Salin Artikel

7 Cara Melatih Anak Menjaga Kebersihan di Sekolah

KOMPAS.com – Bisa karena biasa. Pepatah ini bisa menjadi gambaran saat guru maupun orangtua menuntut anak untuk senantiasa membuang sampah pada tempatnya.

Membuang sampah, merapikan mainan, atau mencuci tangan menjadi sejumlah sikap yang bisa dilakukan spontan oleh anak bila ia telah dibiasakan untuk hidup bersih sedari kecil. Pembiasaan ini perlu diterapkan di mana saja, terutama di sekolah sebagai “rumah kedua” anak.

Di rumah, anak dapat lebih mudah dilatih untuk hidup bersih karena pengawasan orang tua maupun pengasuh hanya tertuju pada anak. Sedangkan di sekolah, guru perlu memiliki strategi agar kebiasaan hidup bersih dapat dilakukan oleh anak walau tanpa diawasi.

Melansir dari laman resmi Sahabat Keluarga Kemendikbud, pembisaan hidup bersih tak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, namun juga melatih kepekaan anak terhadap lingkungan sekitar dan membantu anak bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Berikut cara untuk melatih anak usia TK maupun SD agar peduli terhadap kebersihan lingkungan mulai dari sekolah.

1. Sediakan tempat sampah

Menjaga kebersihan lingkungan bisa dimulai dari aktivitas sederhana yakni membuang sampah pada tempatnya.

Guru dan pihak sekolah bisa membuat rambu-rambu untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan media gambar berwarna, sehingga mudah dipahami maksudnya oleh anak-anak.

Lakukan pula persuasi atau nasihat langsung yang sifatnya lisan pada anak saat jam istirahat dimulai. Lakukan persuasi ini setiap hari agar tertanam di ingatan anak.

Sekolah juga harus menyediakan tempat sampah dengan jumlah yang memadai atau sesuai kebutuhan, bila memungkinkan dipisah antara tempat sampah organik atau basah dan tempat sampah nonorganik atau kering.

2. Budaya saling mengingatkan

Guru perlu mengajak anak-anak untuk mengingatkan teman yang lupa membuang sampah pada tempatnya.

Beri pemahaman bahwa kebersihan sekolah dan lingkungan adalah tanggung jawab bersama, sehingga mereka harus saling mewujudkan dan menjaganya.

3. Contoh dari orang dewasa

Orang dewasa perlu memberi contoh nyata pada anak, sebab anak lebih mudah meniru ketimbang melaksanakan nasihat. Tanpa adanya kerja sama banyak pihak, kebersihan lingkungan akan sulit terwujud.

Orangtua dan guru bisa memberi contoh untuk peduli pada kebersihan lingkungan sekolah dengan cara memungut sampah yang tercecer.

Lakukan itu sambil memberikan arahan kepada anak-anak untuk melakukan hal yang sama sehingga lebih mudah diingat dan diikuti.

4. Rutin bersihkan kelas

Buat jadwal rutin untuk bersama-sama membersihkan ruangan kelas dengan suasana yang menyenangkan agar sesi bersih-bersih tidak seperti beban.

Anak-anak dapat dibagi menjadi beberapa kelompok dan tiap kelompok bertanggung jawab membersihkan bagian tertentu di kelas. Sediakan alat bersih-bersih dengan bentuk dan warna sesuai dengan usia anak.

Cara ini akan meningkatkan rasa memiliki pada kelas, harapannya anak akan menjaga kelas agar tetap bersih dan nyaman tanpa diminta.

5. Peduli toilet

Toilet biasanya menjadi ukuran bersih atau tidaknya suatu lingkungan sekolah. Kalau toiletnya bersih, biasanya bagian lain dari sekolah juga akan bersih, asri dan tertata dengan baik.

Sebaliknya, jika kondisi toiletnya kotor dan bau, biasanya bagian lainnya juga demikian. Jadi, ingatkan anak-anak untuk menjaga kebersihan dengan menyiram toilet sampai bersih setelah memakainya.

Ajak anak untuk selalu mencuci tangan usai ke toilet atau membuang sampah demi kesehatan diri.

6. Keasrian lingkungan

Bersih saja tak cukup, agar lingkungan sekolah nyaman, keasrian sekolah juga perlu mendapat perhatian.

Untuk membuat lingkungan sekolah lebih asri, guru dan pihak sekolah bisa menetapkan hari tertentu untuk mengajak anak-anak menanam bunga, sayur dan pohon.

Selain membuat lingkungan sekolah indah dan sejuk, anak-anak juga akan turut menjaganya, karena tanaman tersebut mereka yang menanam.

7. Sudut kreatif

Salah satu masalah yang kerap dihadapi guru maupun orangtua saat menjaga kebersihan lingkungan ialah dinding yang kotor akibat coretan anak.

Perlu dipahami bahwa anak membutuhkan media yang luas untuk menuangkan kreativitas, dan bentuk vertikal seperti dinding adalah media yang paling mudah digambar.

Menyediakan satu dinding khusus untuk menggambar bisa menjadi solusi. Selain anak-anak tidak akan iseng menggambari dinding-dinding sekolah, dinding tersebut akan memiliki nilai seni tersendiri.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/01/22/14000091/7-cara-melatih-anak-menjaga-kebersihan-di-sekolah

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.