Memberikan wawasan, menumbuhkan harapan, tanpa gangguan iklan.
Berani coba? Dapatkan Gratis
Salin Artikel

"Melarutkan" Pembelajaran Kimia dalam Semangat Merdeka Belajar

KOMPAS.com - Kebijakan Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka menuntut perubahan paradigma pembelajaran dari pola lama berbasis "teacher center" di mana guru atau dosen menjadi pusat menjadi berbasis siswa atau mahasiswa menjadi subyek pembelajaran.

Hal ini perlu menjadi pondasi dalam berbagai bidang disiplin ilmu, termasuk Kimia. 

Tema ini mengemuka dalam Seminar Nasional "Pembelajaran Kimia di Era Revolusi Industri 4.0" yang diselenggarakan Universitas Terbuka (UT) bersama Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Divisi Pendidikan Kimia pada Sabtu (29/2/2020) di Gedung Serbaguna UT, Tangerang Selatan.

Acara yang digelar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Studi Pendidikan Kimia UT ini menghadirkan 39 pemakalah dan diikuti 150 peserta dari 40 perguruan tinggi yang ada di Indonesia.

Tantangan kompetensi dan digitalisasi

Rektor UT melalui sambutan yang dibacakan Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi dan Kemahasiswaan, Adi Winata menyampaikan setidaknya ada 2 tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini dalam menghadapi era Revolusi Industri 4.0.

"Yang pertama adalah tantangan bagaimana melahirkan lulusan dengan standar kompetensi unggul di bidangnya masing-masing, serta tantangan lain adalah bagaimana mengintergrasikan penguasaan teknologi dalam pembelajaran," ujar Adi.

Menjawab tantangan tersebut, Suyanta, Ketua Divisi Pendidikan Kimia Himpunan Kimia Indonesia (HKI) Suyanta menyampaikan pembelajaran kimia di sekolah maupun perguruan tinggi harus melakukan adaptasi dan transformasi terhadap perubahan.

Suyanta menyampaikan teknologi dapat menjadi solusi terhadap beberapa permasalahan yang selama ini terjadi pembelajaran kimia. Misal, soal mahalnya biaya praktikum laboratorium kimia.

"Dengan IoT (internet of things) dan kecerdasan buatan kini persoalan mahalnya praktikum Kimia bisa dialihkan menggunakan aplikasi berbasis teknologi," jelasnya.

Demikian pula dalam menyampaikan materi, tambahnya, teknologi dapat membantu siswa atau mahasiswa dalam memahami kimia menjadi lebih mudah.

"Dulu tidak mungkin belajar atom dengan melihat atom, tapi kini dengan adanya teknologi siswa dapat melihat langsung atom seperti apa," lanjutnya.

Merdeka Belajar dan kuliah terbuka daring

Prof. Anna Permanasari yang mengangkat tema "Guru Kimia sebagai Penggerak Merdeka Belajar" menekankan pentingnya perubahan cara pandang terhadap esensi pendidikan itu sendiri.

"Pembelajaran harus berorientasi pada kebutuhan siswa itu sendiri. Merdeka Belajar dapat memberikan kemudahan kepada peserta didik untuk belajar mandiri sesuai dengan kaidah untuk belajar kreatif  dan inovatif menggunakan berbagai media pembelajaran," jelas Prof. Anna.

Sementara itu, Prof. Tian Belawati melalui tema "Pembelajaran Kimia di Era Revolusi Industri 4.0" menyampaikan di era digital saat ini telah tersedia beragam pilihan platform pembelajaran kimia.

"Kuliah terbuka online dapat diakes dalam kerangka meningkatkan kemampuan keterampilan khusus termasuk sertifikasi untuk pengakuan di dunia kerja maupun pendidikan tinggi," ujar Prof. Tian.

Ketua Pelaksana Seminar Nasional Sandra Adji mengharapkan gelaran ini dapat memberikan kontribusi bagi dunia pendidikan Indonesia khususnya bidang studi Kimia.

"Kehadiran ilmu kimia telah membawa banyak manfaat dalam kehidupan kita. Kami berharap seminar pendidikan kimia ini dapat memberikan kontribusi strategis, tidak hanya bagi pendidik namun juga bagi masyarakat luas," tutup Sandra.

https://edukasi.kompas.com/read/2020/03/02/18101211/melarutkan-pembelajaran-kimia-dalam-semangat-merdeka-belajar

Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke