Kompas.com - 18/07/2021, 15:39 WIB
Ilustrasi makanan yang menjadi sumber vitamin D. iSTOCK/yulka3iceIlustrasi makanan yang menjadi sumber vitamin D.
|

KOMPAS.com - Penelitian di Boston pada 2020 membuktikan vitamin D dapat mengurangi kemungkinan infeksi virus corona sampai dengan 54 persen.

Fakta ini disampaikan alumnus Spesialis Orthopaedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair) Henry Suhendra dalam sesi wawancara di kanal Youtube milik Deddy Corbuzier.

Menurut Henry, tak seperti vitamin C atau A, kebutuhan vitamin D mungkin jarang diperhatikan.

Padahal, asupan vitamin D dalam tubuh sangat memengaruhi kesehatan, bahkan mampu menangkal Covid-19.

Baca juga: RS Omni Alam Sutera Buka Lowongan Kerja bagi Lulusan S1

Kadar vitamin D penduduk Indonesia masih rendah

Data dari WHO menyebut bahwa rata-rata kadar Vitamin D penduduk Indonesia adalah 17,2.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Angka tersebut sangat rendah. Bahkan paling rendah dari negara-negara di ASEAN.

"Kondisi itu dapat dicapai, jika kadar vitamin D dalam tubuh optimal. Ini hampir sama dengan vaksin. Kan lumayan banyak. Kalau vaksin 60 sampai dengan 65 persen, beda-beda," terang Henry seperti dikutip dari laman Unair, (18/7/2021).

Baca juga: Alumni SMKN 1 Cimahi Buat Alat Penghasil Oksigen

Alumnus lulusan 1992 ini menjelaskan, vitamin D adalah super hormon yang berpengaruh pada seluruh sel. Sebab, reseptornya ada di semua sel seluruh sistem tubuh kita.

"Kalau vitamin D kita optimal, artinya kita akan baik-baik saja. Tidak ada penyakit-penyakit," ungkap Herny.

Henry menambahkan, di sisi lain, vitamin D memang dikenal memiliki banyak manfaat untuk mengurangi berbagai infeksi.

Mulai dari bakteri hingga virus, termasuk Covid-19. Selain itu, vitamin D juga dapat melawan kanker, sakit jantung hingga autoimun. Dengan catatan harus optimal 100 persen.

"Di Amerika Serikat, vitamin D terbukti telah memperbaiki berbagai penyakit berat. Seperti penyakit jantung dan 70 jenis penyakit kanker," tutur Henry.

Baca juga: Tetap Produktif di Tahun Ajaran Baru, Ikuti 4 Lomba Ini

Sementara itu, terkait varian yang akan terus bertambah, vitamin D dapat meningkatkan imunitas di tiga sektor, yaitu:

1. Meningkatkan local barrier pada kulit. Yaitu mempererat celah antarkulit. Sehingga tidak ada celah untuk virus masuk.

2. Innate immunity. 

3. Imunitas yang berkaitan dengan pembentukan antibodi oleh T dan B limfosit.

Meski demikian, butuh waktu untuk menaikkan kadar vitamin D dalam tubuh. Selain fluktuatif, terdapat banyak faktor yang mempengaruhi. Misalnya ketika seseorang mengalami stres atau kurang tidur, maka kadar vitamin D otomatis akan turun.

Baca juga: Tetap Produktif di Tahun Ajaran Baru, Ikuti 4 Lomba Ini

Henry memberi contoh, ketika seseorang bersepeda dengan rute Jawa-Bali, tubuh tentu capek dan pegal semua. Kemudian diserang sakit flu.

"Ini ya karena daya tahan tubuh hilang pada saat vitamin D turun. Jadi menaikkan kadar vitamin D bisa dengan olahraga, tapi kalau berlebihan, vitamin D akan hancur. Kalau terlalu capek, dia turun," tutup Henry.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.