Kompas.com - 27/01/2022, 13:57 WIB

KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (Unair), Cita Rosita Sigit Prakoeswa menyampaikan bahwa ada beberapa faktor penyebab penuaan dini, salah satunya ialah photoaging.

Ia menjelaskan, photoaging merupakan penuaan dini pada seseorang yang disebabkan salah satunya oleh sinar matahari. Jika didiamkan, photoaging berpotensi skin cancer dan cosmeceutical problem.

Cita menjelaskan, paparan sinar matahari dapat menghambat antioksidan, menyebabkan antioksidan tidak bisa menghambat radikal bebas.

Radikal bebas, lanjut Cita, merupakan peran sentral penyebab terjadinya photoaging baik dalam konteks molekuler maupun seluler jaringan sampai pada karakteristik kulit yang bisa kita lihat dengan kasat mata ataupun dengan berbagai alat.

Baca juga: 5 Alasan Pasangan Selingkuh, Ini Penjelasan Sosiolog Unair

“Dengan adanya matahari justru menghambat antioksidan dan antioksidan tidak bisa menghambat radikal bebas, dan terjadilah photoaging. Photoaging sendiri treatmentnya berbagai macam, tapi harus ada pertimbangan antara efikasi dan biayanya, ini masih cukup mahal sehingga banyak yang mengabaikan padahal photoaging berpotensi skin cancer dan cosmeceutical problem,” jelasnya seperti dilansir dari laman Unair News, Kamis (27/1/2022).

Mengatasi penuaan dini dengan sel punca

Sel punca menjadi salah satu cara mengatasi penunaan dini. Cita menjelaskan bahwa Mesenchymal Stem Cell (MSC) adalah sel punca yaitu sel yang terus melakukan regenerasi.

Stem Cell sendiri memiliki berbagai manfaat termasuk memodulasikan sistem imun dan meningkatkan berbagai growth factor.

Cita juga menegaskan alasan kenapa Mesenchymal Stem Cell-Conditioned Mediaum (MSC-CM) lebih dipilih dari pada MSC sendiri. Hal ini karena MSC-CM memiliki keuntungan dibandingkan MSC seperti bisa disimpan, didistribusikan, dan bisa digunakan oleh orang lain.

“MSC harus dari diri sendiri. Misalnya saya pakai sensor saya kemudian yang lainnya juga begitu, ada keterbatasan lain juga yaitu harus memiliki labolatorium yang terstandar dan tingkat kesulitannya juga tinggi,” ucap Cita.

Baca juga: Beasiswa S1 Jepang 2022: Kuliah Gratis, Tunjangan Rp 18 Juta Per Bulan

“Sementara MSC-CM itu Stem Cell setelah dikultur dan tidak ada sel. Kalau dibandingkan dengan Stem Cell pasti efikasinya lebih kuat namun MSC-CM memiliki keuntungan seperti bisa disimpan, didistribusikan, dan digunakan oleh orang lain karena tidak ada sel di situ,” imbuh dia.

Kemudian, Cita menegaskan keuntungan penggunaan MSC-CM dibandingkan dengan Stem Cell, yakni kapasitas Stem Cell tentunya lebih tinggi dibandingkan MSC-CM, namun prosesnya masih mahal dan tidak bisa dibawa secara mudah, harus dengan kondisi khusus.

Sementara MSC-CM tidak ada potential rejection, transport-nya mudah, dan harganya lebih terjangkau.

“MSC-CM untuk protokolnya sama dengan Stem Cell tetapi tidak ada potential rejection karena dia digunakan untuk orang lain dan tidak ada sel di situ, transport-nya mudah dan tentu harganya jauh kalau dibandingkan dengan Stem Cell. Apabila produksi secara besar-besaran tentu harganya bisa lebih ditekan,” jelasnya.

Baca juga: BCA Buka Magang Bakti 1 Tahun untuk Lulusan SMA-SMK, D3 dan S1

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.