Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/09/2023, 15:55 WIB
Carissa Juwita,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil membuat lilin aromaterapi dari limbah minyak jelantah. Kegiatan tersebut bertujuan untuk mengurangi pencemaran lingkungan dan diselenggarakan di Desa Pinggir, Sidomulyo, Bantul.

Dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata, (KKN) mahasiswa mengajak warga setempat untuk membuat dan memperhatikan cara mengolah lilin aromaterapi  dari minyak jelantah.

Muhammad Raffi selaku ketua KKN menuturkan minyak jelantah merupakan minyak sisa menggoreng makanan dan telah dipakai berulang kali. Limbah tersebut menimbulkan pencemaran lingkungan seperti menyumbat saluran air.

Baca juga: Beasiswa S2 ke Jepang 2024: Kuliah Gratis, Tunjangan Rp 15 Juta Per Bulan

Selain itu, jika dikonsumsi minyak jelantah dapat menimbulkan penyakit seperti kanker, hipertensi, dan penyempitan pembuluh darah.

“Minyak jelantah yang tidak diolah dengan baik dapat menyebabkan pencemaran lingkungan,” ujar Raffi pada Senin (11/9/2023).

Anggota KKN yang lain yakni Rhiski Husniati menjelaskan proses pembuatan lilin aromaterapi dari minyak jelantah.

“Awalnya rendam minyak jelantah bersama arang selama satu jam untuk menghilangkan bau dari minyak tersebut,” ujar Rhiski.

Baca juga: Beasiswa ADik Disabilitas 2023 Dibuka, Bantuan hingga Rp 12 Juta Per Semester

Langkah selanjutnya, panaskan minyak bersama stearin dan krayon sampai mencair dan agak mendidih lalu tambahkan aromatik.

Tahap terakhir, tuang cetakan lilin aromatik ke dalam cetakan yang sudah diberi sumbu dan diamkan sampai beku. Setelah beku, lilin sudah jadi dan bisa digunakan di kamar atau ruangan lainnya.

Dengan demikian, limbah minyak jelantah menjadi lebih bermanfaat dan dapat mengurangi pencemaran lingkungan serta penyakit. 

“Manfaat lilin ini dapat mengatasi insomnia dan memberi efek menenangkan pikiran,” kata Ratih salah satu anggota KKN.

Selain itu, lilin aromaterapi juga dapat dijual dan menghasilkan pundi-pundi rupiah. 

Baca juga: Mahasiswa KKN UNY Inovasi Kawat Buzzer untuk Kendalikan Emosi Anak

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
28th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com