Harus Siap Ditempa kalau Mau Kuliah di Belanda! - Kompas.com
BrandzView
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Nuffic Neso Indonesia

Harus Siap Ditempa kalau Mau Kuliah di Belanda!

Auzi Amazia Domasti
Kompas.com - 30/10/2017, 14:41 WIB
Para penerima Beasiswa StuNed 2017 mendapat arahan tentang kehidupan pelajar di Belanda saat Welcoming Session, di Conclave, Jakarta Selatan, Sabtu 17 Juni 2017.Auzi Amazia/KOMPAS.com Para penerima Beasiswa StuNed 2017 mendapat arahan tentang kehidupan pelajar di Belanda saat Welcoming Session, di Conclave, Jakarta Selatan, Sabtu 17 Juni 2017.

KOMPAS.com - Melanjutkan kuliah di luar negeri memang terlihat keren. Namun, jangan salah sangka, ada tantangan lebih yang harus dihadapi. 

Beberapa di antaranya, terjebak plagiarism, nyaris tak bisa mengikuti sidang akhir, kendala penulisan ilmiah, hambatan bahasa, sampai momen menangis saat mengerjakan tugas.

Salah satu alumni lembaga pendidikan non-profit Netherlands Education Support Office (Neso) Indonesia, Dhani Astuti, menceritakan pengalaman-pengalamannya tersebut ketika kuliah S- 2 di Belanda.

Walau bukan Dhani sendiri yang mengalami, dia mengetahui betapa beratnya sanksi akibat melakukan plagiarism. Memang, pengawasan akan kaidah penulisan ilmiah yang baik dan benar sangat ketat ketika kuliah di luar negeri, termasuk di Belanda.

Bila mau lanjut kuliah di luar negeri, perlu diingat kembali kalau Anda tidak bisa copy-paste asal-asalan saat mengerjakan tugas apa pun. Karena faktanya, di setiap tugas akhir mahasiswa maupun tugas biasa akan ada software engineering yang dapat mengecek setiap kata dan kalimat yang ditulis.

Mantan mahasiswa master dari jurusan Governance, Policy and Political Economy, Institute of Social Science, Erasmus University, Den Haag, itu mengaku ketika awal kuliah di sana ia mengalami masalah cara mengutip yang benar.

"Setiap tugas, baik paper satu halaman atau dua halaman kita (langsung) upload dan di cek di software plagiarism. Bila terdeteksi lebih dari 5 kali (plagiat) langsung disidang," ujar Dhani pada Rabu (18/10/2017).

Para mahasiswa Indonesia di Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation (ITC), Universitas Twente, usai bertemu dengan tim Nuffic Neso Indonesia, Rabu (4/3/2015). Anak-anak Indonesia, ketika belajar di Belanda, tidak bisa lagi bermanja-manja dengan waktu dan kenginan.  M Latief/KOMPAS.com Para mahasiswa Indonesia di Faculty of Geo-Information Science and Earth Observation (ITC), Universitas Twente, usai bertemu dengan tim Nuffic Neso Indonesia, Rabu (4/3/2015). Anak-anak Indonesia, ketika belajar di Belanda, tidak bisa lagi bermanja-manja dengan waktu dan kenginan.
Dhani merasa pengalaman belajar masa kuliahnya pada 2013 itu cukup berat, tetapi sangat melatih kemampuan menulis akademiknya. Ia merasa kemampuan itu bermanfaat sekali ketika membuat riset dan membantu pekerjaannya kini sebagai auditor di Sektorat Kota Yogyakarta.

Namun, tak perlu khawatir bila kemampuan menulis akademik di awal kuliah belum benar. Dhani menjelaskan, pada  awal semester mahasiswa akan diberi kelas menulis akademis dan bahasa Inggris guna meratakan standar penulisan.

Sebab, memang mahasiswa yang belajar di kampusnya dulu berasal dari berbagai belahan dunia sehingga kemampuan menulisnya pun berbeda-beda.

Jumat (12/10/2017) siang, Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia, Indy Hardono, juga membeberkan pengalaman buruk salah satu mahasiswa Indonesia yang sedang lanjut kuliah  di Belanda. Kejadiannya baru beberapa bulan lalu dan terkait tugas akhir mahasiswa tersebut.

[Baca Juga: Alumni Kampus Belanda Buka-bukaan Trik Sukses Raih Skor IELTS Tinggi!]

Indy menceritakan, tesis mahasiswa itu terhambat dan terancam tidak akan berlanjut ke tahap sidang.

“Alasannya karena dia self-plagiarism. Tidak mengutip dengan benar, walau sumber kutipannya dari tugas dia sebelumnya,” ujar Indy saat ditemui Kompas.com, Jumat (12/10/2017)

Namun, akhirnya Indy lega setelah mendapat kabar kalau mahasiswa itu bisa melanjutkan sidang akhirnya. Sebab, bila gagal sidang akibat kesalahan sendiri, tentu beasiswa tak bisa lagi menopang biaya kuliah mahasiswa itu pada semester tambahannya.

Rebutan belajar

Nah, Anda juga harus mau gigih dan lebih kompetitif dalam bejar jika mau kuliah di luar negeri. Contohnya saat belajar di perpustakaan.

Pengalaman Dhani ketika musim ujian, kondisi perpustakaan di kampusnya cepat penuh. Bahkan, untuk masuk perpustakaan pun harus mengantre panjang sejak pagi.

Banyak pengalaman lebih yang didapat Dhani Astuti saat kuliah di Belanda, termasuk dalam menjalin relasi dengan teman baru dari berbagai negara.Auzi Amazia Domasti Banyak pengalaman lebih yang didapat Dhani Astuti saat kuliah di Belanda, termasuk dalam menjalin relasi dengan teman baru dari berbagai negara.
“Pernah mengira-ngira di akhir pekan perpustakaan kota (luar kampus) pasti sepi. Ternyata di sana penuh (banyak pelajar) juga,” imbuh Dhani.

Tak hanya itu, bila dosen meminta untuk membaca bahan kuliah, maka Anda harus benar-benar membaca dan mencernanya dengan baik. Sebab, bahan itu nantinya pasti akan menjadi diskusi interaktif di kelas antara dosen dan mahasiswa.

Untuk itu, mahasiswa disarankan paling tidak membaca materi sehari sebelum kelas dimulai. Menurut Dhani, kemampuan membaca mahasiswa yang berasal dari negara yang tak memakai bahasa Inggris bisa lebih lambat dari mahasiswa Amerika atau Eropa. 

[Baca Juga: Tak Lagi ke China, “Zaman Now” Tuntut Ilmu Sampai ke Negeri Belanda!]

Karenanya, baik membaca dan belajar jadi harus lebih ekstra. “Ada saja momen ketika ngerjain tugas sambil menangis,” aku Dhani.

Nah, bila masih bertekad kuat untuk lanjut kuliah di luar negeri, persiapkan diri Anda dan carilah banyak informasi. Bila masih penasaran seputar informasi kuliah di luar negeri, terutama di Belanda, Anda bisa menghadiri acara pameran pendidikan seperti Dutch Placement Days 2017. 

Di sana akan ada one-on- one session dengan perwakilan universitas di Belanda. Pengunjung pun bisa langsung bertemu dengan perjanjian terlebih dahulu. 

Acara tersebut akan digelar di dua kota, yakni Surabaya pada Senin, 30 Oktober 2017, dan Jakarta pada Jumat, 3 November 2017.

Selain itu, para peserta juga bisa memperoleh informasi mengenai berbagai beasiswa untuk studi di Belanda, seminar menulis esai motivasi kuliah atau motivation statement, dan mengikuti IELTS Predicition Test. 

Tunggu apa lagi? Lihat informasi lengkapnya dan daftar sekarang juga di www.nesoindonesia.or.id/daftardpd2017.

Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
PenulisAuzi Amazia Domasti
EditorLatief

Komentar
Close [X]
Radio Live Streaming
Sonora FM • Motion FM • Smart FM