat dan menjaga kekayaan yang dimiliki. Negara yang lemah akan berpotensi hancur oleh perang.

Apalagi, jelas Prabowo, perang saat ini lebih banyak pada perang ilmu pengetahuan dan teknologi. Sebelum peluru meletus, sudah terjadi perang intelektual, perang siber, hingga perang sensor.

Untuk itu, Prabowo memerlukan peran ilmuwan yang bisa memberikan teknologi yang mampu menjaga negara terhadap gangguan invasi dari luar.

“Kalian (akademisi) adalah pemimpin intelektual. Tentara adalah physical power, tetapi kampus, universitas adalah intellectual power,” kata Prabowo.

Baca juga: Beasiswa Unggulan 2021 Kemendikbud untuk Mahasiswa S1-S3: Manfaat dan Cara Daftar

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.