Kompas.com - 28/08/2021, 12:54 WIB
Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR dengan Perpusnas di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis (26/8/2021).  DOK. PERPUSNASRapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR dengan Perpusnas di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis (26/8/2021). 

KOMPAS.com - Kemajuan sebuah bangsa sangat berkait erat dengan luasnya wawasan pengetahuan bangsa tersebut. Korelasi ini tercermin dari minat dan budaya baca yang kuat dari warga negara dengan indeks literasinya.

Oleh karenanya, Kepala Perpustakaan Nasional (Perpusnas) Muhammad Syarif Bando menegaskan literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.

Syarif Bando menegaskan, pada tingkatan tertinggi, literasi berdampak bagi bangsa dan negara jika mampu menciptakan barang dan jasa bermutu yang bisa bersaing di pasar global.

“Karena akhir dari percaturan global hanya satu, negara yang menjadi produsen, itulah pemenang. Dan siapa yang negara yang bergantung menjadi konsumen, akan kalah," ungkap Kaperpusnas dalam Rapat Laporan Keuangan 2020 Perpusnas di Komisi X DPR RI (26/8/2020).

"Dan ini sudah mulai kelihatan, bagaimana negara kuat di Asia seperti Tiongkok meluncurkan kereta api tercepat di dunia pada Juli. Dan ini semua karena literasi,” tegas Syarif Bando.

Untuk itu, Syarif Bando menyampaikan, pihaknya terus berupaya meningkatkan kualitas layanan perpustakaan daerah guna memperkuat budaya literasi.

Perpusnas memberikan bantuan DAK (Dana Alokasi Khusus) Fisik Subbidang Perpustakaan Daerah untuk perpustakaan provinsi dan kabupaten/kota.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

DAK akan kembali dilanjutkan tahun depan dan dalam RDP tersebut Komisi X menyetujui pagu DAK Subbidang Perpustakaan dalam RAPBN 2022.

Baca juga: Konten Negatif Bertebaran di Dunia Maya, Literasi Digital Jadi Landasan Penting

Paradigma baru literasi

Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda menyatakan komisinya mengapresiasi sejumlah capaian yang diraih Perpusnas tahun 2020.

Perpusnas memperoleh Nilai Kerja Anggaran sebesar 95,86 atau Sangat Baik atas Kinerja Anggaran Kementerian/Lembaga Tahun Anggaran 2020 dari Kemenkeu. Selain itu, Perpusnas meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari BPK atas Laporan Keuangan Tahun 2020

“Opini BPK tahun anggaran 2020 dengan opini Wajar Tanpa Pengecualian selama lima tahun berturut-turut dari tahun 2016 sampai 2020,” ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi X DPR dengan Perpusnas di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, pada Kamis (26/8/2021).

Tahun lalu, capaian realisasi Perpusnas mencatat hasil yang mengesankan, meski mengalami pemotongan anggaran dari pagu awal sebesar 30,9 persen. Capaian realisasi sebesar 96,62 persen, melampaui rata-rata kinerja nasional sebesar 95 persen.

Pada 2020, pagu awal Perpusnas sebesar Rp 658.997.123.000. Setelah mengalami pengurangan anggaran, pagu akhir Perpusnas menjadi Rp4 54.777.211.000.

Pada kesempatan tersebut, Komisi X DPR RI menyetujui pagu anggaran Perpusnas dalam Rancangan APBN Tahun 2022 sebesar Rp667.521.289.000 yang tercantum dalam nota keuangan. Selanjutnya, Komisi X akan menyampaikan hasil RDP kepada Badan Anggaran DPR RI.

Untuk tahun 2021, Komisi X DPR mendorong Perpusnas meningkatkan kinerja dan mempertahankan capaian prestasi tahun sebelumnya.

Syaiful Huda berharap Perpusnas agar meyakinkan stakeholder dengan paradigma baru literasi dan numerasi dengan mempertimbangkan perpustakaan digital dan perpustakaan keliling, khususnya pada masa pandemi.

Sejumlah catatan diberikan agar Perpusnas menyiapkan sejumlah kegiatan pada RAPBN 2022 untuk mendukung layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, wahana belajar sepanjang hayat, tempat menghimpun khazanah intelektual budaya bangsa.

Termasuk juga, Perpusnas diminta memperbesar akses buku bacaan di daerah terutama daerah 3T (terdepan, terpencil, tertinggal) yang dibutuhkan di saat kenormalan baru pascapandemi Covid-19.

Baca juga: Perkuat Literasi Digital, Tenaga Pendidik Mesti Ajarkan Netiket pada Peserta Didik

“Komisi X DPR RI juga mendorong Perpusnas untuk memaksimalkan isu terkini di bidang perpustakaan, antara lain isu perpustakaan sebagai co-working space, untuk menumbuhkan kewirausahaan," ujar Syaiful Huda.

"Perpustakaan sebagai market place ekosistem literasi yang mengagregasi penerbitan, penulisan, media massa, distribusi, publikasi, dan pembaca,” tambahnya

Perpusnas juga diminta memperhatikan isu perpustakaan sebagai inisiator digital publishing, repositori nasional rekaman peristiwa dalam lini masa, dan digitalisasi surat kabar dan berkala, pengarsipan web, serta digitalisasi berbagai dokumen dan bahan perpustakaan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.