Ismail Marzuki, "Bing Crosby" dari Betawi - Kompas.com

Ismail Marzuki, "Bing Crosby" dari Betawi

Palupi Annisa Auliani
Kompas.com - 02/08/2017, 17:29 WIB
Dokumentasi foto Ismail Marzuki milik Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata (kiri) dan lukisan dari Taman Ismail Marzuki (kanan).Dok Taman Makam Pahlawan Kalibata/Taman Ismail Marzuki Dokumentasi foto Ismail Marzuki milik Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata (kiri) dan lukisan dari Taman Ismail Marzuki (kanan).


Ini gara-gara Raisa berakrab-akrab dengan Presiden Joko Widodo, Kamis (9/3/2017), yang lalu menyanyi lagu Indonesia Pusaka besutan sang maestro musik Ismail Marzuki. Mendadak jadi berasa cinta banget sama tanah tumpah darah.

(Baca: Saat Jokowi Berdua dengan Raisa...)

Lagu itu pada dasarnya memang sudah selalu keren dalam berbagai versinya. Diciptakan pada 1942, lirik lagu tersebut tidak bertele-tele. Panjang pun tidak.

Simak saja versi lagu tersebut yang dinyanyikan mendiang Utha Likumahuwa dalam penampilan bersama Twilite Orchestra di Sydney Opera House pada 2009. Berikut ini video rekamannya, atas seizin Addie MS, konduktor dan salah satu pendiri Twilite Orchestra:

Ngomong-ngomong, masih pada kenal dengan Bang Maing—salah satu panggilan Ismail Marzuki—ini?

Dalam beberapa referensi yang ditelusuri Kompas.com, nama musisi dan penyanyi ini sebenarnya hanya Ismail. Bapaknya yang bernama Marzuki. Entah kenapa, dua nama itu lama-lama jadi menyatu, bukannya tetap tertulis Ismail bin Marzuki.

“Sebenarnya di Betawi lumrah saja nama hanya satu kata. Namun, sepertinya orang merasa harus memodernkan sosok Ismail ini, jadi dilekatkanlah nama bapaknya, yang harusnya itu pun pakai ‘bin’ di antara Ismail dan Marzuki,” tutur sejarawan JJ Rizal, Rabu (2/8/2017).

Betul, Ismail adalah putra bangsa dari tanah Betawi. Lahir di kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, dan meninggal di Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Makamnya ada di kompleks Tempat Pemakaman Umum Karet, Jakarta Pusat.

Kemampuan dan pembawaan Ismail pada masa jayanya disandingkan dengan Bing Crosby—musisi, penyanyi, penulis lagu, dan aktor Amerika Serikat dari generasi yang sama. Selera penampilan pun menyerupai.


Namun, hidup Ismail tidak panjang. Dia meninggal pada usia 44 tahun karena sakit pada 1958. Meski begitu, jejak langkahnya masih membekas dalam sampai sekarang, terutama lewat lagu-lagu gubahannya.

Ismail menciptakan tak kurang dari 200 lagu. Indonesia Pusaka adalah salah satunya. Dia pun piawai menggubah lagu bernuansa romansa, selain tembang-tembang penyemangat perjuangan dan kecintaan pada Tanah Air.

Namanya lagu Aryati, dulu sudah jadi tembang wajib buat para jejaka yang sedang dimabuk kepayang gadis idaman. Masih ada juga lagu O Sarinah—lagu gubahan pertamanya—, Kopral Djono, Rayuan Pulau Kelapa, Juwita Malam, Gugur Bunga....

Kalau boleh dibilang capaian luar biasa, genre lagu-lagu gubahan Ismail pun beraneka rupa. Dari keroncong sampai swing.

Nada-nada dan lirik besutannya itu pun sejak dulu bergema tak hanya di Jakarta atau Indonesia, tapi sampai juga ke negara tetangga bahkan tanah Eropa. Bila perlu liriknya pun menggunakan bahasa setempat.

Memaknai ulang kepahlawanan Ismail

Kontroversi mewarnai juga jejak rekam Ismail. Misalnya, lagu Halo-halo Bandung yang disebut Presiden Soekarno sebagai karyanya padahal diduga bukan.

Terlepas dari sekelumit kontroversi tersebut, kepiawaian Ismail dengan lagu dan alat musik mendapat banyak pengakuan. Kenangan atasnya melintasi zaman.

Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pada 1968 menetapkan nama Ismail untuk pusat kesenian, yang sampai sekarang masih ada di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, yaitu Taman Ismail Marzuki.

Edisi 106 Majalah Rolling Stone yang terbit pada Februari 2014, sampai menempatkan sosok ini sebagai pemuncak di daftar 100 Pencipta Lagu Indonesia Terbaik.

Lalu, Penerbit Buku Kompas pada tahun yang sama menerbitkan buku “Seabad Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman” karya Ninok Leksono.

Wartawan senior Kompas, Ninok Leksono, bercerita mengenai proses membuat  buku Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman, karyanya, saat diluncurkan di Hotel Santika Premiere, Jakarta Barat, Senin (19/5/2014). Peluncuran buku ini juga menandai peringatan seabad Ismail Marzuki, komponis besar Indonesia.


 *** Local Caption *** Wartawan Kompas Ninok Leksono bercerita mengenai proses pembuatan dan isi buku KOMPAS/HERU SRI KUMORO Wartawan senior Kompas, Ninok Leksono, bercerita mengenai proses membuat buku Ismail Marzuki, Senandung Melintas Zaman, karyanya, saat diluncurkan di Hotel Santika Premiere, Jakarta Barat, Senin (19/5/2014). Peluncuran buku ini juga menandai peringatan seabad Ismail Marzuki, komponis besar Indonesia. *** Local Caption *** Wartawan Kompas Ninok Leksono bercerita mengenai proses pembuatan dan isi buku

Satu dekade sebelumnya, pada 2004, Ismail pun ditetapkan menjadi pahlawan nasional. Penetapannya berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 089/TK/TH.2004 tertanggal 5 November 2004.

Rizal memberi catatan, sosok Ismail sebagai pahlawan nasional harus diakui kerap terasa dikecilkan. “Terlebih lagi, dia dianggap bukan musisi sekolahan. Baca partitur saja tidak bisa,” ujar Rizal.

Orang lupa, lanjut Rizal, banyak tokoh pejuang dan pendiri bangsa yang juga tak mengenyam pendidikan tinggi. Banyak orang tak tahu juga, tutur Rizal, lagu Indonesia Pusaka besutan Ismail pernah hampir dipilih untuk menggantikan Indonesia Raya sebagai lagu kebangsaan.

Buat generasi sekarang, pilihan Ismail mogok kerja tanpa gaji dari Radio Republik Indonesia ketika Belanda menduduki kembali Indonesia, bisa jadi bahkan dianggap tak masuk akal.

Toh, kesusahan hidup dan kondisi kesehatannya yang memburuk tak lalu membuat Ismail membuat lagu bernuansa gelap. Lagu gubahan terakhirnya saja berjudul "Inikah Bahagia".

Terkait dengan bulan kemerdekaan, Rizal berpendapat, sosok Ismail saat ini menjadi punya makna penting tersendiri, sebagai pengingat kepada masa-masa revolusi kemerdekaan dan semangat nasionalisme.

“Dia itu ibarat 'souvenir' dari masa revolusi, sesuatu yang harus didapatkan ketika mengenang masa perjuangan kemerdekaan,” ujar dia.

Meski begitu, Rizal mengingatkan, nasionalisme yang dibutuhkan saat ini tidak bisa begitu saja dapat disamakan dengan situasi pada perjuangan kemerdekaan.

Soal tak bertambahnya koleksi lagu-lagu wajib nasional yang membekas dalam lagi, menurut dia juga bukan persoalan yang harus terlalu dikhawatirkan.

“Puncak nasionalisme waktu itu ya proklamasi kemerdekaan. Tantangan kita sekarang adalah mencari bentuk baru yang pas untuk masa kekinian. Itu yang dulu juga dicari Soekarno dengan berbagai doktrinnya tapi belum juga ketemu,” ujar Rizal.

Mungkin menyimak lagi lagu-lagu Ismail yang bertutur soal keelokan Indonesia dan kebanggaan atasnya, tetap bisa jadi cara sih. Siapa tahu, dari situ ada inspirasi buat kita buat merumuskan “wajah baru” nasionalisme yang lebih kekinian dan berkemajuan.

Kalau Raisa kepada Presiden Joko Widodo berharap bisa menjadi penyanyi kelas dunia meski tetap berdomisili di Indonesia, misalnya, maka sosok, kiprah, dan karya Ismail semestinya bisa langsung jadi rujukan dan inspirasi. Tak ada larangan juga buat bidang lain.

Semoga....

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisPalupi Annisa Auliani
EditorPalupi Annisa Auliani
Komentar
Close Ads X
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM