Kompas.com - 28/03/2022, 10:01 WIB

KOMPAS.com - Inovasi besutan Arief Akhmad Syarifudin, Christianov Agassi Batistuta Sumolang dan Inggrialianthari Rezkhi Trinugrahandini diyakini dapat menurunkan CO2 hingga 14.000 ton per tahun.

Ketiga mahasiswa Universitas Pertamina tersebut mengajukan gagasan integrasi penggunaan energi surya dalam kegiatan hulu migas, sebagai upaya mendukung G20 dalam mengurangi emisi karbon.

Sebelumnya, World Health Organization telah memprediksi pemanasan global akibat emisi karbon dapat mengakibatkan 250 ribu kematian manusia per tahun antara 2030 hingga 2050.

Baca juga: ITB Buka Beasiswa S2-S3 2022, Bebas Biaya Kuliah hingga 100 Persen

Data Kementerian Perindustrian menyebutkan, sektor energi, yang termasuk di dalamnya usaha penyedia migas, menyumbang 47 persen emisi karbon nasional.

Arief mengatakan, metode Thermal Enhanced Oil Recovery atau TEOR dalam pengambilan sisa minyak dengan menggunakan pembakaran gas menyumbang emisi karbon yang cukup besar.

Metode TEOR, lanjut dia, dilakukan untuk mengoptimalkan pengambilan sisa minyak yang tidak terkuras. Dilakukan dengan cara menginjeksi uap ke dalam reservoir untuk memanaskan minyak berat (heavy oki) agar kekentalannya berkurang. Alhasil, minyak lebih mudah diangkat ke permukaan.

Karena itu, ia dan tim menggagas ide penggunaan energi surya menggantikan gas bumi dalam proses pembangkitan uap.

"Inovasi yang kami ajukan adalah penggunaan Concentrated Solar Power (CSP) yang terdiri dari kumpulan reflector (heliostat) yang berfungsi memantulkan sinar matahari ke central tower (receiver). Panas yang terkumpul di tower akan digunakan untuk memanaskan molten salt sebagai media fluida yang kemudian digunakan untuk memanaskan air menjadi uap. Uap ini akan diinjeksi ke dalam reservoir untuk proses TEOR,” tutur Arief.

Untuk mengatasi masalah ketergantungan cuaca dari energi surya, lanjut Arief, tim melakukan intermittent injection.

Baca juga: Mahasiswa Butuh Biaya Kuliah dan Hidup? Daftar Beasiswa Pertamina 2022

“Istilah lainnya adalah injeksi selang seling. Jadi, pada malam hari injeksi uap dengan temperatur tinggi akan diganti dengan injeksi air panas. Setelah dilakukan simulasi menggunakan perangkat lunak, efektivitasnya ternyata tidak jauh berbeda dengan injeksi uap temperatur tinggi,” ujar Arief.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.