Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Edukasi

PENDIDIKAN TINGGI

Kolaborasi Internasional di Institute of Social Studies

Rabu, 9 November 2011 | 14:04 WIB

Terkait

DEN HAAG, KOMPAS.com - Bicara mengenai studi kemiskinan dan pembangunan negara-negara berkembang (development countries), Belanda memang ahlinya. Salah satu pusat pendidikan yang sangat menonjol dengan keahlian itu adalah Institute of Social Studies (ISS) di Den Haag. KOMPAS.com berkunjung ke kampus tersebut awal September lalu dan berbincang dengan beberapa pelajar Indonesia tentang masalah multikultur.

"Multikultur itu masalah yang kita lihat dengan jelas di depan mata kita di Indonesia. Namun, sebetulnya bukan cuma Indonesia atau negara-negara berkembang saja yang bermasalah dengan persoalan multikultur, di banyak dunia lain juga," ujar Tamara Michelle Yasmin Soukotta, mahasiswi peraih beasiswa studi S-2 di kampus tersebut.

"Di sini (Belanda), seperti kita tahu, juga berkembang misalnya isu antiimigran. Jadi, soal-soal semacam ini tidak cuma kita temui di Indonesia, agak tidak fair kalau kita hanya menyebut persoalan ini hanya ada di negara-negara berkembang," ujarnya.

Sampai saat ini ISS memang banyak menerbitkan edisi jurnal Development and Change mengangkat berbagai kajian tentang kemiskinan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat di berbagai belahan dunia, terutama di negara-negara miskin atau berkembang seperti Indonesia. Jurnal-jurnal tersebut menjadi salah satu jurnal bergengsi di dunia, khususnya untuk isu-isu kemiskinan atau pembangunan.

Tak heran, lanjut Tamara, ISS sangat kuat mengkritik budaya kekerasan (culture of violence) yang banyak merebak di negara-negara berkembang. Hanya saja, penerapan kritik tersebut di kampus ini diperkenalkan kepada para mahasiswa dalam perspektif global.

"Saya akui, sebetulnya belajar tentang multikultur di sini lebih banyak secara personal karena di sini dipenuhi pelajar internasional. Di situlah hebatnya, yaitu tidak ada perbedaan atau hegemoni yang ditularkan di sini. Semua bebas berpendapat dan memilih, namun saling menghormati," kata Tamara.

Pendapat tersebut diamini Ridwan Aman Doloksaribu, mahasiswa S-2 dari program studi Development Studies bidang Rural Livelihoods and Global Change. Soal isu perbedaan agama misalnya, lanjut Ridwan, adalah masalah yang bebas diperbincangkan tanpa ada rasa ancaman dan paksaan.

"Mungkin, selama ini yang digariskan pada kita itu rasa kebenciannya, bukan pada esensi dari agama itu sendiri. Perbedaan di sini bukan sesuatu untuk saling menyerang, tapi begitu indah dibicarakan atau didiskusikan," ujar Ridwan.

"The Hague"

Bersama-sama dengan para pelajar internasional lainnya, tahun ajaran 2011/2012 ini ada sekitar 28 mahasiswa baru asal Indonesia. Umumnya, berlatar belakang lembaga swadaya masyarakat (LSM), pegawai negeri sipil (PNS) atau BUMN, para pelajar tersebut adalah penerima beasiswa pemerintah Belanda melalui Nuffic Neso untuk melanjutkan studi S-2 untuk bidang-bidang sosial.

Wieke Blauuw, Deputi Pendaftaran Akademik ISS mengatakan, mulai 2009 lalu kampus yang berdiri sejak 1952 ini masuk dalam struktur Erasmus University Rotterdam (EUR) dan bekerjasama di berbagai area.

Kolaborasi tersebut semakin memperkuat ISS dalam kerjasama program pengajaran dan riset. Salah satu yang menonjol adalah Perpustakaan ISS-EUR yang memberikan akses bagi pelajar dan pengajar pada 5000 jurnal elektronik dan lebih dari 300 e-book

"Semua pelajar internasional memang berkumpul di sini. Setiap tahun itu sekitar 350 pelajar datang dari 60 negara. Mereka ini rata-rata masih muda dan berlatar belakang karir profesional menengah, baik itu di LSM, institusi pemerintah, maupun kementerian," ujar Wieke. 

Wieke mengatakan, berada di "The Hague" (kota kosmopolitan) Den Haag, ISS sejak lahirnya 59 tahun lalu menjadi incaran pelajar internasional karena sangat fokus pada studi pembangunan. ISS memberikan pembelajaran dan riset-riset yang terfokus pada studi pembangunan sebagai bidang studi multidisiplin dan interdisiplin yang memberikan pemahaman-pemahaman sosial, perubahan politik dan ekonomi, dan pembangunan.

"Pada tataran global dunia, studi pembangunan sangat dibutuhkan untuk mengajak pemahaman mahasiswa berhubungan dengan komunitas-komunitas sosial terkait di satu sisi dengan komunitas sosial lain di daerah atau kawasan spesifik di negara lain. Di sinilah akan diuji, bagaimana mereka memberi penilaian tantang cara pandang bermasyarakat dari perspektif sejarah, cara pandang global, lalu menerjemahkannya ke dalam situasi politik, tindakan politik, dan kemudian strategi-strategi pembangunan," papar Wieke.

"Krisis dunia, konflik-konflik internasional, negosiasi WTO dan kesepakatan perubahan iklim dan MDGs adalah elemen-elemen yang jelas berimplikasi pada komunitas lintas dunia. Hal-hal ini yang mereka pelajari, mereka kritisi di sini," tambahnya.


Penulis: M.Latief
Editor : Latief