Selasa, 28 Maret 2017

Edukasi

BrandzView

Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dan Indonesia International institute For Life Sciences

Tenaga Kerja dan Jalan Terjal Industri Farmasi Indonesia...

Kamis, 9 Maret 2017 | 07:31 WIB
Thinkstock/CreativaImages Ilustrasi industri farmasi, salah satu usaha yang bertumpu pada riset dan penguasaan sains


KOMPAS.com
- Industri farmasi nasional masih menghadapi banyak tantangan. Pemasok kebutuhan 70 persen kebutuhan farmasi dalam negeri ini ibarat menghadapi jalan terjal, karena tantangan utamanya mencakup ketersediaan tenaga kerja andal.

Presiden Joko Widodo sampai mengeluarkan regulasi tersendiri untuk mendapatkan solusi bagi salah satu representasi industri berbasis sains ini. Wujudnya,  Instruksi Presiden Nomor 6 Tahun 2016 tentang Percepatan Pengembangan Industri Farmasi dan Alat Kesehatan.

Salah satu poin instruksi tersebut memerintahkan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi untuk mengoordinasikan dan mengarahkan penelitian dan pengembangan ketersediaan farmasi dan alat kesehatan.

"(Penelitian dan pengembangan) yang berorientasi terhadap kebutuhan dan pemanfaatan," tegas Presiden seperti dilansir dalam situs web Sekretariat Kabinet pada Selasa (19/7/2016).

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi diminta pula melakukan dan mendorong pengembangan tenaga riset dan mendirikan fasilitas riset, terutama studi klinik dan studi non-klinik.

"(Pengembangan itu) dalam rangka memenuhi kebutuhan tenaga ahli, industri farmasi, dan alat kesehatan," sebut instruksi itu.

Thinkstock/Wavebreakmedia Ltd Ilustrasi industri farmasi, salah satu usaha yang sangat bergantung pada riset dan penguasaan sains.
Semangat pemenuhan kebutuhan tenaga kerja andal di industri berbasis sains seperti farmasi ini pun bak gayung bersambut dengan dunia perguruan tinggi.

Institute for Life Science (i3L), misalnya, bahkan sudah punya program Master Bio-Management.

“Kami ingin membantu industri (berbasis) sains di Indonesia," ujar Kepala Program Master Bio-Management i3L Christina Gomez, kepada Kompas.com, Senin (16/1/2017).

Menurut Gomez, i3L menggelar pendidikan memakai kurikulum yang memadukan sains dan bisnis.

Program Master Bio-Management, lanjut Gomez, juga dirancang untuk menjawab kebutuhan tenaga ahli bagi industri berbasis life sciences.

Lewat program itu, lanjut Gomez, para mahasiswa dapat memperoleh gambaran utuh mengenai alur kerja di perusahaan berbasis sains, termasuk industri farmasi.

Mereka bisa belajar langsung dan menyelami betapa industri ini berkembang cepat mengikuti hasil penelitian terbaru.

Tak sekadar siap pakai

Lulusan i3L pun diharapkan tak sekadar siap pakai, tetapi juga punya kompetensi sesuai kebutuhan industri, termasuk untuk kualifikasi manajerial. Kenapa?

“Kami kadang-kadang sampai mengambil tenaga (kerja level manajerial) dari luar negeri,"  tutur Direktur PT Kalbe Farma, Vidjongtius, saat dihubungi Kompas.com, Rabu (1/2/2017).

Menurut dia, mencari tenaga ahli siap pakai dari dalam negeri di industri farmasi bukan pekerjaan mudah. Selama ini, ujar Vidjongtius, perusahaannya menggunakan opsi pelatihan internal untuk mengejar standar kebutuhan kualifikasi tenaga kerjanya.

(Baca juga: Gawat... Indonesia Kekurangan Tenaga Kerja Level Manajerial)

Namun, tak semua perusahaan farmasi punya solusi yang sama. Terlebih lagi, biaya pelatihan semacam itu tidaklah murah.

“Perusahaan farmasi yang sedang berkembang lebih memilih merekrut tenaga ahli dari perusahaan sejenis (yang sudah jadi). Istilahnya 'membajak',” ungkap Direktur Eksekutif International Pharmaceutical Manufacture Group (IPMG) Parulian Simanjuntak, kepada Kompas.com, Kamis (2/2/2017).
KOMPAS IMAGES / RODERICK ADRIAN MOZES Pencari kerja mengisi lamaran di salah satu stan perusahaan di Kompas Karier Fair di Balai Kartini, Jakarta, Jumat (30/8/2013). Acara yang berlangsung hingga 31 Agustus ini menyediakan ribuan lowongan pekerjaan dari total peserta pameran 205 perusahaan nasional, multinasional, BUMN, kementerian, dan lembaga pemerintah.

Menyikapi tantangan tersebut, Gomez menyatakan, yang dibutuhkan saat ini adalah mengembangkan potensi sumber daya manusia—yang sebenarnya ada di dalam negeri ini—agar bisa memenuhi standar kebutuhan industri.

“Industri berbasis sains di dalam negeri sedang berkembang. (Pemerintah) Indonesia dan warga negaranya harus membantu industri itu terus tumbuh,” ujar Gomez.

Terlebih lagi, tantangan industri seperti farmasi ini juga membentang dari sisi pemenuhan bahan baku. Seperti ditulis Kompas.com, Jumat (22/1/2016), sekitar 90 persen bahan baku obat di Tanah Air berasal dari luar negeri alias barang impor.

Menurut Vidjongtius, kondisi itu terjadi karena penelitian belum menjadi fondasi kuat dalam perkembangan industri farmasi di dalam negeri. Belum lagi, lanjut dia, Indonesia relatif telat membangun industri kimia dasar sebagai pemasok sebagian besar bahan baku tersebut.

“Kita sudah jauh tertinggal dari India, China, Taiwan dan Korea Selatan. Selain punya perhatian tinggi untuk penelitian, negara-negara itu mengembangkan pula industri kimia dasar,” papar Vidjongtius.

Satu-satunya cara untuk mengejar ketertinggalan adalah dengan mulai membuat solusi, laiknya ujaran lama "seribu langkah dimulai dari langkah pertama". Bisa jadi, solusi untuk industri berbasis sains sudah seharusnya datang dari kampus yang memberikan pilihan tepat bagi putra-putri bangsa.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:

Penulis: Mikhael Gewati
Editor : Palupi Annisa Auliani
TAG: