Kompas.com - 13/07/2022, 16:07 WIB

KOMPAS.com - Umumnya, anak sudah mampu mengutarakan keinginan dengan bahasa sederhana yang dimengerti orang dewasa saat berusia dua tahun. Namun, bagaimana jika anak belum bisa mengucapkan kata berarti pada dua tahun?

Program Manager Pendidikan Inklusi Cikal Surabaya, Muthia Devita menjelaskan bahwa dalam fase-fase tumbuh kembang anak sejak usia 1 bulan hingga 12 bulan, orangtua dapat mewaspadai speech delay apabila tidak ada babbling dan belum bisa menunjuk benda atau orang yang sudah dikenalnya.

“Perkembangan bicara pada anak akan berbeda di setiap tahapan usianya. Namun, yang perlu kita waspadai ketika anak belum menunjukkan kemampuan bicara yang sesuai di usianya sejak anak usia 1 bulan hingga 18 bulan,” paparnya dalam keterangan tertulis Sekolah Cikal.

Baca juga: Terkenal Disiplin, Begini Cara Orangtua Jepang Mendidik Anak

Ia pun menjelaskan beberapa tahapan usia perkembangan anak dalam berkomunikasi, yakni:

  • Usia 1-3 bulan: bayi mulai membuat suara (cooing)
  • Usia 6-9 bulan: babbling, misalnya mengucapkan papapa, dadada
  • Usia 9-12 bulan: pemahaman bahasa reseptif mulai berkembang seperti dapat menunjuk, memegang orang dan benda yang sudah dikenalnya
  • Usia 12-18 bulan: anak dapat menyebutkan kata spesifik, yaitu menyebutkan benda atau orang yang kita tunjuk
  • Usia 15-18 bulan: kosakata akan semakin berkembang

Cara mengasah kemampuan bicara anak

Memahami bahwa speech delay menjadi salah satu tantangan dalam pemerolehan bahasa dan komunikasi anak, Muthia menyarankan orangtua untuk memahami cara-cara terbaik dalam mendampingi anak dan memahami kebutuhannya.

Baca juga: Psikolog: Ini yang Perlu Disiapkan Orangtua Jelang PTM 100 Persen

Muthia menjelaskan bahwa terdapat 3 cara yang dapat dilakukan oleh orang tua di dalam keseharian bersama anak, antara lain:

1. Ajak anak berbicara dan bercerita secara berkala

Orangtua perlu memahami bahwa dalam proses tumbuh kembangnya, anak-anak harus didampingi dengan kebiasaan berbicara agar kemampuan berbahasanya terstimulasi dengan baik.

Dalam hal ini, orangtua harus dapat memberikan prioritas waktunya untuk membangun kebiasaan berbicara, berkomunikasi, dan bercerita.

“Orangtua harus sering mengajak anak berbicara dan bercerita tentang kegiatan yang telah dilakukan. Dengan melakukan refleksi kegiatan dapat membantu memori bahasa pada anak atau dapat juga membacakan cerita dari buku-buku yang ada,” tutur Muthia.

Baca juga: Batique, Game Pertama di Indonesia untuk Uji Keunikan Kognitif Anak

2. Berikan kesempatan anak untuk berbicara dan menyampaikan keinginan

Muthia mendorong orangtua untuk dapat memberikan kesempatan dan ruang bagi anak berbicara serta menyampaikan pilihan dan keinginannya.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.