Kompas.com - 21/02/2022, 10:48 WIB

KOMPAS.com - Tim peneliti Universitas Pertamina bekerja sama dengan Pemerintah Kota Depok berupaya untuk mengelola sampah menjadi bahan bakar yang dapat digunakan oleh UMKM di Kota Depok melalui teknologi Refused-Derived Fuel (RDF).

RDF merupakan teknologi pengolahan sampah melalui proses homogenizers menjadi ukuran yang lebih kecil. Hasilnya sebagai sumber energi terbarukan dalam proses pembakaran, sebagai pengganti batu bara.

I Wayan Koko, Dosen Teknik Lingkungan Universitas Pertamina, mengungkap timnya bersama Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok berhasil memproduksi pelet RDF murah yang dapat dimanfaatkan UMKM makanan dan minuman.

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kebutuhan energi pada 2050 diperkirakan mencapai 2,9 miliar setara barel minyak (SBM). Angka ini melonjak lebih dari dua kali lipat dari proyeksi 2025 yang sebanyak 1,1 miliar SBM.

Baca juga: Universitas Pertamina Buka 3 Beasiswa 2022, Bebas Biaya Kuliah

Dibanding sektor lainnya, bidang industri menuntut kebutuhan energi terbesar dengan perkiraan pertumbuhan rata-rata 3,9 persen per tahun.

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) juga menyatakan bahwa dari berbagai industri, konsumsi energi yang paling banyak berasal dari industri makanan sebesar 18,5 persen.

Sementara itu, BPS mencatat pada 2019 terdapat 3,9 juta UMKM tanah air yang bergelut di bidang makanan dan minuman. Jawa Barat menduduki posisi teratas dengan jumlah UMKM makanan dan minuman mencapai 791.435 UMKM.

Sumber energi murah

UMKM produsen tahu Depok telah memanfaatkan pelet RDF hasil penelitian Universitas Pertamina dan DLHK Kota Depok sebagai sumber energi murah. Harga pelet RDF hanya Rp 300 per kg, dibanding harga batu bara yang mencapai Rp 700 per kg.

"Dengan menggunakan teknologi rotary dryer, kami memanfaatkan berbagai sampah yang ada, mulai dari sisa makanan, sampah plastik, sampah kertas, dan sampah kebun, untuk dijadikan pelet RDF. Namun dari berbagai jenis sampah yang ada, kami menemukan bahwa sampah kertas dan perkebunan seperti kayu dan ranting, masih menjadi limbah terbaik untuk pembuatan pelet RDF," jelas Koko.

Baca juga: 4 Kampus Terbaik Singapura Buka Beasiswa S1, Kuliah Gratis-Biaya Hidup

Pemilihan jenis sampah tersebut, lanjut Koko, disebabkan sampah kertas belum termanfaatkan secara optimal. Serta memiliki karakteristik yang hampir sama dengan sampah taman, karena dibuat dari serat kayu sehingga memberikan bahan bakar dengan kualitas kepadatan yang baik.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.