Kamis, 17 April 2014

News /

Perempuan dan Kekerasan di Sekolah

Kamis, 1 April 2010 | 03:23 WIB

Baca juga

Nunung Sulastri

Sebentar lagi musim masuk ke perguruan tinggi akan tiba. Banyak orangtua yang akan memasukkan anaknya ke perguruan tinggi mulai khawatir nasib anak mereka terkait dengan perpeloncoan berbalut kekerasan.

Meski kekerasan jenis ini telah berulang kali diberitakan, seperti kekerasan yang dilakukan siswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), tetap menarik melihat fenomena ini dari analisis jender, terutama kekerasan yang dilakukan pelajar putri. Konstruksi sosial tentang perempuan dan lelaki tentang citra diri baik lelaki maupun perempuan dan hubungannya dengan perilaku dapat menjelaskan mengapa kekerasan itu terjadi.

Masyarakat mengonstruksi secara sosial perempuan dan lelaki untuk bertingkah laku berbeda. Perempuan mendapat predikat feminin: pasif, lembut, pengalah, sabar. Lelaki dianggap maskulin: agresif, kasar, pemberani, menangan, tak sabaran. Meskipun peran lelaki dan perempuan sering dinyatakan sebagai setara dan seimbang, saling mengisi dan melengkapi, dalam kenyataannya peran lelaki di dunia publik tetap dianggap lebih utama dan penting daripada peran perempuan yang identik dengan lingkup domestik.

Dalam situasi sosial itu, tak mengherankan jika anak perempuan seperti mengidolakan ”menjadi seperti lelaki”. Hal yang paling mudah ditiru adalah mengadopsi perilaku yang diasosiasikan pada maskulinitas. Di sisi ini kita bisa memahami mengapa anak perempuan melakukan tindak kekerasan kepada perempuan lain. Mereka sedang menunjukkan sisi maskulinitas dirinya dan mereka menganggap itu tindakan hebat.

Tidak eksklusif

Kekerasan memang bukan eksklusif perilaku lelaki sebab kekerasan bukan bawaan, melainkan konstruksi sosial atau didikan dan pola asuh. Secara teoretis, kekerasan hanya dimungkinkan bila terpenuhi kondisi yang memungkinkan. Menurut Lies Marcoes (Gender dan Pembangunan, 2002), setidaknya ada tiga hal yang bisa menjelaskan pola kekerasan bila menggunakan analisis jender.

Pertama, kekerasan hanya terjadi manakala ada ketimpangan relasi. Dengan begitu, kekerasan bisa dialami siapa saja dalam hubungan hubungan yang timpang. Misalnya, kekerasan perbedaan ras, antara kelompok mayoritas dan kelompok minoritas, antara orang tua/dewasa dan anak-anak, antara guru dan murid, lelaki dan perempuan, perempuan dewasa/kakak kelas dengan perempuan lebih muda/adik kelas.

Di sekolah, kekerasan terjadi antara kakak kelas dan adik kelas di mana relasi itu sedemikian rupa timpangnya sehingga kakak kelas bisa berbuat semena-mena kepada adik kelas.

Kedua, kekerasan selalu berangkat dari adanya stereotip tentang korban. Misalnya, dalam relasi warga kulit putih dan kulit hitam, kekerasan berangkat dari suburnya anggapan bahwa orang-orang kulit hitam pelaku kriminal, penjahat, pengedar narkoba, dan pembuat keonaran. Adanya anggapan itu membuat warga kulit putih merasa punya legitimasi melakukan tindakan kekerasan.

Tanpa adanya legitimasi yang dijadikan dasar pembenaran dari tindakan itu, kekerasan sulit untuk terjadi. Dalam konteks kekerasan pada murid sekolah, stereotip yang dihidupkan pasti seputar tingkah laku adik kelasnya yang dinilai sok tahu, sombong, tak sopan, melawan, tak mau diatur oleh kakak kelas.

Dengan alasan itulah, kakak kelas merasa punya legitimasi ”mengajari” adik kelasnya. Dengan cara ”mengajari” ini, kelak diharapkan si adik bisa tunduk. Jika tidak tunduk, yang terjadi lebih gawat lagi. Itulah ciri kekerasan ketiga, yaitu meningkatnya bentuk kekerasan.

Jika sebelumnya hanya dalam bentuk hinaan verbal, lama kelamaan baik bentuk maupun frekuensinya akan meningkat. Tak heran anak-anak perempuan sebagai pelaku meningkatkan bentuk kekerasannya dari verbal menjadi fisik seperti yang kita lihat di media televisi. Karena perempuan juga meniru kekerasan yang dilakukan abang-abangnya seperti yang dilakukan siswa senior IPDN, mereka pun meniru model kekerasan para lelaki itu, seperti menampar dan menendang.

Lalu, apa yang harus kita lakukan? Dari analisis jender sudah lama sebetulnya ditawarkan agar model pendidikan dan pengasuhan lebih mengutamakan hubungan-hubungan yang didasarkan pada karakter feminin, misalnya mengembangkan kasih sayang daripada menerapkan disiplin gaya maskulin yang didasari karakter keras, melindungi dan bukan menguji nyali, mengutamakan kebersamaan, dan saling mendukung bukan saling bersaing.

Selain itu, kita juga harus bisa memutus rantai kekerasan tersebut dengan menghilangkan faktor-faktor yang membuat anak-anak menjadi frustrasi atau agresif. Mereka terlalu jenuh melihat orang-orang dewasa yang saling membunuh dalam peperangan atau konflik, mereka jijik melihat pertengkaran di parlemen atau partai. Intinya adalah mereka membutuhkan teladan dan bukan hukuman dengan pemecatan. Sebab, pemecatan tak akan menyelesaikan masalah, melainkan hanya memindahkan masalah. Sementara akar masalah yang sebenarnya tak benar-benar diatasi.

Nunung Sulastri Kepala Sekolah Taman Kanak-kanak ABA 26 Gayamsari, Semarang, Jawa Tengah


Editor :