Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 06/06/2022, 05:37 WIB
Albertus Adit

Penulis

KOMPAS.com - Ada banyak faktor penyebab seseorang bisa terkena hipertensi. Salah satunya karena faktor keturunan atau bisa pula pola hidup kurang sehat.

Menurut Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah, Rumah Sakit Nasional Diponegoro Universitas Diponegoro (RSND Undip), dr. Pipin Ardhianto, Sp.JP(K), FIHA., tekanan darah ditulis sebagai dua angka.

Angka pertama (sistolik) mewakili tekanan dalam pembuluh darah saat jantung berkontraksi atau berdenyut. Angka kedua (diastolik) mewakili tekanan di pembuluh darah saat jantung beristirahat di antara detak.

Baca juga: 12 Tips Meredakan Sakit Kepala dari Universitas Nasional

Tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah melebihi angka 140/90 mmHg.

Ia menjelaskan, hipertensi kronik dan tidak terkontrol meningkatkan risiko gangguan fungsi orgran vital tubuh terutama fungsi otak, mata, ginjal dan jantung.

Penyakit ini menjadi masalah utama dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Riset kesehatan dasar menunjukkan hipertensi merupakan faktor risiko penyakit stroke dan jantung paling banyak.

Pasien dengan hipertensi tidak akan bergejala sampai adanya gangguan fungsi salah satu organ di dalam tubuh. Hal ini mengakibatkan jutaan orang tidak menyadari sudah terkena hipertensi.

Kebanyakan pasien mengetahui memiliki hipertensi pada saat stroke, gangguan penglihatan, gangguan fungsi ginjal dan gangguan fungsi jantung terjadi. Dilihat dari sisi pencegahan suatu penyakit maka sebenarnya sudah ‘terlambat’.

Baca juga: Penyebab Gagal Ginjal, Info Stikes Citra Delima

"Hipertensi dipengaruhi oleh beberapa faktor risiko yang dikelompokkan menjadi faktor risiko yang tidak dapat diubah dan faktor risiko yang dapat diubah," ujarnya dikutip dari laman Undip, Sabtu (4/6/2022).

Faktor penyebab hipertensi

Faktor risiko yang tidak dapat diubah diantaranya adalah:

  • jenis kelamin
  • umur
  • faktor keturunan

Sedangkan faktor risiko yang dapat diubah diantaranya ialah:

  • merokok
  • obesitas
  • tidak beraktivitas fisik rutin
  • konsumsi natrium berlebih
  • konsumsi kalium rendah
  • alkohol

Selain itu, penelitian pada masyarakat di Indonesia menemukan bahwa tingginya asupan garam (natrium) merupakan penyebab terbanyak. Natrium terdapat dihampir semua jenis masakan dan makanan yang popular di Indonesia.

Baca juga: Stikes Panti Kosala: Ini Tanda dan Gejala Jantung Koroner

Kandungan natrium semakin tinggi pada penggunan:

  • penyedap rasa yang berlebihan
  • makanan cepat saji
  • sereal cepat saji
  • minuman kemasan rasa buah
  • jus kemasan
  • bumbu masak instan
  • produk susu terutama keju dan butter
  • makanan laut (kepiting, udang, cumi, kerang, ikan laut kalengan)
  • mie instan dan sebagainya

Sebagai patokan adalah makanan kemasan dan atau instan hampir pasti memiliki kadar natrium tinggi.

Maka dari itu, menghindari sekuat mungkin konsumsi makanan tersebut mampu mencegah hipertensi dan khususnya bagi pasien hipertensi merupakan terapi utama, selain obat obatan tentunya.

Baca juga: Ners Unair: 6 Vitamin untuk Kulit agar Sehat Berikut Jenis Makanannya

Cara mencegah hipertensi

Upaya lain yang dapat dilakukan adalah melakukan:

1. aktivitas fisik (olahraga) rutin

2. olahraga aerobic sederhana seperti:

  • jalan
  • jogging
  • lari
  • sepeda
  • berenang secara rutin

Hal ini terbukti mampu mencegah dan mengendalikan hipertensi. Dianjurkan berolahraga dengan frekuensi minimal 3 kali dalam satu pekan, masing masing minimal 30 menit.

Jika tidak sempat, kegiatan fisik lain seperti memotong rumput, membersihkan selokan, mencuci mobil atau kegiatan lain yang berkeringat dapat juga dilakukan.

Namun, ada beberapa jenis olah raga yang perlu dihindari pada pasien dengan hipertensi seperti:

  • menyelam
  • angkat besi
  • lari sprint cepat

"Penderita hipertensi yang sudah didagnosis oleh dokter sebaiknya tetap mengikuti anjuran para dokter untuk kontrol rutin, mengkonsumsi obat yang diberikan, dan yang utama adalah melakukan upaya perubahan pola hidup terus menerus kearah yang lebih sehat," jelasnya.

Baca juga: Stikes Panti Kosala: Ini Cara Minum Air Putih 8 Gelas Tiap Harinya

Sedang obat yang rasional pada pasien dengan hipertensi bertujuan juga untuk melindungi organ vital tubuh seperti ginjal. Sehingga masyarakat tidak perlu takut bahwa obat hipertensi akan merusak ginjal.

"Bahkan sebaliknya penggunaan lama obat hipertensi pada pasien hipertensi akan menjaga lebih lama fungsi ginjal dibandingkan apabila hipertensi tidak diobati," tandasnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com