Kompas.com - 23/11/2021, 09:39 WIB
Tubuh sering tak fokus selama puasa karena tingkat energi yang turun. Unsplash/WindowsTubuh sering tak fokus selama puasa karena tingkat energi yang turun.

KOMPAS.com - Berada dalam usia paling produktif dalam beberapa tahun ke depan, Generasi Z (Gen Z) akan segera menguasai pasar tenaga kerja dan mengisi pos-pos strategis dalam dunia kerja.

Namun, survei yang dilakukan oleh Kronos Incorporated (2019) kepada 3.400 responden dari seluruh dunia, menunjukkan bahwa hanya 44 persen Gen Z yang menyukai bekerja dalam tim bersama rekan kerja secara langsung.

Survei tersebut juga menemukan bahwa Gen Z ternyata belum terlalu percaya diri untuk memasuki dunia kerja karena sebanyak 34 persen dari responden mengaku cemas dan merasa tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk sukses di dunia kerja.

Baca juga: Beasiswa S1 Korea Selatan, Kuliah Gratis dan Tunjangan Rp 10 Juta Per Bulan

Sementara itu, 20 persen di antaranya merasa kurang termotivasi. Sedangkan 17 persen lainnya selalu merasa rendah diri. Padahal, kepercayaan diri berpotensi melahirkan inovasi di tempat kerja.

Kiat sukses masuki dunia kerja untuk para Gen Z

Sebagai bagian dari Gen Z, Ismail Marosy, Mahasiswa Teknik Sipil Universitas Pertamina membagikan ceritanya tentang pentingnya membangun kepercayaan diri agar dapat bersaing di bursa kerja nantinya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Meskipun dilahirkan di tengah kemajuan teknologi yang seharusnya memberi keuntungan, Gen Z tumbuh dalam asuhan yang bisa dikatakan sangat protektif. Kami dibesarkan di tengah kondisi dunia yang serba tidak menentu. Karenanya, kami kesulitan dalam mempersepsikan dunia, dan memiliki kekhawatiran dalam berkomunikasi dengan publik,” ungkap Ismail dalam keterangan tertulis Universitas Pertamina.

Namun, menurut Ismail, bukan berarti Gen Z tidak bersosialisasi dengan lingkungan.

“Kami tetap menyukai kegiatan bertukar pendapat. Tetapi biasanya, kami akan lebih memilih untuk berdiskusi dengan komunitas atau kelompok di forum tertentu. Hal ini disebabkan terutama karena minimnya kepercayaan diri yang kami miliki untuk menerima respon atau judgment dari publik terhadap pendapat kami,” pungkas Ismail.

Baca juga: Beasiswa S2 di Swedia 2022, Kuliah Gratis dan Uang Saku Rp 15 Juta Per Bulan

Karena itu, Ismail dan kawan-kawannya mulai memberanikan diri untuk mengemukakan pendapat secara bijak di ruang publik.

Selain melalui tulisan ilmiah dan tulisan di media sosial, mereka juga mengikuti kegiatan diskusi mahasiswa di luar perkuliahan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.