Kompas.com - 29/10/2021, 11:19 WIB
Ketiga mahasiswa tersebut adalah Shirly Maulidina, Atras Yonda Farizi, dan Laila Nurfitria Devi. Diketuai oleh Shirly, Tim Kita melihat adanya keresahan masyarakat pada permasalahan lingkungan akibat pengelolaan limbah APD yang berlum memenuhi standar. Dok. ITSKetiga mahasiswa tersebut adalah Shirly Maulidina, Atras Yonda Farizi, dan Laila Nurfitria Devi. Diketuai oleh Shirly, Tim Kita melihat adanya keresahan masyarakat pada permasalahan lingkungan akibat pengelolaan limbah APD yang berlum memenuhi standar.

KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 yang masih berlangsung hingga kini membuat kebutuhan alat pelindung diri (APD) terus meningkat. Kondisi ini berimbas pada membludaknya limbah APD bekas pemakaian medis.

Belum lama ini, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penelitian Oseanografi merilis hasil monitoring sampah medis semasa pandemi Covid-19.

Merangkum Kompas.com, riset tersebut juga mencatat kehadiran sampah alat pelindung diri (APD), seperti masker medis, sarung tangan, pakaian hazmat, pelindung wajah, dan jas hujan, yang jumlahnya sangat mencolok dibandingkan dengan sebelum pandemi. Sampah APD tersebut menyumbang 15-16 persen dari sampah di muara sungai Marunda dan Cilincing.

Baca juga: Lulusan 8 Kampus Ini Cepat Dapat Kerja, Ada Kampus Kamu?

Menghadirkan solusi, tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang tergabung dalam Tim Kita menggagas ide alat bernama SELIA-BOX.

Inovasi ini merupakan alat pengolahan limbah ramah lingkungan untuk menghancurkan APD.

Ketiga mahasiswa tersebut adalah Shirly Maulidina, Atras Yonda Farizi, dan Laila Nurfitria Devi. Diketuai oleh Shirly, "Tim Kita" melihat adanya keresahan masyarakat pada permasalahan lingkungan akibat pengelolaan limbah APD yang berlum memenuhi standar.

SELIA-BOX kemudian muncul menjadi ide yang potensial menjadi solusi permasalahan ini.

“Inovasi tersebut berupa alat sterilisasi limbah APD yang ramah lingkungan karena menggunakan metode grinding dan gelombang mikro,” jelasnya.

Shyrlin melanjutkan bahwa SELIA-BOX dirancang berbentuk chamber tertutup agar pengolahan limbah infeksius ini tidak mencemari lingkungannya.

Setelah dicacah dengan grinder, limbah APD akan melalui proses sterilisasi dengan gelombang mikro pada suhu 100 derajat celcius. Metode ini diklaim lebih ramah lingkungan dibandingkan insinerator karena tidak menghasilkan polutan yang dapat mencemari lingkungan seperti fly ash, asam klorida, dan sebagainya.

Baca juga: Mahasiswa Bisa Dapat Bantuan UKT Rp 2,4 Juta Kemendikbud Ristek, Ini Syaratnya

“Sehingga ide ini tidak akan menimbulkan masalah lingkungan baru berupa pencemaran udara,” tegas Shyrlin.

Ide Shyrlin dan kedua rekannya ini berhasil menyabet juara pertama dalam kompetisi karya tulis ilmiah Cakrawala Ilmiah 2021 yang mengangkat tema Sustainable Living Through Eco Friendly Innovation for Indonesia.

Besar harapan tim agar ide gagasan mereka mampu memberikan sumbangan yang baik bagi peningkatan penanganan Covid-19 di Indonesia tanpa mengganggu aspek lingkungan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.