Kompas.com - 30/09/2021, 08:03 WIB
|
Editor Dian Ihsan

KOMPAS.com - Tiap provinsi di Indonesia memiliki bahasa daerah yang digunakan dalam kegiatan sehari-hari masyarakat setempat.

Meski bisa menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi, namun ada sebagian warga lokal hanya bisa menggunakan bahasa daerah.

Hal ini tentu menyulitkan bagi mahasiswa yang sedang menimba ilmu di suatu daerah lain. Melihat problematika ini, memberi ide mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM) untuk membuat suatu inovasi.

Para mahasiswa UM terus mengembangkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat bagi sesama. yakni dengan mengembangkan aplikasi bernama Jawi.

Baca juga: Kegiatan Perkuliahan Tatap Muka Bukan Untuk Euforia

Mahasiswa UM kembangkan aplikasi Jawi

Aplikasi ini dikembangkan lima mahasiswa UM lintas jurusan, yaitu Danny Firmansyah dari Pendidikan Fisika selaku ketua tim, M. Syahrul Alfianto dari jurusan Fisika, L. Gilang Obidia Ramadhani jurusan Teknik informatika, Awal Ciptaning Kanugrahan dari jurusan Pendidikan bahasa, sastra indonesia, dan daerah serta M. Izzul Aufa dari jurusan Teknik industri.

Melansir dari situs resmi UM, Rabu (29/8/2021), Jawi merupakan aplikasi bahasa Jawa yang didesain khusus untuk mahasiswa yang berasal dari luar jawa yang tengah menimba ilmu di Kota Malang.

Tujuan aplikasi ini adalah untuk mempermudah komunikasi berbahasa jawa serta mengeratkan interaksi sosial di kalangan masyarakat lokal Kota Malang yang notabene-nya menggunakan bahasa Jawa dalam kehidupan sehari-hari.

"Saya ingin membantu teman-teman mahasiswa yang berasal dari luar jawa agar mudah melakukan komunikasi dan beradaptasi untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di Malang," kata Danny.

Baca juga: Psikolog UGM Ungkap Gejala Depresi dan Cara Mencegah Orang Bunuh Diri

Aplikasi Jawi dikembangkan karena hal ini

Danny menerangkan, selain itu, ada beberapa faktor yang mendasari keprihatinan timnya hingga mengembangkan aplikasi Jawi ini, seperti:

1. Mahasiswa baru yang tidak bisa berbahasa jawa membuat mereka merasa minder.

2. Kesulitan bersosialisasi

3. Merasa terasingkan

4. Kurang nyaman dengan keadaan sekitar

5. Bahkan ada beberapa dari mereka yang mendapat perundungan.

6. Kesulitan memaknai penjelasan dosen yang terbiasa menggunakan bahasa jawa.

"Pengembangan aplikasi ini memakan waktu kurang lebih 1,5 bulan," imbuh Danny.

Baca juga: Satoria Agro Industri Buka Lowongan Kerja Lulusan D3-S1, Ayo Daftar

Bisa berikan banyak manfaat

Pada proses pengembangan tersebut tim pengembang lebih banyak melakukan koordinasi secara virtual.

Hal tersebut dikarenakan kondisi Covid-19 yang belum mereda hingga saat ini. Meski begitu semangat kelima mahasiswa UM ini tidak pernah surut untuk mengembangkan aplikasi Jawi.

Danny dan tim berharap aplikasi Jawi bisa memberikan banyak manfaat dan juga sebagai salah satu upaya untuk melestarikan bahasa Jawa pada generasi milenial.

Baca juga: Lulusan dari 9 Jurusan Kuliah Ini Berpeluang Miliki Gaji Besar

Pada aplikasi tersebut terdapat kosakata bahasa daerah dan arti dalam bahasa Indonesia. Seperti kosakata ngoko standar, ngoko Malang dan bahasa Krama. Selain itu, dalam aplikasi Jawi juga terdapat kalimat yang biasa disampaikan saat perjumpaan dan salam sapa, perkenalan, aktivitas harian dan lain sebagainya. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.