Jumat, 24 Oktober 2014

News /

FESTIVAL JATON 2011

Melacak Jejak Pengikut Diponegoro

Senin, 2 Mei 2011 | 02:49 WIB

Jaton merupakan akronim dari (etnis) Jawa-Tondano, sebuah etnis percampuran antara suku Jawa pengikut Pangeran Diponegoro dengan perempuan Tondano, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara. Mereka tersebar di wilayah Sulawesi Utara hingga Gorontalo. Melalui sebuah festival budaya, jalinan persaudaraan keturunan Jawa-Tondano dijalin kembali.

Munculnya istilah Jaton berawal saat Pangeran Diponegoro dibuang penjajah Belanda ke Minahasa tahun 1830. Bersama pengikutnya yang dipimpin Kyai Modjo, mereka beberapa kali pindah tempat pengasingan. Tak lama kemudian, Pangeran Diponegoro dipindah ke Ujung Pandang (Makassar) sampai akhir hayatnya pada tahun 1855.

Tersisalah Kyai Modjo dan 63 pengikutnya yang semuanya laki-laki. Setelah beberapa kali berpindah tempat pengasingan, Kyai Modjo menetap di tepian Danau Tondano. Para pengikut Kyai Modjo akhirnya menikahi perempuan asli Tondano hingga beranak-pinak. Dari situlah muncul istilah Jaton dan Kampung Jaton. Kyai Modjo wafat pada tahun 1849 dan dimakamkan di Kampung Jaton.

Menurut tokoh adat Jaton di Gorontalo, Mohammad Kyai Wonopatih (58), setelah perkampungan Jaton di Tondano penuh, sebanyak 62 keluarga di bawah pimpinan Abdul Nawas Kyai Modjo pindah ke Gorontalo tahun 1915. Abdul Nawas dibantu tujuh wakilnya, yaitu Tawakal Kyai Wonopatih, Taslim Kyai Pulukadang, Raden Mas Saekan, Doko As’ad, Montong Wonopatih, Meman Wonopatih, dan Iman Kyai Modjo. Mereka menumpang kapal Belanda ”Bonteque” secara gratis.

Daerah yang mereka tuju pertama kali setiba di Gorontalo adalah daerah yang kemudian dinamakan Desa Yosonegoro di Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo. Setelah sekitar 10 tahun, sebagian di antara mereka pindah lagi ke arah barat dari Desa Yosonegoro untuk membuat permukiman baru yang kini dinamakan Desa Reksonegoro, Kecamatan Tibawa, Kabupaten Gorontalo.

”Nenek moyang kami bisa diterima oleh penduduk asli karena adanya pertukaran budaya di bidang pertanian. Warga Jaton sebagai pendatang baru mengajarkan budidaya pertanian yang mereka bawa dari Jawa kepada penduduk lokal. Selain itu, sikap orang Jawa yang luwes bergaul membuat mereka mudah diterima,” tutur Mohammad Kyai Wonopatih, keturunan keempat dari Kyai Wonopatih, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro, awal Maret lalu.

Tanah aneka rasa

Menurut Mohammad Kyai Wonopatih, ada cara unik yang dipakai nenek moyang mereka untuk memilih tanah tempat tinggal. Cara tersebut adalah mengambil sedikit tanah dan dikecap di lidah. Tanah yang hanya berasa pahit, manis, asam, atau asin tidak akan dipilih sebagai tempat tinggal. Lokasi yang ditentukan sebagai tempat tinggal adalah tanah yang memiliki aneka rasa, seperti asam, pahit, manis, dan asin.

”Tanah yang hanya berasa asin saja, manis saja, atau hanya pahit tidak akan membuat betah penghuni di atasnya. Jadi, nenek moyang kami memilih tanah yang mengandung semua rasa, yakni asam, manis, asin, dan pahit. Jadilah Yosonegoro dan Reksonegoro dipilih sebagai permukiman,” tutur Mohammad Kyai Wonopatih.

Selain Desa Yosonegoro dan Reksonegoro, etnis Jaton di Gorontalo semakin memperbanyak wilayah permukiman mereka karena bertambahnya populasi. Tercatat ada lima desa baru selain kedua desa yang disebutkan di awal. Kelima desa baru itu adalah Kaliyoso, Mulyonegoro, Rejonegoro, Salilama, dan Bandungrejo. Ketujuh desa itu masih berada di wilayah Kabupaten Gorontalo.

Untuk menyatukan kembali etnis Jaton yang bertebaran itu, diselenggarakanlah Festival Budaya Jawa Tondano yang tahun ini merupakan penyelenggaraan keenam. Pada festival ini dilombakan berbagai budaya, seperti karnaval dan seni hadrah, atau dalam bahasa Jaton disebut rodat. Kegiatan ini diikuti semua warga etnis Jaton yang ada di Sulawesi Utara dan Gorontalo.

Menurut Panitia Festival Budaya Jawa Tondano, Mulyono Kyai Demak, selain melestarikan warisan budaya leluhur mereka, festival ini ditujukan untuk menyatukan kembali jalinan persaudaraan sesama Jaton. Tak jarang, banyak warga Jaton yang memiliki persamaan garis keturunan, tetapi tidak saling mengenal. Salah satu tanda kesamaan garis keturunan atau marga adalah nama belakang warga Jaton.

”Nama belakang orang Jaton diambil dari nama nenek moyang kami, yaitu pengikut Pangeran Diponegoro. Penyematan nama marga ini dimaksudkan agar tali persaudaraan antar-Jaton tidak terputus,” kata Mulyono yang merupakan keturunan kelima Kyai Demak, salah satu pengikut Pangeran Diponegoro yang dibuang ke Minahasa.

Menurut Mulyono, tidak tercatat pasti berapa populasi Jaton di Sulut dan Gorontalo. Selain itu, di era modern seperti sekarang ini, secara perlahan banyak warga Jaton yang kurang mengenal bahasa Jawa dengan baik. Pasalnya, bahasa sehari-hari di rumah adalah bahasa Tondano yang tak lain adalah bahasa ibu mereka.

”Etnis Jaton yang masih fasih berbahasa Jawa adalah orang tua dan nenek kami. Anak-anak sekarang bisa dikatakan langka yang bisa berbahasa Jawa karena bahasa sehari-hari adalah bahasa ibu, yaitu Tondano. Hanya saja, masih ada kosakata Jawa yang kami pakai, seperti ngarep (depan), jangan (sayur), atau jero (dalam),” turut Mulyono. (Aris Prasetyo)

 


Editor :